Rabu, 21 November 2012

reliabilitas



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa inggris evaluation yang dalam bahasa Indonesia berarti penilaian. Akar katanya adalah value yang berarti nilai.Dengan demikian secara harfiah, evaluasi pendidikan dapat di artikan sebagai penilaian dalam (bidang) pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.
Adapun dari segi istilah, evaluasi itu menunjuk kepada atau mengandung pengertian suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.Maka evaluasi pendidikan itu dapat di artikan sebagai suatu tindakan atau kegiatan atau suatu proses menentukan nilai dari segala sesuatu dalam dunia pendidikan (yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan yang terjadi di lapangan pendidikan). Atau singkatnya evaluasi pendidikan adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat di ketahui mutu atau hasil-hasilnya.
Sebelum melanjutkan pembicaraan tentang evaluasi pendidikan secara lebih luas dan mendalam, terlebih dahulu perlu di pahami bahwa dalam praktek sering kali terjadi kerancuan atau tumpang tindih dalam penggunaan istilah evaluasi, penilaian dan pengukuran.Kenyataan seperti itu memang dapat di pahami, mengigat bahwa di antara ketiga istilah tersebut saling terkait sehingga sulit untuk di bedakan.
Dalam evaluasi terdapat beberapa teknik pengujian reliabilitas tes hasil belajar di antaranya teknik pengujian reliabilitas tes hasil belajar bentuk obyektif yang akan kami bahas dalam makalah ini.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian reliabilitas ?
2.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi reliabilitas tes hasil belajar obyektif ?
3.      Bagaimana mencari besarnya reliabilitas?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Reliabilitas
Kata reliabillitas dalam bahasa Indonesia di ambil dari reliability dalam bahasa inggris, berasal dari kata, reliable yang artinya dapat di percaya. “reliabilitas” merupakan kata benda, sedangkan “reliable” merupakan kata sifat atau keadaan.
Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable).Walaupun reliabilitas mempunyai berbagai arti seperti kepercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan dan konsistensi, namun ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya.
Dari beberapa pengertian di atas jadi reliabilitas tes marupakan suatu alat ukur yang digunakan untuk mengetahui konsistensi pengukuran tes yang hasilnya menunjukan keajegan.Seorang dikatakan dapat di percaya apabila orang tersebut berbicara ajeg, tidak berubah-ubah pembicaraannya dari waktu ke waktu.Dalam sebuah tes pentingnya diamati keajegan dan kepastian tes tersebut dilihat dari hasil tes yang didapat.

1)      Arti Reliabilitas Bagi Sebuah Tes
Reliabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian reliabilitas tes,  berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes.
Sehubungan dengan reliabilitas ini, Scarvia B. Anderson dan kawan kawan menyatakan persyaratan bagi tes adalah validitas dan reliabilitas ini penting. Dalam hal ini validitas lebih penting, dan reliabilitas ini perlu, karena menyokong terbentuknya validitas. Sebuah tes mungkin reliabel tetapi tidak valid. Sebaliknya sebuah tes yang valid biasanya reliabel. Banyak hal yang mempengaruhi hasil tes, namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 3 hal :
a.       Hal yang berhubungan dengan tes itu sendiri, yaitu panjang tes dan kualitas butir butir soalnya. Tes yang terdiri dari banyak butir tentu saja lebih valid dibandingkan dengan tes yang hanya terdiri dari beberapa butir soal. Besarnya reliabilitas dengan pengaruh banyaknya soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus dari Spearman dan Brown :  
          
 
 Di mana : r
nn  =  besarnya koefisien reliabilitas sesudah tes tersebut ditambah butir soal yang baru
n =  berapa kali butir soal itu ditambah
 r =  besarnya koefisien reliabilitas sebelum butir butir soalnya ditambah  Penambahan butir soal tidak selalu menambah reliabilitas, adakalanya tidak berarti dan bahkan adakalanya merugikan.
b.      Hal yang berhubungan dengan tercoba ( testee ) Suatu tes yang dicobakan kepada kelompok yang terdiri dari banyak siswa akan memberikan keragaman hasil yang menggambarkan besar kecilnya reliabilitas tes.
c.       Berhubungan dengan penyelenggaraan tes Faktor penyelenggaraan tes yang bersifat administratif, sangat menentukan hasil tes. Contohnya pemberian petunjuk pengerjaan, pengawas yang tertib, dan suasana lingkungan dan tempat tes yang nyaman dan aman.

B.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas Tes Hasil Belajar Obyektif
·         Konstruksi item yang tidak tepat, sehingga tidak dapat mempunyai daya pembeda yang kuat.
·         Panjang/pendeknya suatu instrumen
·         Evaluasi yang surjektif akan menurunkan reliabilitas
·         Ketidaktepatan waktu yang diberikan
·         Kemampuan yang ada dalam kelompok
·         Luas/tidaknya sampel yang diambil.

C.    Cara - cara mencari reliabilitas
a.       Metode bentuk paralel 
Tes paralel atau tes ekuivalen adlah dua buah tes yang mempunyai kesamaan tujuan, tingkat kesukaran, dan susunan, tetapi butir butir soalnya berbeda. Dalam istilah inggris disebut alternate-forms method ( paralel forms ). Dengan menggunakan metode tes paralel ini pegetes harus menyiapkan dua buah tes, dan masing masing dicobkan kepada kelompok siswa yang sama. Oleh karena itu, ada orang yang  menyebutnya sebagai double test-double-trial method. Penggunaan metode ini baik karena siswa dihadapkan pada dua macam tes sehingga tidak ada faktor “masih ingat soalnya” yang dalam evaluasi disebut adanya practice-effect dan carry-over effect, artinya ada faktor yang dibawa oleh pengikut tes karena sudah mengerjakan tes tersebut.  Kelemahan dari metode ini adalah bahwa pengetes pekerjaannnya berat karena harus menyususn dua seri tes dan harus tersedia waktu yang lama untuk mencobakan dua kali tes.

b.      Metode tes ulang ( tes-retest method )
 Metode ini menggunakan satu tes tapi dicobakan dua kali, dapat disebut dengan single-test-double-trial method. Kemudian hasil dari kedua tes tersebut dihitung korelasinya. Pada umumnya hasil tes yang kedua cenderung lebih baik dari tes yang pertama. Hal ini tidak mengapa karena pengetes harus sadar akan adanya practice-effec dan carry-over effect. Yang penting adalah adanya kesejajaran hasil atau ketetapan hasil yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi yang tinggi. Metode ini juga disebut self-correlation method ( korelasi diri sendiri ) karena mengkorelasikan hasil dari tes yang sama. Kelemahan dari metode ini adalah tenggang waktu pemberian soal pertama dengan soal kedua. Jika tenggang waktu terlalu sempit, siswa masih banyak ingat materi. Sebaliknya jika tenggang waktu terlalu lama, maka faktor faktor atau kondisi tes sudah akan berbeda, dan siswa sendiri barangkali sudah mempelajari materi yang baru.

c.       Metode belah dua atau spilt-half method
 Metode menggunakan satu tes dan hanya dicobakan satu kali, disebut juga single-test-single-trial method. Berbeda dengan metode pertama dan kedua yang setelah diketemukan koefisien korelasi langsung ditafsirkan itulah koefisien reliabilitas, maka pada metode ketiga ini tidak dapat demikian. Pada waktu membelah dua dan mengkorelasikan dua belahan, baru diketahui reabilitas separo tes. Untuk mngetahui reabilitas seluruh tes harus digunakan rumus Spearman-Brown sebagai berikut :
 Dimana : R1/21/2 = korelasi antara skor skor setiap belahan tes
R11 = koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan 
Banyak pemakai metode ini salah membelah hasil tes pada waktu menganalisis. Mereka mengelompokkan hasil separo subjek peserta tes dan separo yang lain kemudian hasil kedua kelompok ini dikorelasikan. Yang benar adalah membelah item atau butir soal. Untuk itu perlu diketahui bahwa jumlah soal harus genap agar dapat dibelah. 
Ada dua cara membelah butir soal ini yaitu : Membelah item-item genap dan item-item ganjil yang selanjutnya disebut belahan ganjil-genap, dan Membelah atas item-item awal dan item-item akhir dari soal, yaitu separuh jumlah soal pada nomor nomor awal dan separo jumlah soal pada nomor akhir yang selanjutnya disebut belahan awal-akhir.

Berikut ini akan dikemukakan contoh perhitungan reliabilitas.
1.      Pembelahan genap ganjil atau think belah Dua (Split-half method)
Metode atau teknik belah dua menggunakan formula Spearman-Brown, cara ini hanya dapat dikenakan pada instrumen pengukuran dengan jumlah item genap (pengelompokan dilakukan pada item-item yang valid),adapun langkah-langkahnya adalah sbb :
q  Kelompokan item-item menjadi dua kelompok didasarkan pada kelompok ganjil (nomor item ganjil) dan kelompok genap (nomor item genap), atau secara random.
q  Jumlahkan skor pada setiap kelompok sehingga diperoleh skor total untuk tiap kelompok.
q  Korelasikan skor total antar kelompok  dengan formula korelasi Product moment atau tata jenjang.
q  Masukan nilai koefisien korelasi tersebut ke dalam rumus Sperman-Brown untuk mencari koefisien reliabilitas


 





ri  = koefisien reliabilitas; rb = koefisien korelasi antar kelompok
Contoh perhitungan :
Tabel nilai skor total kelompok ganjil dan genap
Resp
Skor total kelompok ganjil
Skor total kelompok genap
A
20
20
B
25
24
C
21
21
D
23
23
E
22
21
F
21
21
G
24
24
H
26
26
I
21
20
J
22
22
Hasil perhitingan korelasi r  =  0.970
Koefisien/angka reliabilitasnya adalah :

ri    =   2  x  0.970
        1 +  0.970

ri    =   1.940
        1.970

ri    =  0.985

2.      Formula Rulon
Cara ini juga hanya berlaku pada pengelompokan seperti treknik belah dua, namun estimasi reliabilitas tidak didasarkan pada perhitungan korelasi melainkan pada varians perbedaan skor dengan varians total, adapun rumusnya adalah sebagai berikut :
Text Box:                                    SDb2   
rxx’    =         1  --
                         SDt2
                                   




rxx’  = Koefisien reliabilitas ; SDb2   = Varians perbedaan skor belahan ; SDt2 =  Varians skor Total

Contoh perhitungan :
             Tabel nilai skor total kelompok ganjil dan genap
Resp
Skor total kelompok ganjil
Skor total kelompok genap
Skor b (selisih ganjil genap)
Skor total

A
20
20
0
40
B
25
24
1
49
C
21
21
0
42
D
23
23
0
46
E
22
21
1
43
F
21
21
0
42
G
24
24
0
48
H
26
26
0
52
I
21
20
1
41
J
22
22
0
44
Rumus mencari Varians :
                 ΣX2(ΣX )2
                             N
                                 N  - 1
 
Hasil perhitungan varians menunjukan :
SDb2 = 0.233      SDt2  =  15.344
Koefisien reliabilitasnya adalah  :
                                   0.233  
rxx’    =         1  --
                                 15.344
rxx’    =         1   --        0.015    =    0.984

3.      Formula Flanagan
Formula Flanagan merupakan estimasi nilai/angka reliabilitas yang tidak mengacu pada perhitungan korelasi, melainkan sama seperti formula Rulon yang mengacu pada veriansi tiap-tiap kelompok hasil belah dua, bedanya dalam formula ini ada nilai konstanta 2 serta varians kelompok dijumlahkan dan bukan varians beda, sementara pembaginya sama yaitu varians total.
Text Box:                                    S12  +  S22    
rxx’    =        2 (1  --                        )
                             St2
Rumus :      


 



S12   = Varians belahan pertama 
S22   =  Varians belahan kedua
 St2   =  Varians total
Contoh perhitungan :
             Tabel nilai skor ganjil dan genap dan skor total
Resp
Skor total kelompok ganjil
Skor total kelompok genap
Skor total

A
20
20
40
B
25
24
49
C
21
21
42
D
23
23
46
E
22
21
43
F
21
21
42
G
24
24
48
H
26
26
52
I
21
20
41
J
22
22
44
S12  = 3.833
S22   = 3.956
St2   = 15.344
Bila nilai-nilai tersebut dimasukan dalam rumus, akan nampak sebagai berikut :
                               3.833  + 3.956    
rxx’    =        2 (1  --                           )
                                    15.344
rxx’    =        2 (0.492)   =  0.985

4.      Formula K-R 21 (Kuder Richardson)
Formula K-R merupakan prosedur pencarian nilai reliabilitas dengan tidak mensyaratkan pembelahan item ke dalam dua kelompok, sehingga bisa diterapkan pada instrumen yang jumlah itemnya tidak genap.
Text Box:                    k                      M (k – M)  
rxx’  =     (             )   (1 --                      )
      k  -  1                     kSDt2
Rumus : 
                                                                                                  




M            =   Mean/rata-rata skor total
k             =  kelompok/banyaknya item
SDt2          =   Varians total
Contoh perhitungan  :
Tabel skor tiap item dan Total
Resp
Nomor Item
Jml
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
4
2
2
4
2
3
2
3
3
3
28
B
2
2
2
3
2
2
2
3
2
2
22
C
3
2
2
3
2
3
2
3
3
3
26
D
3
4
3
3
3
3
3
4
3
3
32
E
3
4
4
4
4
4
3
4
4
4
38
F
2
4
4
4
4
4
2
4
4
4
36
G
2
2
2
2
2
3
2
2
2
2
21
H
4
2
2
4
2
3
2
3
3
3
28
I
3
2
2
3
2
3
2
3
2
2
24
J
4
4
4
4
3
4
2
4
3
4
36
M              =   2.91
SDt2      =    37.433
k          =  10
masukan nilai-nilai di atas ke dalam rumus

                   10                 2.91(10 – 2.91) 
rxx’  =     (             )  (1 --                           )
                    9                       37.433
                  
rxx’  =     ( 1.11 )   (1 --    20.631    )
                                        37.433
rxx’  =     0.498

5.      Rumus Alpha (Cronbach)
Formula Alpha juga merupakan prosedur pencarian nilai reliabilitas dengan tidak mensyaratkan pembelahan item ke dalam dua kelompok (meski bisa juga diterapkan pada teknik belah dua), sehingga bisa diterapkan pada instrumen yang jumlah itemnya tidak genap. Namun hal yang perlu diingat adalah bahwa pembelahan mesti dilakukan secara seimbang, sebab  jika dibelah tidak seimbang akan underestimasi terhadap nilai reliabilitas yang sebenarnya (biasanya lebih rendah).
Rumus :


 





SDb2   = Varians skor kelompok ; SDt2  =  Varians skor Total;  K = Kelompok/jumlah item
Sebagai contoh terdapat 10 item yang ingin dibelah menjadi lima kelompok secara berurutan, untuk itu jumlah tiap-tiap kelompok harus diketahui untuk dicari variansnya, sesudah itu baru dimasukan ke dalam rumus Alpha.
Contoh perhitungan  :
Tabel skor tiap item, skor kelompok, skorTotal
Res
No Item dan Jml tiap kelompok
Tot.
Jml
1
2
jml
3
4
jml
5
6
jml
7
8
jml
9
10
jml
A
4
2
6
2
4
6
2
3
5
2
3
5
3
3
6
28
B
2
2
4
2
3
5
2
2
4
2
3
5
2
2
4
22
C
3
2
5
2
3
5
2
3
5
2
3
5
3
3
6
26
D
3
4
7
3
3
6
3
3
6
3
4
7
3
3
6
32
E
3
4
7
4
4
8
4
4
8
3
4
7
4
4
8
38
F
2
4
6
4
4
8
4
4
8
2
4
6
4
4
8
36
G
2
2
4
2
2
4
2
3
5
2
2
4
2
2
4
21
H
4
2
6
2
4
6
2
3
5
2
3
5
3
3
6
28
I
3
2
5
2
3
5
2
3
5
2
3
5
2
2
4
24
J
4
4
8
4
4
8
3
4
7
2
4
6
3
4
7
36

SDt2      =    37.433 ;  k  =  10 ; SDb21 =  1.733 ; SDb22  =   2.1  ;   SDb23  = 1.956 ;      SDb24 =  0.944  ;  SDb25  =  2.322

                   5                   1.733 + 2.1 + 1.956 + 0.944 + 2.322 
a   =     (             )  (1 --                                                         )
                    4                                  37.433
                                            9.055 
a   =     (  1.25  )  (1 --                      )
                                            37.433
a   =     (  1.25  )  (0.758)   =   0.948

Standar Reliabilitas
Besarnya nilai reliabilitas yang bisa diterima sebagai estimasi yang signifikan terhadap reliabilitas yang sebenarnya merupakan masalah yang banyak dibicarakan oleh para pakar, pada dasarnya semakin besar koefisien reliabilitas, semakin baik, namun permasalahannya terletak pada berapa besarnya nilai yang memadai. Dalam hubungan ini banyak pengarang yang memberikan patokan umum tentang standar minimum tingkat nilai koefisien reliabilitas. Nunnallydalam bukunya  Psychometric Theory sebagaimana dikutif oleh ElazarJ. Pedhazur menyatakan bahwa koefisien yang relatif rendah dapat ditoleransi dalam tingkatan penelitian awal, reliabilitas yang lebih tinggi diperlukan jika pengukuran dipakai untuk menentukan perbedaan antar kelompok, dan reliabilitas yang sangat tinggi menjadi esensil jika skor-skor dipakai untuk membuat keputusan penting tentang keputusan dalam seleksi dan penempatan). Lebih jauh Nunnally menyatakan bahwa untuk penelitian awal koefisien reliabilitas 0.60 atau 0.50 sudah cukup, sementara itu Caplan, Naidu dan Tripathi dalam tulisannya pada Journal of health and social behaviour (1984) menyatakan bahwa koefisien alpha 0.50 atau lebih dianggap cukup untuk suatu tujuan penelitian. Disamping pendapat tersebut ada juga akhli yang menggunakan harga kritik nilai tabel korelasi Product Moment (seperti Chabib Thaha dalam bukunya Teknik Evaluasi Pendidikan), sehingga nilai reliabilitas yang diperoleh dibandingkan dengan r tabel, bila lebih besar berarti instrumen pengukuran tersebut reliabel, sedang bila lebih kecil dari r tabel berarti instrumen pengukuran tersebut tidak reliabel.

Contoh lain  perhitungan reliabilitas dengan metode belah dua :
NAMA
nomor item
SKOR
1,3,5,7,9
2,4,6,8,10
1,2,3,4,5
6,7,8,9,10

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
TOTAL
GANJIL
GENAP
AWAL
AKHIR
TATI
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
8
5
3
3
5
YOYO
0
0
1
0
1
0
0
1
1
1
5
3
2
2
3
OKTAF
0
1
0
0
0
1
0
1
0
1
4
0
4
1
3
WENDI
1
1
0
0
1
1
0
0
1
0
5
3
2
3
2
DINA
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
6
3
3
5
1
PAUL
1
0
1
0
1
0
1
0
0
0
4
0
0
3
1
SUSI
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
7
3
3
5
2
HELEN
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
8
5
5
3
5






















Penyajian contoh membelah di atas berarti bahwa perhitungan reliabilitas dilakukan dengan membelah dengan dua cara. Pembelahan hanya memilih satu cara saja, untuk selanjutnya di hitung dengan korelasi product moment.
1)      Pembelahan ganjil-genap
Tabel persiapan perhitungan reliabilitas dengan belah dua ganjil-genap sebagai berikut :
NAMA
1,3,5,7,9
2,4,6,8,10
XY
X2
Y2

GANJIL
GENAP



TATI
5
3
15
25
9
YOYO
3
2
6
9
4
OKTAF
0
4
0
0
16
WENDI
3
2
6
9
4
DINA
3
3
9
9
9
PAUL
0
0
0
0
0
SUSI
3
3
9
9
9
HELEN
5
5
25
25
25

22
22
70
86
76

Kelanjutan dari tabel ini adalah menghitung dengan rumus korelasi
product moment
. Dengan menggunakan kalkulator didapat bahwa :
∑X = 25                  ∑X2= 93 
∑Y = 22                  ∑Y2= 76 
∑XY = 63
 Setelah di hitung dengan rumus korelasi product moment dengan angka kasar diketahui bahwa rxy = -0,3786. Harga tersebut baru menunjukkan reliabilitas separo tes. Untuk mencari reliabilitas seluruh tes digunakan rumus Spearman-Brown.

*) pengurangan merupakan bilangan dengan harga mutlak, jadi tidak mengenal negative.
2)      Pembelahan awal akhir

1,2,3,4,5
6,7,8,9,10




AWAL
AKHIR
XY
X2
Y2
TATI
3
5
15
9
25
YOYO
2
3
6
4
9
OKTAF
1
3
3
1
9
WENDI
3
2
6
9
4
DINA
5
1
5
25
1
PAUL
3
1
3
9
1
SUSI
5
2
10
25
4
HELEN
3
5
15
9
25

25
22
63
91
78

Seperti halnya pada waktu menghitung dengan belahan ganjil-genap maka kelanjutannya adalah menghitung dengan korelasi product moment.   Dengan kalkulator diketahui :
∑X = 25                                 ∑X2= 91 
∑Y = 22                                 ∑Y2= 78                              ∑XY = 63
Setelah dimasukkan pada rumus korelasi product moment dengan angka kasar diperoleh r1/2 1/2 = - 0,3831. Dengan rumus Spearman-Brown diperoleh r11 = -0,5538. Selain menggunakan rumus product moment, dapat digunakan rumus Flanagan untuk perhitungan menggunakan belah dua ganjil-genap, dan rumus Rulon yang rumusnya diterapkan pada data belahan awal-akhir.
2)      Penggunaan rumus Flanagan
)

Dimana :
r11 = reliabilitas tes
 = varians belahan pertama (1) yang dalam hal ini varians skor item ganjil
= varians belahan kedua (2) yaitu varians skor item genap
 = varians total yaitu varians skor total
Secara sederhana dapat dipahami bahwa varians adalah standar deviasi kuadrat. Dengan menggunakan kalkulator statistik, varians ini dapat dicari dengan mengkuadratkan standar deviasi. Untuk yang tidak menggunakan kalkulator statistik, dapat menggunakan rumus :

Standar Deviasi (SD) dapat disebut dengan istilah Indonesia yaitu Simpangan Baku (SB). Dalam kalkultor statistik, standar eviasi tertera dengan lambang σ.
 Bagi yang berminat mencari S dulu untuk mencari varians, dapat menggunakan rumus S, yaitu :
 
S = Standar deviasi
X = Simpangan, X dari  yang dicari dari X - X
S2= varians, selalu dituliskan dalam bentuk kuadrat, karena standar deviasi kuadrat
N = banyaknya subjek pengikut tes
Berdasarka table di atas perhitungan sebagai berikut:
NAMA
1,3,5,7,9
2,4,6,8,10

GANJIL
GENAP
TATI
3
5
YOYO
2
3
OKTAF
1
3
WENDI
3
2
DINA
5
1
PAUL
3
1
SUSI
5
2
HELEN
3
5

Di masukan kedalam rumus :
 = 1,859
=1,937

= 2,36
)
= -2(1 – 1,609)
= -1,218

3)      Penggunaan Rumus Rulon
Rumus
Dimana
 = variasi beda
d = defference yang membedakan antara skor belahan pertama (awal) dan kedua (akhir)

1,2,3,4,5
6,7,8,9,10
d

AWAL
AKHIR
TATI
3
5
-2
YOYO
2
3
-1
OKTAF
1
3
-2
WENDI
3
2
1
DINA
5
1
4
PAUL
3
1
2
SUSI
5
2
3
HELEN
3
5
-3
Dengan kalkulator diketahui:
∑d = 3        


= 5,234
Di rumuskan rolun
Dari perhitungan Flanegan maupun Rulon ternyata hasilnya sama, keduanya lebih besar dari 1. Secara teoritik koefisien ini salah tetapi karena pembulatan dalam perhitungan, hasil seperti ini dapat saja terjadi.

4)      Penggunaan Rumus K-R. 20
Rumus :
P = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar (q= 1-p)
 = jumlah hasil perkalian antara p dan q
= banyak item
S = Standar deviasi dari te

NAMA
nomor item
SKOR

1
2
3
4
5
6
7
TOTAL
TATI
1
0
1
0
1
1
1
8
YOYO
0
0
1
0
1
0
0
5
OKTAF
0
1
0
0
0
1
0
4
WENDI
1
1
0
0
1
1
0
5
DINA
1
1
1
1
1
1
0
6
PAUL
1
0
1
0
1
0
1
4
SUSI
1
1
1
1
1
1
1
7
HELEN
0
1
0
1
1
1
1
835
2
5
4
7
10
4
3
35
p
0,2
0,5
0,4
0,7
1
0,4
0,3

q
0,8
0,5
0,6
0,3
0
0,6
0,7

pq
0,16
0,25
0,24
0,21
0
0,24
0,21
1,31

 

=
= 0,342
5)      Penggunaan Rumus K-R. 21
6)      Penggunaan rumus hyot
Teknik Pengujian Reliabilitas Hasil Belajar Bentuk Uraian
Dalalm rangka menentukan apakah tes hasil belajar bentuk uraian yang disusun oleh seorang staf pengajar telah memiliki daya reliabilitas yang tinggi ataukah belum, pada- umumnya orang menggunakan sebuah rumus yang dikenal dengan nama Cronbach’s Alpha  atau Koefisien Alpha.
Menilai soal bentuk uraian berbeda dengan tes bentuk obyektif, yaitu soal yang terdiri dari butir-butir soal yang terdiri dari butir-butir soal yang dinilai hanya benar atau salah. Tes bentuk uraian menghendaki gradulasi, misalnya untuk penilaian butir soal nomer1, nilai terendah 0 tertinggi 30, tetapi butir soal nomer 2 nilai tertingginya adalah 45, sementara butir soal nomer 3, nilai tertinggi 25, dan sebagainya. 
Untuk keperluan mencari reliablitas soal keseluruhan perlu juga dilakukan analisis butir soal seperti halnya soal bentuk obyektif. Skor untuk masing-masing butir soal dicantumkan pada kolom item. Rumus yang digunakan adalah rumus Alpha. Adapun rumus alpha dimaksud adalah:

                   K                             ΣSDb2  
a   =    (              )         ( 1  --                 )
                K -  1                           SDt2

Selanjutnya dalam pemberian interprestasi terhadap koefisien reliaBilitas tes (r11) pada umumnya digunakan patokan sebagai sebagai berikut:
Apabila r11≥0,07 berati tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi. 
Apabila r11<0,07 berati tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya belum dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi.















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari makalah yang telah kami buat dapat disimpulkan bahwa :
1.      Reliabilitas tes marupakan suatu alat ukur yang digunakan untuk mengetahui konsistensi pengukuran tes yang hasilnya menunjukan keajegan.
2.      Secara umum, ada 3 hal yang mempengaruhi hasil tes yaitu
a)      Hal yang beruhubungan dengan tes itu sendiri (panjang tes dan kualitas tiap butir soalnya)
b)      Hal yang berhubungan dengan tercoba (testee)
c)      Hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan tes -
3.      Ada tiga pendekatan dalam mengestimasi relibilitas alat ukur itu, yaitu metode bentuk paralel, metode tes ulang dan metode belah dua. -
4.      Kelemahan kedua metode bentuk paralel dan metode tes ulang, diatasi dengan metode belah dua, karena pengets hanya menggunakan satu tes dan dilakukan satu kali saja.
5.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas Tes Hasil Belajar Obyektif
a.    Konstruksi item yang tidak tepat, sehingga tidak dapat mempunyai daya  pembeda yang kuat.
b.   Panjang/pendeknya suatu instrument.
c.    Evaluasi yang surjektif akan menurunkan reliabilitas.
d.   Ketidaktepatan waktu yang diberikan.
e.    Kemampuan yang ada dalam kelompok.
f.    Luas/tidaknya sampel yang diambil
6.      Cara Mencari Reliabilitas
a)      Bentuk Paralel
b)      Metode tes ulang
c)      Metode belah dua

DAFTAR PUSTAKA

·         Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan,Jakarta: Bumi Aksara.
·         Arifi, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
·         Sudijono, Anas. 2011. Evaluasi Pendidikan. Rajawali Pers: Jakarta
·         http://mshol.blogspot.com/2010_03_01_archive.html/30/10/2011/09:26



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar