Jumat, 13 April 2012

akhwat pertama yang memasuki Syurga illahi

Pada suatu kesempatan, pimpinan para bidadari-bidadari Syurga sekaligus istri khalifah ke-4 yang tidak lain adalah Fathimah radhiallahu ‘anha bertanya kepada ayahandanya, yakni Abul Qashim, Rasulullahi sallallahu ‘alaihi wassalam sendiri mengenai syurga, …“ Wahai ayahku, siapakah wanita pertama yang nantinya akan memasuki syurga pertama kali..? ”.

Maka rasulullahi sallallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “dia adalah Mutiah”. Mendengar jawaban ayahanda, fathimah seketika kaget Nabi tidak menyebutkan namanya, akan tetapi nama yang gharib (asing) terdengar dan sekaligus penasaran, siapakah gerangan Mutiah yang dijanjikan oleh ayahnya akan memasuki Syurga pertama kali dari golongan wanita. 

Maka bulatlah tekad fathimah untuk mencari tahu bagaimana bisa wanita ini mendapatkan ‘penghargaan terbaik’ yang banyak diperjuangkan oleh wanita bahkan seluruh wanita yang pernah hidup di kolong langit Allah ini. Maka ia meminta izin pamit dari sang suami, yakni ‘Ali bin Abi Thalib (Abu Thurob) untuk mengecek perihal kabar yang membuatnya penasaran ini, sambil ia membawa putranya Hasan bergegas menuju ke rumah wanita tersebut.


Alkisah…setelah melewati perjalanan yang panjang, akhirnya fathimah menemukan lokasi rumah yang dimaksud, maka tanpa buang-buang waktu ia langsung mengucapkan salam minta izin untuk diberikan bertamu. Maka terdengarlah dari dalam rumah suara seorang wanita yang menyahut.. “siapa…?” , maka fathimah menjawab, “saya…fathimah…”, mendengar jawaban tersebut sang wanita rumah sangat senang sekali, bayangkan saja, di Madinah, siapa yang tidak tahu fathimah, putri tercinta dari makhluk terbaik yang Allah subhanahu wata’ala utus ke bumi. Lalu berkatalah wanita ini kepada fathimah,…”engkau sendiri wahai fathimah..?”, dijawab, “..dengan hasan (putraku)…”, mendengar jawaban itu, wanita ini kaget dan dengan sangat menyesal berkata kepada fathimah, “…maaf wahai fathimah, aku tidak bisa menerima tamu pria, aku harus minta izin dahulu dari suamiku untuknya…, jika engkau tidak keberatan, datanglah esok..”, mendengar jawaban itu, fathimahpun pulang, dengan tangan kosong, karena ia tidak diizinkan masuk lantaran membawa putra kecilnya, hasan.


Bayangkan hanya pria kecil yang tidak faham dengan aurat, syahwat atau yang semisalnya pun tidak diizinkan masuk, … bandingkan dengan kita, tentu ini menjadi suatu pelajaran yang berharga sekali bagi kaum muslimin, khususnya kaum muslimat yang bertugas dalam menjaga rumah suaminya. Kita lanjutkan…

Esoknya, fathimahpun datang bersama hasan di temani adiknya husein yang umur lebih muda dari hasan, ketika sampai di depan rumah, fatimahpun mengucapkan salam untuk diizinkan bertamu, lalu wanita dari dalam rumah ini menjawab salam fathimah sambil berkata, “engkaukah itu fathimah dengan si kecil Hasan?..” , maka dijawab, “ya…dengan hasan dan husein (saudara hasan)..”, mendengar jawaban fathimah itu, si wanita ini kembali kaget dan dengan menyesal kembali ia harus mengatakan, “…kenapa engkau tidak berita tahu aku kemarin, aku hanya mendapati izin bagi si kecil hasan, tidak dengan husein, jika engkau berkenan..datanglah esok, aku akan mintakan izin bagi husein juga…”.

Perhatikan sekali lagi, siapa husein? Adiknya hasan yang umurnya lebih muda dan lebih tidak faham lagi dengan aurat-aurta wanita tapi tetap saja ditolak dengan lemah lembut lantaran belum mendapatkan izin dari sang tuan rumah yaitu suami Mutiah sendiri.

Esoknya, fathimah, hasan dan husein kembali datang ke rumah wanita ini, seperti biasa diawali dengan salam, lalu dijawab dengan salam pula dan kali ini fathimah diizinkan masuk, … ketika fathimah masuk ke dalam rumah sederhana itu, dilihatnya ternyata isi rumahnya begitu sederhana, perabotan-perabotannya juga sangat sederhana meskipun begitu tertata dengan rapi dan anehnya rumah itu seolah-olah mendatangkan ketenangan di dalam hati orang-orang yang memasukinya, begitu yang dialami fathimah dan ke-2 putranya hasan husein yang begitu senang bermain-main pelataran yang sempit itu, biasanya mereka tidak begitu betah berlama-lama tapi tidak kali ini.

…akan tetapi wanita ini ternyata sedang sibuk dengan pekerjaan rumahnya, iapun berkata, “.., maafkan aku karena tidak bisa bermain dengan hasan husein, karena aku sedang mempersiapkan keperluan-keperluan rumah sebelum suamiku nanti pulang… fathimah-pun bisa maklum. Dilihat fathimah wanita ini menata sendiri makanan-makanan yang ia persiapkan di ruang makan, anehnya disamping makanan itu ada semacam rotan kayu yang juga dipersiapkan wanita ini untuk suami tercinta. Lalu fathimahpun penasaran dan kemudian bertanya, “wahai sudaraku, untuk apakah gerangan rotan yang engkau letakkan tepat disebelah hidangan itu..?” , maka wanita ini tersenyum,…lalu menjawab, “..ah..tidak ada apa-apa, hanya untuk mengukur pelayananku saja, jika nanti suamiku pulang, lalu aku akan tanyakan padanya: ‘bagaimana suamiku? Apakah engkau senang / ridho dengan masakanku?’ jika dijawab : ‘Ya..’, maka tidak akan terjadi apa-apa, sebaliknya jika jawabannya ‘Tidak’, maka aku sediakan rotan itu untuk menghukum / mencambuk ku yang tidak becus / pandai melayaninya…”.

Mendengar jawaban itu, fathimahpun kagum sambil bergumam di hati : “…subhanallah, alangkah ta’atnya wanita ini kepada suaminya…”, lalu fathimah bertanya, “apakah suamimu yang memerintahkan disediakannya rotan ini? ” , maka wanita ini kembali tersenyum manis sambil berkata, “tidak, suamiku adalah hamba yg ta’at kepada Allah, akan tetapi ini adalah inisiatifku sendiri, agar aku terpacu untuk bisa memberikan layanan terbaikku padanya… ”.

Setelah beberapa saat, fathimah dan anak-anaknya minta izin untuk pulang dan barulah fathimah dapat tahu memang benar apa yang dikatakan ayahandanya, bahwa wanita inilah yang akan memimpin wanita-wanita muslimah memasuki syurga.


Jadi, bagi kaum muslimah yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala, jika ingin memasuki syurga dengan jalan pintas sebagaimana jalannya mobil di atas jalan tol, maka datangilah pintu berbakti kepada suami, karena ia benar-benar akan mengantarkan seorang istri ke syurga yang Allah janjikan keni’matan yang belum pernah terdenting di hati, belum juga terlihat oleh mata dan belum terdengar oleh telinga.

Semoga Bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar