Kamis, 12 Juli 2012

Tafsir hadits_cinta Rasul kepada umatnya

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  [التوبة: 128]
Analisis Lafadh
Seorang rasul. Berasal dari kata رسل yang berarti bangkit dengan pelan-pelan. Kata ناقة رسلة bermakna unta yang bergerak dengan lembut. على رسلك artinya jangan buru-buru. Bisa juga bermakna pergi karena diutus, oleh karena itu kata رسول bermakna utusan. Dalam hal ini bisa digunakan untuk manusia, bisa juga untuk malaikat (ولما جاءت رسلنا إبراهيم بالبشرى). Bisa berarti meniupkan angin (إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ), menurunkan hujan (وأرسلنا السماء عليهم مدرارا), membebaskan setan tanpa larangan (ألم تر أنا أرسلنا الشياطين على الكافرين تؤزهم أزا), melepaskan dan tidak menahan (ما يفتح الله للناس من رحمة فلا ممسك لها وما يمسك فلا مرسل له من بعده).
رَسُولٌ
Berat terasa olehnya. Berasal dari kata “العزة” yang bermakna kondisi seseorang yang sulit dikalahkan. Kata أرض عزاز bermakna tanah yang kuat, keras. Allah swt. bersifat العزيز artinya mengalahkan dan tidak bisa dikalahkan, kuat dan tidak bisa dikalahkan (إنه هو العزيز الحكيم). Kata ini bisa untuk pujian, bisa juga untuk celaan (بل الذين كفروا في عزة وشقاق). Hal itu karena izzah Allah swt. adalah tetap dan abadi, sedangkan izzah selain Allah swt. bersifat sementara. Izzah selain karena Allah swt. adalah sebuah kehinaan كل عز ليس بالله فهو ذل”. Bisa juga bermakna sulit dan berat, seperti dalam ayat ini.
عَزِيزٌ عَلَيْهِ
Penderitaanmu. Berasal dari kata عنت yang bermakna terjebak dalam hal yang menghancurkan (ودوا ما عنتم). Bisa bermakna tunduk dan hina (وعنت الوجوه للحى القيوم).
مَا عَنِتُّمْ
Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Berasal dari kata حرص yang bermakna keinginan kuat, ambisi (ولتجدنهم أحرص الناس على حياة).
حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ
Amat belas kasihan. Belas kasihan. Kata berasal dari kata رؤف yang bermakna lembut hati dan menyayangi. Kata الرؤوف juga termasuk Al-Asma’ul Husna. Ada yang mengatakan, kata الرأفة adalah belas kasihan yang membuat seseorang menghindarkan orang yang lain dari kesulitan.
رَءُوفٌ
Lagi penyayang. Berasal dari kata رحم - رحمة yang berarti rasa sayang yang mendorong seseorang untuk berbuat baik kepada orang lain.
رَحِيمٌ

Tafsir dan Pelajaran yang Dipetik

1.    Firman Allah swt. (لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ).
Kedatangan Rasulullah saw. adalah nikmat dari Allah swt. karena beliau datang dari diri umatnya.
a.    Merupakan pengkabulan doa nabi Ibrahim as (رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ) “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka.” [Al-Baqarah: 129]. Doa pastilah permohonan sebuah kebaikan
b.    Apalagi di ayat lain, disebutkan jelas-jelas hal tersebut (لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ) “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri.” [Ali Imran: 164].
c.    Muhammad saw. adalah dari golongan mereka sendiri. Ini merupakan sebuah kebaikan  bagi mereka:
1)   Mudah memahami karena satu bahasa
2)   Mudah meneladaninya
3)   Tidak ada alasan untuk menolaknya
4)   Bisa melanjutkan dakwahnya
5)   mereka sudah tahu bagaimana asal-muasal Rasulullah saw.; keluarganya, masa pertumbuhannya hingga dewasa, sifat-sifatnya, dan sebagainya. Bahkan bahwa beliau adalah anak yang terlahir dari pernikahan yang sah, bukan dari perzinaan. Ini semua akan membuat orang-orang Arab itu tidak menaruh curiga sedikit pun terhadap Rasulullah saw. bahwa beliau adalah orang yang benar-benar baik, dan menginginkan kebaikan bagi mereka.
2.    Firman Allah swt. (عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ).
Rasulullah saw. sangat bersedih ketika melihat umatnya dalam keadaan  yang susah.
a.    Sedih ketika melihat ada umatnya merubah agama yang mudah ini menjadi sulit. Allah swt. berfirman (وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ) “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”[Al-Hajj: 78]. Sedangkan Rasulullah saw. bersabda ((إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ)) “Sesungguhnya agama ini adalah mudah.” [HR.Bukhari]. Oleh karena itu, agama Islam ini harus dipahami secara benar. Tidak dipersulit.
b.    Beliau juga sedih jika ada umatnya yang disiksa di neraka. Perlu dipahami, bahwa kata “umat Rasulullah saw.” tidak hanya meliputi orang yang beriman saja. Tapi meliputi semua orang yang hidup setelah beliau diangkat sebagai nabi dan rasul. Sehingga orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lain-lain adalah umat Rasulullah saw. juga. Beliau merasa sedih jika orang-orang itu tidak masuk Islam.
1)   Dalam Al-Qur’an disebutkan (لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ) “Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” [Asy-Syu’ara: 3]. Beliau sakit karena sedih memikirkan umatnya yang tidak masuk Islam.
2)   Dalam sebuah hadits disebutkan
إنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ النَّاسِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا، فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ جَعَلَ الفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي تَقَعُ فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا،
فَجَعَلَ يَنْزِعُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَقْتَحِمْنَ فِيهَا، فَأَنَا آخُذُ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، وَهُمْ يَقْتَحِمُونَ فِيهَا
“Perumpaanku adalah seperti seseorang yang menyalakan api unggun. Setelah api menyala, banyak binatang (laron) yang berhamburan menghinggapinya. Orang itu menghalau binatang-binatang itu agar tidak masuk ke dalam api. Tapi binatang-binatang itu mau dihalau, dan tetap ingin masuk api. Maka akhirnya mereka masuk api. Demikianlah, aku menghalau kalian dari masuk api neraka.” [HR. Bukhari dan Muslim].
c.    Beliau sama sekali tidak pernah marah dan menghardik
مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ،
فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ، إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Sungguh Rasulullah saw. tidak pernah memukul sesuatupun dengan tangannya. Tidak isterinya, pembantunya, kecuali jika sedang berjihad di jalan Allah swt. Ketika beliau disakiti, beliau tidak pernah membalas dendam kepada orang yang melakukannya. Kecuali jika yang dilanggar adalah kemuliaan Allah swt., maka beliau akan membalasnya karena Allah swt.
3.    Firman Allah swt. (حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ). Rasulullah saw. sangat menghendaki umatnya beriman. Keinginan inilah yang membuat beliau berjuang sedemikian rupa demi umatnya mendapatkan hidayah dari Allah swt.
a.    Beliau rela dihina, dikucilkan, disiksa, dan sebagainya demi umatnya mendapatkan kebaikan. Bisa dibayangkan beliau berbuat baik kepada mereka, tapi sebaliknya mereka berbuat keburukan kepada Rasulullah saw. Walaupun begitu, beliau tetap berdakwah dengan penuh rasa saying. Tidak berubah sama sekali. Sebuah kesabaran yang sangat besar.
b.    Semua hal yang baik pasti telah beliau perintahkan; dan semua keburukan pasti telah beliau larang. Semua itu adalah demi kebaikan umatnya. Dalam sebuah hadits disebutkan
مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِهِ إِلَّا قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ، وَمَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ إِلَّا قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ،
“Aku telah perintahkan kalian semua yang Allah swt. perintahkan; dan aku juga telah melarang kalian semua yang telah Allah swt. larang.”
c.    Sehingga orang yang tidak masuk surga hanyalah orang-orang yang enggan. Bukan berarti orang yang bernasib buruk. Rasulullah saw. Bersabda
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ  وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
 “Setiap umatku pasti masuk surga, kecuali orang yang enggan masuk surga.” Para sahabat bertanya, “Siapa orang yang enggan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menaati akan masuk surga, sedangkan orang yang tidak menaati adalah orang yang enggan masuk surga.” [HR. Bukhari].
4.    Firman Allah swt. (بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ). Rasulullah saw. sangat sayang kepada umatnya; banyak memberikan kebaikan, dan khawatir umatnya mendapatkan keburukan.
a.    Beliau berdoa kepada Allah swt. agar umatnya tidak dibinasakan. Dalam sebuah hadits disebutkan
دَعَا بِأَنْ لاَ يُظْهِرَ عَلَيْهِمْ عَدُوّاً مِنْ غَيْرِهِمْ. وَلاَ يُهْلِكَهُمْ بِالسِّنِينَ. فَأُعْطِيَهُمَا. وَدَعَا بِأَنْ لاَ يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ. فَمُنِعَهَا
“Rasulullah saw. berdoa agar umat Islam tidak dikuasai oleh musuh mereka, agar mereka tidak dibinasakan dengan paceklik. Dua doa itu dikabulkan. Kemudian beliau berdoa agar umat Islam tidak terpecah-belah, tapi doa ini tidak dikabulkan.”
b.    Beliau tidak mau umatnya dibinasakan karena menolak dakwah Rasulullah saw. Padahal umat-umat terdahulu semuanya binasa ketika mereka menolak dakwah para nabi. Misalnya kaum nabi Nuh as. dibinasakan dengan banjir, kaum nabi Luth as. dengan hujan batu, dan sebagainya. Sedangkan hal seperti itu tidak berlaku untuk umat Islam.
c.    Bagaimanapun penderitaan yang beliau rasakan dari umatnya, beliau tetap bersikap baik kepada mereka. Dalam sebuah hadits
ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ، وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُولُ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ
 “Beliau dipukuli kaumnya hingga berdarah. Namun sambil menghapus darah dari wajahnya, beliau berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” [HR. Bukhari].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar