Rabu, 21 November 2012

teori kepribadian humanistik


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Banyak sekali teori yang mengemukakan tentang kepribadian, akan tetapi dalam pembahasan makalah ini hanya akan membahas mengenai teori kepribadian Humanistic, Maslow, Dan Kelly. Dalam pandangan Humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka. Aliran Humanistik menyumbangkan arah yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia, disebut sebagai yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia. Maslow menekankan bahwa individu merupakan kesatuan yang terpadu dan terorganisasi. Kelly meyakini bahwa tidak ada kebenaran yang objektif dan kebenaran yang mutlak absolut.

B. Rumusan Masalah 
  1. Apa yang dimaksud dengan Teori Kepribadian Humanistik, dan Tokohnya?
  2. Apa pengertian Teori Kepribadian menurut Abraham Maslow?
  3. Apa pengertian Teori Kepribadian Kognitif George A. Kelly?

C. Tujuan Masalah 
  1. Mengetahui yang dimaksud dengan Teori Kepribadian Humanistik dan Tokohnya
  2. Mengetahui pengertian Teori Kepribadian Abraham Maslow
  3. Mengetahui pengertian Teori Kepribadian Kognitif George A. Kelly



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori Humanistik
Teori humanistik berkembang sejak tahun 1950-an sebagai teori yang menentang teori-teori psikoanalisis dan behavioristik. Serangan humanistik terhadap sua tyeori ini, adalah bahwa kedua-duanya bersifat “dehumanizing” (melecehkan nilai-nilai manusia). Teori freud di kritik, karena memandang tingkah laku manusia didominasi atau ditentukan oleh dorongan yang bersifat primitif, dan animalistik (hewani). Sementara behavioristik dikritik, karena teori ini terlalu asyik denagn penelitiannya terhadap binatang, dan memganalisis kepribadian secara pragmentaris. Kedua teori ini dikritik, karena memandang manusia sebagai bidak atau pion yang tak berdya dikontrololeh lingkungan dan  masa lalu, dan sedikit sekali kemampuan untuk mengarahkan diri.
Teori humanistik dipandang sebagai “third force” (kekuatan ketiga) dalam psikologi, dan merupakan alternatif dari kedua kekuatan  yang dewasa ini dominan (psikoanlisis dan behavioristik). Kekuatan ketiga ini disebut humanistik karena memiliki minat yang eksklusif terhadaf terhadap tingkah laku manusia. Humanistik dapat diartikan sebagai “Orientasi eoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik, khususnya terkait dengan free will (kemauan bebas) dan potensi untuk mengembangkan dirinya.
Para ahli teori humanistik memiliki pandangan yang optimistik terhadap hakikat manusia. Mereka meyakini bahwa:
1.      Manusia memeiliki dorongan bawaan untuk mengembangkan diri;
2.      Manusia memiliki kebebasan untuk merancang atau mengembangkan tingkah lakunya, dalam hal ini manusia bukan pion yang diatur sepenuhnya oleh lingkunagn;
3.      Manusia adalah mahluk rasional dan sadar, tidak dikuasai oleh ketidak sadaran, kebutuhan irasional, dan konflik.
Para ahli teori ini juga berpendapat bahwa pandangan manusia tentangdunia bersifat subjektiflebih penting dari realitas objektif. Jika anda berfikir bahwa anda bersifat sederhana (homely), cerdas (bright), atau pandai bergaul (sociable), maka keyakinan-keyakinan ini akan lebih mempengaruhi tingkah laku anda daripada realitas aktual tentang ketiga sifat tersebut.
Diantara para ahli humanisti yang dipandang paling berpengaruh adalah Carl R, Rogers dan Abraham Maslow.
B.     Uraian Materi
1.      Teori “Person Centered” Rogers
Rogeres adalah seorng peletak dasar dari gerakan potensi manusia, yang menekankan perkembangan pribadi melalui latihan sensitivitas, kelopok pertemuan, dan latihan lainnya yang ditujukan untuk membantu orang agar memiliki pribadi yang sehat. Dia membangun teorinya berdasarkan peraktik interaksi terapeutik dengan para pasiannya. Karena dia menekannkan teorinya kepada pandangan subjektif seseorang, maka teorinya dinamakan “Person Centered theory”.
a.       Konstruk (Aspek-aspek) kepribadian.
Rogers mengajukan dua konstruk pokok dalam teorinya, yaitu: organisme dan self
1.      Organisme
Organisme yaitu mahluk fisik (physical creature) dengan semua fungsi-fungsinya, baik fisik maupun psikis. Organisme ini juga merupakan locus (tempat) semua pengalaman, dan pengalaman ini merupakan persepsi seseorang tentang peristiwa-peristiwa yang yang terjadi dalam diri sendiri dan juga di dunia luar (external world). Totalitas pengalaman, baik yang disadari maupun tidak disadari membangun medan fenomenal (phenomenal field).
Medan fenomena seseorang tidak diketahui oleh orang lain, kecuali melalui inferensi empatik, itu pun tidak pernah diketahui secara sempurna. Hal ini menunjukan bahwa perilaku itu bukan fungsi (pengaruh) dari realitas eksternal, atau stimulus lingkungan, tetapi realitas subjektif atau medan fenomenal.
2.      Self
Self merupakan konstruk utama dalam teori kepribadian rogers, yang dewasa ini dikenal dengan “self concep’ ( konsep diri). Rogers mengartikannya sebagai “persepsi tentang karakteristi ‘I’ atau ‘ME’ dan persepsi tentang hubungan ‘i’ atau ‘me’ dengan orang lain atau berbagai aspek kehidupan, termasuk nilai-nilai yang terkait dengan persepsi tersebut’. Disrtikan juga sebagai “keyakinan tentang kenyataan, keunikan dan kualitas tingkah laku diri sendiri”. Konsep diri merupakan gambaran mental tentang diri sendiri, seperti “saya cantik”, “saya seorang pekerja yang jujur”, dan” saya seorang pelajar yang rajin”.
Hubungan natar “self concept” dengan organisme (actual experience) terjadi dalam dua kemungkinan, yaitu “coungruence” atau “ incongruence”. Kedu kemungkinan hubungan ini menetukan perkembangan kematangan, penyesuaian (adjustment), dan kesehatan mental (mental healtah).
Apabila anatar “self concept” dengan organisme terjadi kecocokan maka hubungan itu disebut kongruen, tetapi apabila terjadi diskrepansi (ketidak cocokan) maka hubungan itu disebut inkongruen. Contoh yang inkongruen: anda mungkin meyakini bahwa secara akademis anda seorang yang cerdas (self concept), namun ternyata nilai-nilai yang anda peroleh sebaliknya (organisme atau pengalaman nyata).
Suasana inkongruen menyebabkan seseorang mengalami sakit mental (mental illness), seperti merasa terancam, cemas, berprilaku defensif, dan berpikir yang kakau atau picik. Sedangkan kongruensi mengembangkan kesehatan mental atau penyesuaian psikologis. Ciri orang yang sehat psikologisnya adalah sebagai berikut:
1.      Dia mampu memperseoi dirinya, orang lain, dan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya secara objektif.
2.      Dia terbuka terhadap semua pengalaman karena tidak mengancam konsep dirinya.
3.      Dia mampu menggunakan semua pengalaman.
4.      Dia mampu mengembangkan dirinya ke arah aktualisai diri, “global of becoming”, atau “fully functionong person”.
Faktor-faktor yang diyakini mempengaruhi anak tersebut adalah sebagai berikut:
a.        Faktor eksternal, terutama lingkungan keluarga: kondisi kesehatan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, iklim intelektual, dan ionteraksi sosial: dan
b.      Faktor internal: self-insight (understanding), self accept, tance atau self responsibility.
Pada dekade terakhir, William Kell, salah seorang murid rogers menggunakan pendekatan rogers dalam meneliti tingkah laku anak-anak yang menyimpang ( delinquent children). Hasilnya menunjukan bhawa yang menjdi faktor penentu secara signifikan ternyat bukan faktor lingkungan keluarga atau interaksi sosial, tetapi faktor “self insight”. Temuan ini lebih di perkokoh oleh temuan Helen Mc Nheil yang melakukan study atau penelitian reflikasi kepada subjek yang berbeda.

B .Dinamika kepribadian
Rogers meyakini bahwa manusia dimotivasi oleh kecenderungan atau kebutuhan untuk mengaktualisasikan, memelihara, dan meningkatkan dirinya. Kebutuhan ini bersifat bawaan sebagai dasar kebutuhan jiwa manusia, yang meliputi kebutuhan fisik dan psikis. Sebenarnya manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan lainnya namun itu semua tunduk kepada kebutuhan yang satu ini. Kebutuhan lainnya itu adalah “positive regard of others” dan “self regard”. Kedua kebutuhan ini bersifat dipelajari mulai usia dini, yaitu ketika bayi mendapat curahan cinta kasih, perawatan, dan” possitive regard” (penghargaan yang positif) dari orang lain (terutama orang tua).
Dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan fisik seperti makan dan minum, serta mempertahankan organisme dari serangan luar, mak motif aktualisasi diri memelihara organisme agar tetap survive. Disamping itu juga motif aktualisasi ini berfungsi untuk mendorong perkembangan manusia melalui diferensiasi organ-organ fisik, perkembanga fungsi-fungsi psikis, dan pertumbuhan seksual masa remaja.
C.     Perkembangan Kepribadian
Rogers (Yusuf Syamsu, 2007:147) tidak mengemukakan tahapan (stages) dalam perkembangan kepribadian. Dia lebih tertarik kepada cara-cara orang lain (orang tua) menilai anak, atau sikap dan perlakuan orang tua (terutama ibu) terhadap anak. Jika orang tua tidak mencurahkan “positive regard” (penerimaan, dan cinta kasih) bahkan menampilkan sikap penolakan terhadap anak, maka kecenderungan bawaan anak untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi terhambat. Anak mempersepsi penolakan orang tua terhadap tingkah lakunya sebagai penolakan terhadap perkembangan “self concept” nya yang baru. Apabila hal itu sering terjadi, anak akan mogok untuk berusaha menngaktualisasikan dirinya.

Secara ideal, anak mendapat kasih sayang dan penerimaan yang cukup pada setiap saat dari orang lain (orang tua). Kondisi ini disebut ‘uncoditional positive regard”. Kondisi ini mengimlikasikan bahwa cinta kasih ibu kepada anak tidak diberikan secara konditional, tetapi secara bebas dan penuh.
Secara gradual atau berangsur-angsur “positive regard” akan menjadi lebih mempribadi daripada yang berasal dari orang lain. Kondisi ini oleh Rogers dinamakan “positive self regard” . kondisi ini menjadi sekuat kebutuhan seseorang akan “positive regard” dari orang lain yang mungkin dapat dipuaskan dalam cara yang sama. Contoh: seorang anak yang mendapat peghargaan dari ibunya dengan cinta kasih, dan penerimaan ketika dia menjadi periang dapat menghasilkan “positive self regard”  kapan saja dia berprilaku menjadi periang. Dengan demikian anak mulai menghargai dirinya sendiri.
Standar pertimbangan eksternal (dari orang tua ) untuk menghargai atau menolaksuatu perilaku menjadi mempribadi pada diri anak, sehingga dia akan menghukum dirinya apabila dia melakukan sesuatu yang orang tua pun menghukumnya. Anak menginternalisasi norma atau standar orang tua dalam mempertimbangkan apakah dirinya berharga tau tidak berharga, baik atau buruk . Apabila orang tua mengembangkan kondisi yang tidak menghargai anak, maka anak akan terhambat untuk mengembangkan aktualisasi dirinya.
Anak yang dikembangkan dalam suasana yang “unconditional positive regard” akan mampu mengembangkan aktualisasi dirinya atau menjadi orang yang berfungsi penuh (fully functioning person). Menurut Rogers “fully functioning person” ini merupakan tujuan dari perkembangan seseorang. Orang yang telah mencapai “fully functioning person” ini memilki karakteristik pribadi sebagai berikut (Yusuf Syamsu, 2007:148) :
  1. Mem iliki kesadaran akan semua pengalaman. Tidak ada pengalaman yang ditolak, semuanya disaring melalui self. Bersikap terbuka baik terhadap perasaan yang positif (seperti keteguhan dan kelembutan hati), dan perasaan yang negatif (seperti rasa takut dan sakit).
  2. Mengalami kehidupan secara penuh dan pantas pada setiap saat. Berpartisipasi dalam kehidupan bukan sebagai pengamat.
  3. Memilki rasa percaya kepada dirinya sendiri, seperti dalam mereaksi atau merespon sesuatu. Dalam arti, dia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri berdasarkan data pengalaman yang diperoleh.
  4. Memiliki perasaan bebas untuk memilih tanpa hambatan apapun. Dia memahami bahwa masa depannya bergantung pada kegiatan atau aktivitasnya sendiri, bukan ditentukan oleh orang lain atau masa lalu.
  5. Menajalani kehidupan secara konstruktif dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan, serta berpikir kreatif.

D.    Riwayat Hidup Abraham Maslow
Abraham Harold Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April1908. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi Rusia dengan orangtua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Pada masa kecilnya, ia dikenal sebagai anak yang kurang berkembang dibanding anak lain sebayanya. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang anak Yahudi yang tumbuh dalam lingkungan yang mayoritas dihuni oleh non Yahudi. Ia merasa terisolasi dan tidak bahagia pada masa itu. Ia bertumbuh di perpustakaan di antara buku-buku. Ia awalnya berkuliah hukum, namunpada akhirnya, ia memilih untuk mempelajari psikologi dan lulus dari Universitas Wisconsin. Pada saat ia berkuliah, ia menikah dengan sepupunya yang bernama Bertha pada bulan desember 1928 dan bertemu dengan mentor utamanya yaitu profesor Harry Harlow.Ia memperoleh gelar bachelor pada 1930, master pada 1931, dan Ph.D pada 1934. Maslow kemudian memperdalam riset dan studinya di Universitas Columbia dan masih mendalami subjek yang sama. Di sana ia bertemu dengan mentornya yang lain yaitu AlfredAdler, salah satu kolega awal dari Sigmund Freud. Pada tahun 1937-1951, Maslow memperdalam ilmunya di Brooklyn College.
Di New York, ia bertemu dengan dua mentor lainnya yaitu Ruth Benedict seorang antropologis, dan Max Wertheimer seorang Gestalt psikolog, yang ia kagumi secara profesional maupun personal. Kedua orang inilah yang kemudian menjadi perhatian Maslow dalam mendalami perilaku manusia, kesehatan mental, dan potensi manusia. Ia menulis dalam subjek-subjek ini dengan mendalam. Tulisannya banyak meminjam dari gagasan-gagasan psikologi, namun dengan pengembangan yang signifikan. Penambahan tersebut khususnya mencakup hirarki kebutuhan, berbagai macam kebutuhan, aktualisasi diri seseorang, dan puncak dari pengalaman. Maslow menjadi pelopor aliran humanistik psikologi yang terbentuk pada sekitar tahun 1950 hingga 1960-an. Pada masa ini, ia dikenal sebagai "kekuatan ke tiga" di samping teori Freud dan behaviorisme.
Maslow menjadi profesor di Universitas Brandeis dari 1951 hingga 1969, danmenjabat ketua departemen psikologi di sana selama 10 tahun. Di sinilah iabertemu dengan Kurt Goldstein (yang memperkenalkan ide aktualisasi dirikepadanya) dan mulai menulis karya-karyanya sendiri. Di sini ia juga mulaimengembangkan konsep psikologi humanistik. Ia menghabiskan masa pensiunnya di California, sampai akhirnya ia meninggal karena serangan jantung pada 8 Juni 1970. Kemudian, Pada tahun 1967,Asosiasi Humanis Amerika menganugerahkan gelar Humanist of the Year.

E.     HOLISME DAN HUMANISME
Teori Abraham Maslow dimasukkan kedalam paradigma traits karena teori itu menekankan pentingnya peran kebutuhan dalam pembentukan kepribadian. Dalam hal ini kedudukan Maslow menjadi unik. Pada mulanya dia adalah pengikut setia John Watson, sehingga dapat dimasukkan kedalam kelompok behavioris. Namun kemudian menyadari bahwa behaviorisme dan psikoanalisis yang mengembangkan teori berdasarkan penelitian binatang dan orang neorotik, tidak berhasil menangkap keajaiban nilai-nilai kemanusiaan. Abraham Maslow akhirnya menjadi orang pertama yang memproklamirkan aliran humanistik sebagai kekuatan ketiga dalam psikologi (kekuatan pertama: psikoanalisis, dan kekuatan kedua: behaviorisme)

a)      HUMANISME
Humanisme menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri (self-realization). Humanisme menentang pesimisme dan keputus-asaan pandangan psikoanalitik dan konsep kehidupan "robot" pandangan behaviorisme. Humanisme yakin bahwa manusia memiliki didalam dirinya potensi untuk berkembang sehat dan kreatif, dan jika orang mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri, dia akan menyadari potensinya, mengatasi pengaruh kuat dari pendidikan orang tua, sekolah, dan tekanan sosial lainnya. Pandangan humanisme dalam kepribadian menekankan hal-hal berikut :

1.      Holisme
Holisme menegaskan bahwa organisme selalu bertingkah laku sebagai kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagian/ komponen yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukan dua unsur yang terpisah tetapi bagian dari satu kesatuan, dan apa yang terjadi dibagian satu akan mempengaruhi bagian lain. Hukum yang berlaku umum mengatur fungsi setiap bagian. Hukum inilah yang mestinya ditemukan agar dapat difahami berfungsinya tiap komponen.
Pandangan holistik dalam kepribadian, yang terpenting adalah ;
·         Kepribadian normal ditandai oleh unitas, integrasi, konsistensi, dan koherensi (unity, integration, consistency, dan coherence). Organisasi adalah keadaan normal, dan disorganisasi berarti patologik. 
·         Organisme dapat dianalisis dengan membedakan tiap bagiannya, tetapi tidak ada bagian yang dapat dipelajari dalam isolasi. Keseluruhan berfungsi menurut hukum-hukum yang tidak terdapat dalam bagian-bagian.
·         Organisme memiliki satu drive yang berkuasa yakni aktualisasi diri (self actualization). Orang berjuang tanpa henti (continous) untuk merealisasi potensi inheren yang dimilikinya pada ranah manapun yang terbuka baginya.
·         Pengaruh lingkungan eksternal pada perkembangan normal bersifat minimal. Potensi  organisme, jika bisa terkuak dilingkungan yang tepat, akan menghasilkan kepribadian yang sehat dan integral.
·         Penelitian yang komprehensif terhadap satu orang lebih berguna daripada penelitian ekstensif terhadap banyak orang mengenai fungsi psikologis yang diisolir.

2.      Menolak Riset Binatang
Psikologi humanistik menekankan perbedaan antara tingkah laku manusia dengan tingkah laku binatang. Riset binatang memandang manusia sebagai mesin dan mata rantai refleks-kondisioning, mengabaikan karateristik manusia yang unik seperti idea, nilai-nilai, keberanian, cinta, humor, cemburu, dosa, serta puisi, musik, ilmu, dan hasil kerja berfikir lainnya. Menurut Maslow, behaviorisme secara filosofis berpandangan dehumanisme.

3.      Manusia Pada Dasarnya Baik, Bukan Setan
Menurut Maslow, manusia memiliki struktur psikologi yang analog dengan struktur fisik: mereka memiliki "kebutuhan, kemampuan, dan kecenderungan yang sifat dasarnya genetik." Beberapa sifat menjadi ciri umum kemanusiaan, sifat-sifat lainnya menjadi ciri unik individual. Kebutuhan, kemampuan dan kecenderungan itu secara esensial sesuatu yang baik, atau paling tidak sesuatu yang netral, itu bukan setan. Pandangan Maslow ini menjadi pembaharuan terhadap pakar yang menganggap kebutuhan dan tendensi manusia itu buruk atau antisosial (misalnya, apa yang disebut dosa warisan oleh ahli agamadan konsep id dari Freud). Sifat setan yang jahat, destruktif dan kekerasan adalah hasil dari frustasi atau kegagalan memuaskan kebutuhan dasar, dan bukan bagian dari hereditas. Manusia mempunyai struktur yang potensial untuk berkembang positif.

4.      Potensi Kreatif
Kreatifitas merupakan ciri universal manusia, sejak dilahirkan. Itu adalah sifat alami, sama dengan sifat biji yang menumbuhkan daun, burung yang terbang, maka manusia kreatif. Kreativitas adalah potensi semua orang, yang tidak memerlukan bakat dan kemampuan yang khusus. Sayangnya, umumnya orang justru kehilangan kreativitas ini karena proses pembudayaan (enculturated). Termasuk didalamnya pendidikan formal, yang memasung kreativitas dengan menuntut keseragaman berfikir kepada semua siswanya. Hanya sedikit orang yang kemudian menemukan kembali potensi kreatif yang segar, naif, dan langsung, dalam memandang segala sesuatu.

5.      Menekankan Kesehatan Psikologik
Pendekatan humanistik mengarahkan pusat perhatiannya kepada manuasia sehat, kreatif dan mampu mengaktualisasi diri. Maslow berpendapat psikopatologi umumnya hasil dari penolakan, frustasi atau penyimpangan dari hakikat alami seseorang. Dalam pandangan ini, apa yang baik adalah semua yang memajukan aktualisasi diri, dan yang buruk atau abnormal adalah segala hal yang menggagalkan atau menghambat atau menolak kemanusiaan sebagai hakikat alami. Karena itu, Psikoterapi adalah usaha mengembalikan orang ke jalur aktualisasi dirinya dan berkembang sepanjang lintasan yang diatur oleh alam didalam dirinya. Teori psikoanalisis tidak komprehensif karena didasarkan pada tingkah laku abnormal atau tingkah laku sakit. Maslow berpendapat bahwa penelitian terhadap orang lumpuh dan neorotik hanya akan menghasilkan psikologi "lumpuh" karena itu dia justru meneliti orang yang berhasil merealisasikan potensi secara utuh, memiliki aktualisasi diri, memakai dan mengeksploitasi sepenuhnya bakat, kapasitas dan potensinya. Objek penelitiannya adalah orang-orang yang terkenal, tokoh-tokoh idola yang kreativitas dan aktualisasi dirinya mendapat pengakuan dari masyarakat luas, misalnya: Eleanor Roosevelt, Albert Einstein, Walt Whiteman, dan Ludwig Bethoven.

F.      MOTIVASI : TEORI HIRARKI KEBUTUHAN
Maslow menyusun teori motivasi manusia, dimana variasi kebutuhan manusia dipandang tersusun dalam bentuk hirarki atau berjenjang. setiap. jenjang kebutuhan dapat dipenuhi hanya kalau jenjang sebelumnya telah (relatif) terpuaskan. Hubungan Antar Kebutuhan Jenjang motivasi bersifat mengikat, maksudnya; kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah harus relatif terpuaskan sebelum orang menyadari atau dimotivasi oleh kebutuhan yang jenjangnya lebih tinggi. Jadi, kebutuhan fisiologis harus terpuaskan lebih dahulu sebelum muncul kebutuhan rasa aman. Sesudah kebuutuhan fisiologis dan rasa aman terpuaskan, baru muncul kebutuhan kasih sayang, begitu seterusnya sampai kebutuhan dasar terpuaskan, -baru akan muncul kebutuhan meta.

a.      Kebutuhuan Rendah versus Kebutuhan Tinggi
Pada umumnya kebutuhan yang lebih mempunyai kekuatan atau kecenderungan yang lebih untuk di prioritaskan.
Perbandingan antara kebutuhan-kebutuhan itu dipostulatkan oleh Moskow sebagai berikut :
  1. Kebutuhan meta muncul belakangan dalam evolusi perkembangan manusia. Semua makhluk hidup membutuhkan makan dan minum tetapi hanya manusia yang memiliki aktualisasi diri, mengetahui dan memahami.
  2. Kebutuhan yang lebih tinggi muncul belakangan dalam perkembangan individu. Aktualisasi diri mungkin baru akan muncul pada usia pertengahan. Bayi hanya memiliki kebutuhan fisiologis dan keamanan dan pada masa adolesen muncul belonging, cinta dan esteem.
  3. Kebutuhan yang semakin lebih tinggi, semakin kurang kaitannya dengan usaha mempertahankan kehidupan, perolehan kepuasannya bisa ditunda semakin lama. Gagal memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi tidak mengakibatkan keadaan darurat atau reaksi krisis seperti pada kegagalan memuaskan kebetuhan yang lebih rendah.
  4. Kebutuhan meta memberi sumbangan yang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang, dalam bentuk kesehatan yang lebih baik, usia panjang, dan memperluas efisiensi biologis. Karena alasan-alasan itulah kebutuhan meta disebut juga kebutuhan berkembang atau kebutuhan menjadi (growth need or being need).
  5. Kebutuhan yang lebih rendah hanya menghasilkan kepuasan biologis, sedang kebutuhan yang lebbih tinggi memberi keuntungan biologis dan psikologis karena menghasilkan kebahagiaan yang mendalam, kedamaian jiwa, dan keutuhan kehidupan batin.
  6. Kepuasan pada kebutuhan yang lebih tinggi melibatkan lebih banyak persyaratan dan lebih kompleks dibanding kepuasan pada tingkat yang lebih rendah. Misalnya, usaha memporoleh aktualisasi diri memerlukan prasyarat: semua kebutuhan sebelumnya telah dipuaskan dan melibatkan tingkah laku dan tujuan yang lebih rumit dan canggih dibanding usaha mendapat makanan.
  7. Kepuasan pada kebutuhan yang lebih tinggi memerlukan kondisi eksternal-sosial, ekonomi, politik- yang lebih baik dibanding kepuasan pada tingkat yang lebih rendah. Misalnya aktualisasi diri memerlukan kebebasan ekspresi dan memperoleh peluang dibanding kebutuhan rasa aman.

·         Kebutuhan Dasar 1: Kebutuhan Fisiologis
Umumnya kebutuhan fisiologis bersifat homeostatic (usaha menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik) seperti makan, minum, gula, garam, serta kebutuhan istirahat dan seks. Bisa terjadi kebutuhan fisiologis harus dipuaskan oleh pemuas yang seharusnya tetapi ada juga kebutuhan yang dapat dipuaskan dengan pemuas yang lain.

·         Kebutuhan Dasar 2: Kebutuhan Keamanan (Safety) 
Sesudah kebutuhan fisiologis terpuaskan secukupnya, muncul kebutuhan keamanan, stabilitas, proteksi, struktur hukum, keteraturan, batas, kebebasan dari rasa takut dan cemas. Kebutuhan fisiologis dan keamanan pada dasarnya adalah kebutuhan mempertahankan kehidupan. Kebutuhan fisiologis adalah pertahanan hidup jangka pendek, sedangkan keamanan adalah pertahanan hidup jangka panjang.
Kebutuhan keamanan sudah muncul sejak bayi, dalam bentuk menangis dan berteriak ketakutan karena perlakuan yang kasar. Pengasuhan yang bebas tidak mengenakan batasan-batasan, misalnya tidak mengatur interval kapan bayi tidur dan kapan makan, akan membuat bayi bingung dan takut, bayi tidak terpuaskan kebutuhan keamanan dan keselamatannya.
Menurut Maslow gejala neurotik obsesif –kompulsif banyak dilatarbelakangi oleh kegagalan memenuhi kebutuhan keamanan. Misalnya orang berulang-ulang meneliti pintunya sudah terkunci atau belum.

·         Kebutuhan Dasar 3: Kebutuhan Dimiliki dan Cinta (Belonging dan Love)  
Sesudah kebutuhan fisiologis dan keamanan relatif terpuaskan, kebutuhan dimiliki atau dari kelompok social dan cinta menjadi tujuan yang dominan. Maslow menolak pandangan Freud bahwa cinta adalah sublimasi dari insting seks. Menurutnya, cinta tidak sinonim dengan seks, cinta adalah hubungan sehat antara sepasang manusia yang melibatkan perasaan saling menghargai, menghormati, dan mempercayai.
Ada dua jenis cinta (dewasa) yakni Deficiency atau D-love dan Being atau B-love. Kebutuhan cinta karena kekurangan, itulah D-love; orang yang mencintai sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti harga diri, seks, atau seseorang yang membuat dirinya menjadi tidak sendirian. D-love adalah cinta yang mementingkan diri sendiri, lebih memperoleh daripada memberi. B-love di dasarkan pada penilaian mengenai orang lain apa adanya, tanpa keinginan memanfaatkan orang itu. Menurut Maslow, kegagalan memenuhi kebutuhan dimiliki dan cinta menjadi sebab hampir semua bentuk psikopatologi.

·         Kebutuhan Dasar 4: Kebutuhan Harga Diri (Self Esteem)
Manakala kebutuhan dimiliki dan cinta telah relatif terpuaskan, kekuatan motivasinya melemah, diganti motivasi harga diri. Ada dua jenis harga diri:
1.         Menghargai diri sendiri (self respect): orang membutuhkan pengetahuan tentang dirinya sendiri bahwa dirinya berharga, mampu menguasai tugas dan tantangan hidup.
2.         Mendapat penghargaan dari orang lain (respect from others): orang membutuhkan pengetahuan bahwa dirinya dikenal baik dan dinilai baik oleh orang lain.
Menurut Maslow, penghargaan dari orang lain hendaknya diperoleh berdasarkan penghargaan diri kepada diri sendiri.

·         Kebutuhan Meta: Kebutuhan Aktualisasi Diri
Akhirnya sesudah semua kebutuhan dasar terpenuhi, muncullah kebutuhan meta, kebutuhan menjadi sesuatu yang orang itu mampu mewujudkannya secara maksimal seluruh bakat-kemampuan-potensinya. Aktualisasi diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya sendiri untuk menjadi apa saja yang dia dapat melakukannya dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi potensinya.
Empat kebutuhan dasar adalah kebutuhan karena kekurangan atau D-need (deficiency need), sedangkan kebutuhan meta adalah kebutuhan karena ingin berkembang-ingin berubah, ingin mengalami trasformasi menjadi lebih bermakna atau B-need (being need). Menurut Maslow kebutuhan dasar berisi kebutuhan konatif sedangkan kebutuhan meta berisi kebutuhan estetik dan kebutuhan kognitif.
·         Kebutuhan Neurotik
Kepuasan kebutuhan hirarkis ( konatif ,estetis , kognetif ) menjadi dasar dari kesehatan fisik dan psikis seseorang, dan frustasi karena kegagalan memperoleh kepuasan akan menimbulkan gangguan , penyakit  pada saraf  tertentu . Maslow mengemukakan, manusia masih mempunyai satu kebutuhan, yakni kebutuhan neurotic, yang bekerja terpisah dari tiga kebutuhan itu .  Frustasi karena kebutuhan hirarkis tidak terpenuhi, dalam keadaan yang ekstrim dan berjangka lama dapat berubah menjadi kebutuhan neurotik.  Sesudah berubah wujud menjadi kebutuhan neuritik, kebutuhan ini membuat system sendiri yang terpisah dari sisten kebutuhan yang sehat.  Kebutuhan neurotic membuat orang mengalami stagnan atau patologis tidak peduli apakah kebutuhan itu terpenuhi atau tidak terpenuhi.
Kebutuhan neurotik bersifat nonproduktif, mengembangkan gaya hidup yang tidak sehat, gaya hidup yang tidak memiliki nilai dalam kaitan dengan perjuangan mencapai aktualisasi diri, gaya hidup reaktif, berperan sebagai kompensasi dari kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. Orang yang kebutuhan keamanannya tidak terpuaskan, mungkin mengembangkan keinginan yang kuat untuk menimbun uang dan harta benda.  Dorongan menimbun semacam itu adalah dorongan neurotik, tidak berharga sebagai motivator menuju kesehatan jiwa .

·         Mencapai Aktualisasi diri
Aktualisasi diri dapat dipandang sebagai kebutuhan tertinggi dari suatu hirarki kebutuhan, namun juga dapat di pandang sebagai tujuan final,tujuan ideal dari kehidupan manusia. Konsep tujuan hidup motivator ini mirip dengan konsep arsetif-self dari jung, kekuatan-kreatif-self dari adler, ataupun realisasi dari horney.  Menurut Maslow , tujuan aktualisasi diri itu bersifat alami, yang dibawa sejak lahir. 
Kebutuhan neurotik merupakan perkembangan kebutuhan yang menyimpang dari jalur alami. Menurut Maslow penolakan,frustasi,dan penyimpangan dari perkembangan hakekat alami akan menimbulkan psikopatologi. Dalam pandangan ini,apa yang baik adalah semua yang mendekat ke aktualisasi diri, dan yang buruk atau abnormal adalah segala hal yang menggagalkan atau menghambat atau menolak aktualisasi diri sebagai hakekat alami kemanusiaan. Karena itu psikoterapi adalah usia mengembalikan orang ke jalur aktualisasi dirinya dan perkembangan sepanjang lintasan yang diatur alam di dalam dirinya.

·         Pengembangan diri
Orang gagal mencapai aktualisasi diri karena mereka takut menyadari kelemahan dirinya sendiri. Maslow mengemukakan dua jalur untuk mencapai aktualisasi diri , yaitu: 1.  jalur belajar  (mengembangkan diri secara optimal pada semua tingkat kebutuhan hirarkis) , dan 2. Jalur pengalaman puncak.
Ada delapan model tingkahlaku yang harus di pelajari dan dilakukan agar orang dapat mencapai aktualisasi diri melalui jalur belajar-pengembangan diri,sebagai berikut:
v  Alami sesuatu dengan utuh , gambling, tanpa pamrih.
v  Hidup adalah perjalanan proses memilih antara keamanan(jauh dari rasa sakit dan kebutuhan bertahan) dengan resiko (demi kemajuan dan pengembangan).
v  Biarkan self  tegak.
v  Apabila ragu, jujurlah.
v  dengar dengan seleramu sendiri,bersiaplah untuk tidak popular.
v   Gunakan kecerdasanmu ,kerjakan sebaik mungkin apa yang ingin kamu kerjakan, apakah itu latihan jaru diatas tuas piano, mengingat setiap tulang-otot-hormon, atau belajar bagaimana  memelitur kayu sehingga menjadi halus seperti sutra.
v  Buatlah pengalaman puncak (peak experience ) seperti terjadi, buang ilusi, dan pandangan salah, pelajari apa yang kamu tidak bagus dan kamu tidak potensial.
v  Temukan siapa dirimu ,apa pekerjaanmu,apa yang kamu senangi dan apa yang tidak kamu senangi ,apa yang baik dan buruk bagimu,kemana kamu pergi,apa misimu.

·         Pengalaman Puncak (Peak Experience )
Maslow menemukan dalam penelitiannya bahwa banyak orang yang mencapai aktualisasi diri ternyata mengalami pengalaman puncak: suatu pengalaman mistik mengenai perasaan  dan sensasi yang mendalam , psikologik dan fisiologik. Suatu keadaan dimana seseorang mengalami ekstasi-keajaiban-terpesona-kebahagiaan yang luar biasa ,seperti pengalaman keilahian yang mendalam, dimana saat itu diri seperti hilang atau mengalami transendesi. Maslow menerima gambaran pengalaman puncak yang disusun oleh William james, sebagai berikut:
1.      Tak terlukiskan ( ineffability) : subjek sesudah mengalami pengalaman puncak segera mengatakan bahwa itu adalah ekspresi keajaiban, yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, yang dapat di jelaskan kepada orang lain.  
2.      Kualits kebenaran  intelektual (neotic quality) : pengalaman puncak adalah pengalaman menemukan kebenaran dari hakekat intelektual.
3.      Waktunya pendek(transiency) : keadaan mistis tidak bertahan lama. Umumnya hanya berlangsung 30 menit atau paling lama satu atau dua jam ( jarang sekali ada yang berlangsung lebih lama), pengalaman itu menjadi kabur dan orang kembali ke dunianya sehari-hari.
4.      Pasif (passivity) : orang yang mengalami pengalaman mistis merasa kemauan dirinya tergusur ( abeyance), dan terkadang dia merasa terperangkap dan dikuasai oleh kekuatan yang sangat besar.
Pada mulanya Maslow berpendapat bahwa pengalaman puncak ini hanya dapat dialami oleh orang-orang tertentu saja, khususnya mereka yang sudah mencapai aktualisasi diri akan mengalaminya secara teratur berkali-kali.  Pengaruh pengalaman puncak berjangka lama-tidak mudah hilang(lasting), antara lain:
1.      Hilangnya simptom neurotik.
2.      Kecenderungan meihat diri sendiri lebih sehat.
3.      Perubahan pandangan mengenai orang lain dan hubungan dirinya dengan mereka.
4.      Perubahan pandangan diri mengenai dunia.
5.      Munculnya kreativitas,spontanitas,dan kemampuan mengekspresikan diri.
6.      Kecenderungan mengingat pengalaman puncak itu dan berusaha mengulanginya.
7.      Kecenderungan melihat kehidupan secara umum sebagai hal yang lebih berharga.
Dapat disimpulkan aktualisasi diri yang dicapai melalui pengalaman puncak membuat orang lebih religius,mistikal,sholeh,dan indah (poetical) dibandingkan dengan aktualisasi yang diperoleh melalui pengembangan diri (yang lebih praktis, membumi, terikat dengan urusan keduniaan). Namun secara umum orang mencapai aktualisasi diri mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
1.Orentasinya realistic,memandang realitas secara efesien.
2. Menerima diri, orang lain, dan alam sekitar apa adanya.
3. Spontan,alami,sederhana.
4. Lebih memperhatikan masalah (problem –centered) alih-alih mempehatikan diri sendiri (self-centered).
5. Berpendirian kuat dan membutuhkan privacy.
6. Otonom dan bebas dari kultur lingkungan.
7. Memahami orang dan sesuatu secara segar dan tidak stereotip.
8. Memiliki pengalaman mistikal atau spiritual, walaupun tidak harus religious.
9. Mengenal harkat kemanusiaan, memiliki minat social (gemeinschaft).
10.Cenderung memiliki hubungan akrab dengan sedikit orang tercinta alih-alih hubungan  renggang dengan banyak orang.
11. Memiliki nilai dan sikap demokratis.
12. Tidak mengacaukan sarana dengan tujuan .
13. Rasa humornya filosofik, tidak berlebihan.
14. Sangat kreatif.
15. Menolak bersetuju dengan kultur .
16. Luluh dengan lingkungan alih-alih sekedar menanganinya.


G.    Kepribadian Sehat Menurut Maslow
Maslow berpendapat bahwa seseorang akan memiliki kepribadian yang sehat, apabila dia telah mampu untuk mengaktualisasikan dirinya secara penuh (self-actuaizing person). Dia mengungkapkan teori motivasi bagi self-actulizing person  dengan nama metamotivation. Meta-needs, B-motivation. Atau  being values (kebutuhan untk berkembang.
Dalam kaitannya dengan peran lingkungan, khususnya di sekolah dalam mengembangkan self-actualization, Maslow mengemukakan beberapa upaya yang sebaiknya dilakukan oleh sekolah (dalam hal ini guru-guru) yaitu sebagai berikut :
  1. membantu siswa menemukan identitasnya (jati dirinya) sendiri
  2. Membantu siswa untuk mengeksplorasi pekerjaan
  3. Membantu siswa untuk memehami keterbatasan (nasib) dirinya
  4. Membantu siswa untuk memperoleh pemahaman tentang nilai-nilai
  5. Membantu siswa agar memahami bahwa hidup ini berharga
  6. Mendorng siswa agar mencapai pengalaman puncak dalam kehidupannya
  7. Memfasilitasi siswa agar dapat memuaskan kebutuhan dasarnya (rasa aman, rasa berharga, dan rasa diakui).

H.    Biografi George Kelly
George Alexander Kelly lahir 28 April 1905, disebuha pertanian dekat Pert, Kansas, sebuah kota kecil yang hapir tak berpenghuni. George adalah putra tunggal pasangan Elfleda M. Kelly yang awalnya guru sekolah, dan Theodore V. Kelly, seorang pendeta Presbyterian. Sewaktu Kelly lahir, ayahnya berhenti dari pekerjaannya sebagai pendeta agar bisa menjadi petani di Kansas.
Saat Kelly berusia 4 tahun, keluarganya pindah ke Colorado timur, dimana ayahnya membuka lahan kosong sebagai milik mereka. Saat di Colorado Kelly masuk sekolah dengan tidak teratur, lebih sering tidak hadir daripada hari, hanya satu dua kali dalam beberapa minggu.
Kurangya sumber air membuat keluarga Kelly kembali lagi ke Kansas, dimana Kelly  masuk ke empat SMA yang berbeda selama empat tahun. Pada usia 13 tahun orangtuanya memutuskan untuk memindahkan Kelly ke Wichita. Sejak Lulus SMA, dia meghabiskan waktu tiga tahun di Friends University di Wichita dan satu tahun di Park College di Parkville, Missouri.
Kelly adalah pribadi dengan banyak minat yang beragam. Gelar sarjananya diperoleh di bidang fisika dan matematika dari College Park pada tahun 1926, diikuti dengan gelar master dalam sosiologi dari University of Kansas. Pindah ke Minnesota , dia mengajarkan berbicara di depan umum untuk organisasi buruh dan bankir dan kelas kewarganegaraan untuk imigran.
Dia pindah ke Sheldon , Iowa , tempat ia mengajar dan melatih drama di sebuah perguruan tinggi junior, dan bertemu dengan istrinya, Gladys Thompson. Setelah pekerjaan jangka pendek, ia menerima beasiswa untuk pergi ke University of Edinburgh, di mana ia menerima gelar sarjana pendidikan di psikologi. Pada tahun 1931, ia menerima gelar Ph.D dalam psikologi dari Universitas Negeri Iowa .
Kemudian, selama depresi, ia bekerja di Fort Hays Kansas State College , di mana ia mengembangkan teori dan teknik klinis. Selama Perang Dunia II, Kelly menjabat sebagai psikolog penerbangan dengan Angkatan Laut, diikuti oleh bertugas di University of Maryland selama setahun. Pada tahun 1946, dia memutuskan untuk bergabung dengan tawaran fakultas psikologi di Ohio State University untuk menjadi professor dan direktur klinik psikologi mereka.
Akhirnya pada tahun 1955 dia menerbitkan karyanya yang paling penting, The Psychology of Personal Construct. Buku ini mengandung seluruh aspek teori kepribadian Kelly, satu dari segelintir saja buku yang pernah diterbitkan semasa hidupnya.
Pada tahun 1965, ia mulai posisi penelitian di Brandeis University , di mana Maslow sedang bekerja. Kelly meninggal 6 Maret 1967 sebelum sempat menyelesaikan revisi teori konstrak pribadinya.

I.       Teori kepribadian kognitif George A. Kelly
Kelly meyakini bahwa tidak ada kebenaran yang objektif dan kebenaran yang mutlak absolut. Fenomena itu hanya berarti manakala dihubungkan dengan cara individu mengkonstruksi fenomena tersebut.
1. Pandangannya tentang manusia
Aliran ini memandang manusia sebagai berikut:
a. Manusia adalah scientist yang mencoba untuk memprediksi dan mengontrol fenomena/tingkah laku. Konsekuensi logis dari pandangan ini adalahsebagai berikut :
Manusia itu pada dasarnya berorientasi ke masa depan, yaitu mencapai masa depan yang lebih baik dari masa sekarang.
 Manusia memiliki kemampuan untuk mempresentasikan atau mengkonsep lingkungan dar pada hanya meresponnya..
b. Manusia itu bebas (free) tetapi juga terkungkung (determined). Sistem konstruk individu dilengkapi dengan kebebasan untuk mengambil keputusan (freedom of decision) dan keterbatasan bertindak (limitation of action), sebab dia tidak dapat membuat pilihan di luar alternatif-alternatif yang telah ditetapkannya.
2. Struktur kepribadian
Struktur kepribadian manusia adalah sistem konstruknya. Konstruk merupakan cara menafsirkan dunia/lingkungan. Konstruk merupakan konsep yang digunakan individu dalam menafsirkan, mengkategorisasikan, dan mempetakan tingkah laku. Individu mengantisipasi peristiwa dan menafsirkan jawabannya. Dia mengalami peristiwa dan menafsirkannya, kemudian menempatkan struktur dan pengertian atas peristiwa tersebut dalam mengamati peristiwa-peristiwa. Kelly mengukuhkan bahwa konstruk itu tersusun dari dua kutub atau kombinasi persamaan-perbedaan. 
Konstruk-konstruk itu dapat dikategorikan kedalam cara yang bervariasi, yaitu sebagai beriawkut:
1.      Core (inti), konstruk dasar dari fungsi individu
2.      Peripheral (pinggir, luar) konstruk yang dapat dirubah tanpa modifikasi mendasar, serius, dan konstruk inti
3.      Permeable (dapat ditembus), konstruk yang terbuka, dapat menerima element-element yang baru
4.      Impermeable (tak tembus/tertutup) konstruk ysng menolak element-element baru
5.      Verbal, konstruk yang mempunyai simbol kata yang konsisten/ajeg
3.Proses dinamika kepribadian
Dalam proses dinamika Kelly merumuskan suatu postulat/asumsi, bahwa “proses seseorang secara psikologis dijembatani oleh cara, dia mengantisipasi peristiwa”. Postal tersebut mengimplikasikan bahwa: 
·         Individu mencari/menyusun prediksi
·         Individu mengantisivasi peristiwa
·         Individu menggapai masa depan melalui jendela masa kini

4. Perkembangan kepribadian
Kelly menyatakan bahwa konstruk-konstruk itu berasal/bersumber dari usaha mengkonstruksi replikasi (jawaban-jawaban) atas peristiwa-peristiwa yang tejadi. Kelly berpendapat bahwa perkembangan itu ditekankan kepada konstruk preverbal pada masa invancy (bayi kanak-kanak) dan penafsiran budaya yang terlibat dalam proses harapan-harapan yang dipelajari/dialami.

5. Psychopatology
Kelly mendefinisikan psychopatology sebagai gangguan fungsi dalam menggunakan sistem konstruk terhadap peristiwa-peristiwa. Gangguan (disorder) dapat diartikan sebagai konstruk pribadi yang digunakan secara berulang-ulang karena perasaan dendam/benci yang tidak valid. Gangguan psikologis adalah gangguan yang melibatkan anxiety (cemas), lebih tepatnya usaha individu yang diulang untuk membangun kembali perasaan, sehingga mampu mengantisipasi peristiwa-peristiwa.

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Teori humanistik berkembang sekitar tahun 1950-an sebagai teori yang menentang teori-teori psikoanalisis dan behavioristik. Serangan humanistik terhadap dua teori ini adalah bahwa kedua-duanya bersifat “dehumanizing” (melecehkan nilai-nilai manusia). Teori humanistic dipandang sebagai “third force” (kekuatan ketiga) dalam psikologi, dan merupakan alternative dari kedua kekuatan yang dewasa ini dominan (psikoanalisis dan behavioristik). Kekuatan yang ketiga ini dinamakan humanistic karena memiliki minat yang eksklusif terhadap tingkah laku manusia. Humanistik dapat diartikan sebagai “orientasi teoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik, khususnya terkait dengan free will (kemauan bebas) dan potensi untuk mengembangkan dirinya”.
Teori kepribadian humanistik ini diajarkan oleh beberapa ahli di antaranya adalah Carl Rogers yang membagi aspek-aspek kepribadian menjadi dua yaitu organisme dan self. Menurut Maslow kepribadian manusia itu ditandai dengan terpenuhinya lima kebutuhan manusia yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan mencintai dan memiliki, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Sedangkan George A Kelly menganggap bahwa manusia adalah scietist yang mencoba untuk memprediksi dan mengontrol fenomena atau tingkah laku.
B.     Saran
Setelah mempelajari teori kepribadian humanistic ini, diharapkan agar supaya mahasiswa dapan mengetahui dan memahami masalah-masalah yang kami bahas dalam makalah ini. Seperti kebutuhan-kebutuhan manusia dan kepribadian humanistik menurut beberapa ahli. Tidak hanya memahami, sebagai seorang calon konselor hendaknya mampu menerapkan atau mengaplikasikan dalam proses kehidupan pribadi konselor serta pada kliennya.












DAFTAR PUSTAKA

·         Alwisol. 2006. Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Jakarta: UMM.
·         Ruswandi, Uus, Badrudin. 2010, pengembangan Kepribadian Guru.Bandung: CV. Insan Mandiri.
·         Yusuf, Samsu. 2008. Teori Kepribadian. Bandung : Rosda Karya
·         Koswara, E. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung: PT. Eresco


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar