Kamis, 12 Juli 2012

mensyukuri hidayah

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ (الأنعام: 111)

Analisis Lafadh

 

Malaikat. Kata “الْمَلَائِكَةَ” adalah bentuk jamak (plural) dari “الملك”, berasal dari kata “الألوكة” yang bermakna pesan/utusan. Menurut para ulama, malaikat adalah makhluk Allah swt. berupa materi yang sangat lembut dan diberi kemampuan untuk berubah ke berbagai bentuk, mereka hidup di langit. Merekalah yang mengemban tugas dari Allah swt. untuk mengatur alam semesta. Sehingga ada malaikat langit, petir, gunung, laut, dan sebagainya.

الْمَلَائِكَةَ

Orang-orang yang telah mati. Yaitu mereka yang sudah diketahui telah mati, dan didatangkan untuk mengabarkan apa yang telah mereka lihat dalam alam kematian.

الْمَوْتَى

Dan Kami kumpulkan.

وَحَشَرْنَا

Ke hadapan mereka. Kata ini berasal dari kata “القبلة” yang bermakna menghadap. Oleh karena itu, mereka bisa melihat dengan mata kepala mereka mukjizat-mukjizat yang mereka minta.

قُبُلًا

 

Tafsir dan Pelajaran yang Dipetik

1.    Ayat ini berbicara tentang orang-orang kafir yang sangat sulit mendapatkan hidayah dari Allah swt. Ketika menolak dakwah Rasulullah saw., mereka menyampaikan alasan-alasan yang dibuat-buat. Ayat ini membuktikan bahwa jika alasan tersebut tidak ada, mereka pun tetap tidak akan beriman. Sebab penolakan tersebut adalah karena mereka orang-orang bodoh. Alasan tersebut antara lain:

a.    Kenapa rasul berasal dari kalangan manusia seperti mereka, bukan dari kalangan malaikat.

b.    Mereka tidak percaya dengan alam kubur.

c.    Mereka ingin utusan Allah swt. membawa mukjizat-mukjizat yang luar biasa.

2.    Alasan pertama:

a.    Orang-orang kafir menolak dakwah Rasulullah saw. dengan alasan beliau adalah manusia biasa seperti mereka. Makan, minum, bekerja, dan sebagainya.

-          وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا [الإسراء: 93].

-          وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ [المؤمنون: 34]

-          وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا. [الفرقان: 7].

b.    Mereka ingin utusan itu berwujud malaikat, karena mereka lebih baik, sempurna, tidak berbuat kesalahan, dan dekat dengan Allah swt. Atau para malaikat datang untuk membuktikan kebenaran para rasul. Namun Allah swt. menjawab bahwa malaikat akan menjadi para rasul jika yang hidup di atas bumi ini adalah malaikat juga.

قُلْ لَوْ كَانَ فِي الْأَرْضِ مَلَائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ مَلَكًا رَسُولًا  [الإسراء: 95]

c.    Banyak sekali hikmah bahwa para rasul itu dari kalangan manusia:

-          Bisa diteladani oleh manusia, karena kesamaan bentuk, karakter, kebutuhan, kecenderungan, dan sebagainya. Jika rasul berupa malaikat, manusia tidak akan bisa meneladani karena malaikat tidak makan, minum, berbuat dosa, dan sebagainya.

-          Tidak ada alasan untuk menolak ajaran yang dibawa. Kalau rasul berupa malaikat, banyak manusia yang menolak ajaran dengan alasan rasul bisa melaksanakan kewajiban karena dia malaikat, sedangkan mereka bukan malaikat makanya tidak bisa melaksanakan.

-          Perbedaan yang sangat besar antara manusia dan malaikat. Tidak semua orang bisa berkomunikasi dengan malaikat. Hanya orang-orang pilihan saja yang bisa, yaitu para nabi yang merupakan manusia pilihan Allah swt. Hal itu dapat diketahui misalnya dalam kisah-kisah turunnya wahyu kepada Rasulullah saw.

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ [إبراهيم: 11]

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ [الكهف: 110].

3.    Alasan kedua:

a.      Mereka tidak percaya dengan hal-hal ghaib (yang tidak mereka tangkap dengan indera mereka). Misalnya kehidupan setelah kematian, diutusnya rasul, diturunkannya kitab, dan sebagainya. Pengetahuan mereka hanya terbatas apa yang mereka lihat di dunia saja. Selebihnya, mereka hanya menggunakan hawa nafsu.

-             أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ [ الرعد: 5]

-             أَيَعِدُكُمْ أَنَّكُمْ إِذَا مِتُّمْ وَكُنْتُمْ تُرَابًا وَعِظَامًا أَنَّكُمْ مُخْرَجُونَ [المؤمنون: 35]

-             وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآبَاؤُنَا أَئِنَّا لَمُخْرَجُونَ [النمل: 67]

-             وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ [الأنعام: 91]

-             وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا. فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. ذَلِكَ مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ. [النجم: 30].

b.    Padahal tidak semua yang tidak terlihat dan tertangkap dengan indera itu tidak ada. Karena kalau demikian, apakah kita akan menafikan adanya listrik, siaran radio dan televisi, telepon, sms, dan sebagainya.  

c.    Banyak sekali hal yang membuktikan adanya yang ghaib (Allah swt., alam akhirat, dan sebagainya).

-          Bukti adanya Allah swt. dan kekuasaan-Nya adalah penciptaan alam semesta yang sangat indah dan baik ini.

-          Bukti adanya alam akhirat adalah bahwa episode kehidupan manusia adalah tiada-ada-tiada-ada. Manusia sudah beramal kebaikan di dunia; pahalanya di akhirat. Banyak manusia berbuat kejahatan di dunia; balasannya di akhirat.

4.    Alasan ketiga:

a.    Mereka meminta para rasul menampakkan kejadian-kejadian luar biasa.

وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا (90) أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا (91) أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا (92) أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا (93) وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا (94)  [الإسراء: 90-94].

b.    Padahal bukti kenabian seorang nabi adalah lebih pada akhlaknya yang mulia. Karena orang yang berakhlak mulia:

-          Tidak akan berbohong ketika mengaku menjadi nabi.

-          Tidak akan mencelakakan kaumnya ketika memerintahkan sesuatu.

-          Akan berjuang dan berkorban untuk kebaikan kaumnya.

c.    Banyak orang yang kuat imannya masuk Islam karena akhlak Rasulullah saw., bukan karena mukjizat yang nampak pada diri beliau.

-          Ibunda Khadijah ra. Beliau mengetahui benar bagaimana akhlak mulia suaminya, misalnya menyambung tali kekerabatan, menanggung beban keluarga, menjamu tamu, membantu orang miskin, membantu dalam musibah, dan sebagainya. Saat beriman, beliau belum melihat satu mukjizat pun pada diri Rasulullah saw. Bahkan beliaulah yang menguatkan hati Rasulullah saw. ketika bimbang saat didatangi malaikat Jibril as.

-          Abu Bakar ra. Beliau adalah kawan karib Rasulullah saw. Tahu benar bagaimana kejujuran Rasulullah saw. Sehingga ketika mengaku menjadi nabi, Abu Bakar ra. langsung beriman dan mendakwahkan agama yang baru kepada musyrikin yang lain.

-          Raja Najasyi ra. Raja negeri Habasyah ini tidak pernah bertemu dengan Rasulullah saw. Namun ketika mendengarkan sifat-sifat dan perjalanan dakwah beliau, Najasyi langsung meyakini bahwa Muhammad saw. adalah penerus Isa as.

5.    Tiga hal itu di antara yang menjadi alasan orang-orang kafir tidak mau masuk Islam. Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa jika tiga hal di atas Allah swt. penuhi, niscaya mereka pun tetap tidak akan masuk Islam.

a.    Jika Allah swt. menurunkan para malaikat menjadi utusan Allah swt. di bumi. Seperti diketahui, para malaikat:

-          Tidak berbuat kekurangan.

مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ [التحريم: 6]

-          Tidak mempunyai syahwat makan, minum, seks, dan sebagainya.

-          Selalu dalam keadaan ibadah kepada Allah swt.

Walaupun terdapat keistimewaan-keistimewaan itu, mereka tetap tidak akan percaya terhadap apa yang mereka sampaikan.  

b.    Jika orang-orang yang sudah mati dibangkitkan lagi ke alam dunia untuk mengabarkan bahwa Rasulullah saw. adalah benar-benar utusan Allah swt.; bahwa semua yang dikabarkannya adalah benar. Dalam kondisi ini, mereka tetap tidak akan masuk Islam.

-          Padahal alam kubur dan sebagainya sudah tidak menjadi ghaib lagi karena sudah dikabarkan oleh orang yang merasakannya.

-          Orang-orang yang mengabarkannya juga sama dengan mereka, yang ketika masa hidupnya menolak dakwah Rasulullah saw. sehingga di alam kubur mendapatkan siksaan.

-          Mungkin saja orang yang dibangkitkan adalah ayah mereka sendiri yang sangat ingin anaknya selamat di akhirat.

c.    Jika Rasulullah saw. mendatangkan mukjizat-mukjizat yang mereka minta.

-          Mendatangkan mata air dan sungai.

-          Mendatangkan kebun kurma dan anggur.

-          Mendatangkan siksa Allah swt. dari langit.

-          Mendatangkan Allah swt. dan malaikat.

-          Mempunyai rumah yang indah.

-          Terbang ke langit. Dan sebagainya [Al-Isra: 90-94].

Walaupun semua itu sudah dihadirkan sebagai mukjizat, mereka pasti tidak akan beriman. Mereka pernah meminta mukjizat berupa membelah bulan. Namun setelah terbelah, mereka tetap kafir terhadap Rasulullah saw.

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ. وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ. وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ [القمر: 1-3].

6.    Semua itu karena ada penyakit hati dalam diri mereka, dan Allah swt. tidak memberi mereka hidayah. Hidayah ada dua macam:

a.    Hidayah Bayan. Yaitu bagaimana Allah swt. menerangkan dan membuktikan hal-hal yang harus diyakini. Semua orang mendapatkan hidayah ini, kecuali orang yang hidup di zaman-zaman kekosongan para rasul.

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ [فاطر: 24].

     Hal ini dengan cara:

-          mengirimkan para rasul

-          menurunkan kitab-kitab

-          menampakkan mukjizat-mukjizat

-          memberi mereka akal pikiran, dan sebagainya.

b.    Hidayah Taufiq. Yaitu bagaimana Allah swt. meletakkan keimanan dalam hati orang yang dikehendaik-Nya. Hidayah ini merupakan hak Allah swt.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ . [القصص: 56]

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ [الأعراف: 43].

7.    Dari keterangan di atas, dapat kita rasakan betapa mahalnya hidayah dari Allah swt. Oleh karena itu:

a.    Harus kita syukuri dengan beramal kebaikan.

b.    Harus selalu berdoa kepada Allah swt. untuk selalu diberi hidayah. Seperti diajarkan dalam surat Al-Fatihah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar