Kamis, 12 Juli 2012

Tafsir_Nasihat Al quran dalam beribadah

قُلْ يا عِبادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هذِهِ الدُّنْيا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ واسِعَةٌ إِنَّما يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسابٍ (10) قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصاً لَهُ الدِّينَ (11) وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ (12) قُلْ إِنِّي أَخافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (13) قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَهُ دِينِي (14) [الزمر : 10 – 14]
Analisis Bahasa:
Bertakwalah kepada Allah swt. Takwa berasal dari kata (وقى) yang bermakna menjaga sesuatu. Kemudian kata (اتقى) yang merupakan kata dasar takwa bermakna menjadikan sesuatu sebagai penjaga dan pelindung. Bertakwa kepada Allah swt. berarti menjadikan sesutu sebagai pelindung dari siksaan Allah swt. Karena siksaan Allah swt. adalah hal yang sangat menakutkan, sehingga kita melindungi diri kita darinya. Dari sini, kata takwa bisa bermakna takut. Karena orang yang takut akan membuat perlindungan.
اتَّقُوا رَبَّكُمْ:
Berbuat baik. Dari kata (إحسان). Ihsan bisa bermakna merasa selalu diawasi Allah swt., bisa juga bermakna berbuat (الحسن) yang bermakna segala sesuatu yang dipuji didunia, dan dibalas pahala di akhirat. Lebih khusus lagi, bermakna melaksanakan ketaatan kepada Allah swt.
أَحْسَنُوا:
Dipenuhi, disempurnakan, tanpa dikurangi. Seperti membayar hutang secara sempurna, menepati janji seperti yang dijanjikan.
يُوَفَّى:
Orang-orang yang sabar. Sabar berarti menahan. Hal ini bisa diterapkan dalam banyak hal sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
الصَّابِرُونَ:
Tanpa timbangan dan takaran. Tanpa dihitung-hitung, untuk menunjukkan betapa banyaknya.
بِغَيْرِ حِسابٍ:
Beribadah. Secara bahasa, ibadah berarti hina dan tunduk. Berasal dari kata (طريق معبد) yang berarti jalan setapak. Sebuah tempat menjadi jalan setapak karena sering diinjak-injak (hina). Dengan ibadah, manusia mengakui posisinya sebagai makhluk di depan (معبود) yang menciptakan.
أَعْبُدَ:
Secara ikhlas, yaitu bersih dari kesyirikan dan riya’. Ikhlas bermakna murni, selamat, pilihan. Ikhlas berarti usaha membersihkan hati dari hal-hal yang mengotorinya kemurniannya beribadah hanya untuk Allah swt.
مُخْلِصاً:
Orang muslim pertama, dari di antara umat ini.
أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ:
Merasa takut
أَخافُ:
Menentang perintah Allah swt., dengan cara mengabaikan keikhlasan, menyukai riya’, dan melakukan kesyirikan.
عَصَيْتُ:

Pelajaran yang Dipetik:

 1.    Beribadah adalah ketundukan kepada Allah swt. Mengakui bahwa diri kita adalah hamba, dan Allah swt. adalah pemilik dan tuan hamba. Segala perintah-Nya kita laksanakan.

Ø  Ibadah bukan spiritual, usaha mencari ruhaniyah yang tinggi. Karena mencari ruhaniyah tidak hanya dapat dilakukan dalam Islam. Dalam agama dan aliran lain pun bisa. Yaitu dengan mengurangi jatah/bagian jasad kita, sehingga dengan otomatis akan menaikkan ruh kita.

Ø  Ibadah bukan spiritual, karena dalam Islam ibadah diatur sedemikian rupa. Kesamaan ibadah kita dengan aturan itu menjadi syarat diterima dan dibalasnya dengan pahala.

2.    Perintah orang-orang mukmin untuk bertakwa.

Ø  Bukan berarti mereka belum bertakwa, tapi bagaimana mereka bisa selalu mempertahankan ketakwaan.

Ø  Karena orang mukmin selalu diperintahkan, maka ketakwaan juga bisa selalu berkembang. Besarnya ketakwaan sejalan dengan besarnya rasa takut kepada Allah swt. dan siksa-Nya, sejalan dengan besarnya rasa rindu kita kepada Allah swt. dan kenikmatan surga-Nya. Kedua hal ini bisa diusahakan.

Ø  Takwa hendaknya menjadi dasar dan motivasi dalam beribadah.

3.    Orang yang sabar mendapatkan pahala tanpa dihitung.

Ø  Sabar adalah hasil pergulatan kita dengan diri kita. Kalau kita berhasil mengalahkannya, berarti kita orang yang bersabar. Orang yang bersabar dipatikan dapat memaksa dirinya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. dan meninggalkan larangannya. Sebaliknya, orang yang kalah, akan sangat jauh dari ketaatan. Sehingga sangat wajar kalau pahala adalah tanpa batas. Karena dengan kesabaran, seseorang akan sampai kepada apa yang diinginkannya.

Ø  Mengalahkan diri bertujuan agar diri tidak mengikuti hawa nafsunya, yang selalu menginginkan hal-hal yang enak, santai, rehat, dan sebagainya. Juga agar diri tidak mengikuti syahwatnya, yang mencintai wanita, anak, harta dengan berbagai bentuknya [Ali Imran: 14].

Ø  Syahwat tidak bisa dimatikan sama sekali, tapi diluruskan dan diperbaiki. Karena semua itu sudah menjadi fitrah manusia yang tidak bisa dirubah, dan keberadaannya sangat dibutuhkan manusia.

Ø  Kesabaran yang dituntut dalam beribadah demikian besar hingga seandainya tidak bisa beribadah dengan baik di negerinya, seorang muslim harus bersabar meninggalkan negerinya untuk mendapatkan negeri baru yang memungkinkan untuk ibadah.

4.    Beribadah dengan keikhlasan.

Ø  Ikhlas adalah syarat utama diterimanya amal ibadah. Disebutkan dalam sebuah hadits tiga orang yang pertama kali dimasukkan neraka, yaitu orang yang pandai membaca Al-Qur’an, orang yang banyak bersedekah, dan orang yang berjuang di jalan Allah swt., namun mereka menyisipkan hal lain selain Allah swt.

Ø  Orang yang ikhlas, doanya cepat dikabulkan (kisah tiga orang yang terjebak di gua, kisah orang yang menjebol benteng)

Ø  Tanda-tanda orang yang ikhlas dalam beribadah:

                                 i.    Berprasangka buruk kepada diri sendiri dan tidak tertipu dengan amal sendiri.

                                ii.    Sama dalam menanggapi pujian dan celaan.

                               iii.    Berkeinginan kuat menyembunyikan amal kebaikan.

                               iv.    Lebih senang tidak diketahui daripada terkenal.

Ø  Yang menjadi penghalang untuk ikhlas: diri kita, hawa, dunia, dan setan.

Ø  Jalan menuju keikhlasan:

                                 i.    Berdoa kepada Allah swt.

                                ii.    Selalu menghitung nikmat-nikmat dari Allah swt.

                               iii.    Menghindari pandangan dan penilaian orang lain.

                               iv.    Berprasangka buruk kepada diri sendiri.

5.    Perasaan takut diperlukan sehingga bisa berhati-hati dalam menjaga ibadah.
Ihsan (perasaan selalu diawasi Allah swt.) akan mendorong kita selalu dalam keadaan yang diridhai-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar