Minggu, 21 Oktober 2012

Al Razi


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai hamba Allah adalah satu-satunya makhluk yang paling istimewa diantara semua makhluk-Nya yang lain. Disamping dikaruniai akal dan pikiran, manusia ternyata adalah makhluk yang penuh dengan misteri dan rahasia-rahasia yang menarik untuk dikaji. Misteri itu justru sengaja dibuat Allah Swt. agar manusia memiliki rasa antusias yang tinggi untuk menguak dan mendalami keberadaan dirinya sebagai ciptaan Allah, untuk kemudian mengenali siapa pencipta-Nya.
Dalam kaitannya dengan hal tersebut, ada seorang filosof yang sangat mendewakan akal dalam menghadapi setiap kehidupan yang ada di hadapannya, dia mendewakan akal secara berlebihan. Jika dia dikatakan seorang muslim maka dia bukanlah seorang muslim yang sempurna disebabkan ketidak percayaannya kepada wahyu dan kenabian. Akan tetapi ia di kenal sebagai seorang rasional murni dan sangat mempercayai akal, bebas dari prasangka serta terlalu berani dalam mengeluarkan gagasan filosofinya. Dia dikenal dengan nama “Al-Razi”.

B.     Rumusan Masalah
Untuk itu, makalah ini secara sistematis akan membahas tentang Al-Razi yang sangat mendewakan akal dan tidak percaya kepada wahyu serta kenabian,  untuk memfokuskan pembahasan, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Siapakah Al-Razi sebenarnya ?
2.      Apa saja karya-karyanya ?
3.      Apa saja pokok–pokok pikiran Ar-Razi tentang filsafatnya ?
4.      Bagaimana pemikiran Ar-Razi tentang kenabian ?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    BIOGRAFI HIDUP AL-RAZI
Al-Razi Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakariya Ibnu Zakaria Ibnu Yahya Al-Razi[1]. Dalam wacana keilmuan Barat, Al-razi dikenal dengan sebutan Rhazes. Ia dilahirkan di Rayy, sebuah kota tua yang masalalu bernama Rhasee, dekat Teheran Republik Islam Iran pada tanggal 1 sya’ban 251 H/685 M. Ia hidup pada pemerintahan Dinasti Saman (204 - 395 H). Ada beberapa nama tokoh yang lain juga dipanggil Al-Razi, yakni Abu Hatim Al-Razi, Fakhruddin Al-Razi dan Nazmuddin Al-Razi. Oleh karena itu, untuk membedakan Al-Razi sang filosof ini, dari tokoh-tokoh yang lain, perlu ditambahkan dengan sebutan Abu Bakar yang merupakan nama kun-yahnya (gelarnya).[2] Ar-Razi masih mempunyai hubungan darah dengan bangsa Persia dan hidup pada masa kejayaan Daulah Abasiyah. Pada masa mudanya ia menjadi tukang intan, penukar uang, atau lebih mungkin sebagai pemain kecapi. Kemudian ia meninggalkan music untuk belajar al-kimia, dan pada usia 30 tahun atau setelah umur 40 tahun ia meninggalkan al-kimia, karena matanya terserang penyakit akibat eksperimen yang dilakukannya, yang menyebabkan mencari dokter dan obat-obatan. Itulah sebabnya, ia mempelajari kedokteran (obat-obatan). Ia sangat rajin belajar dan bekerja di siang dan malam hari. Gurunya Ali Ibnu Rabban Al-Thabbari adalah seorang dokter dan filosof yang lahir di Merv pada yahun 192 H/808 M dan meninggal beberapa tahun setelah 240 H/855 M.[3]
Al-Razi juga banyak menimba ilmu-ilmu lainnya dari Abu Al-Husen Ali bin Rin Ath-Thabari. Al-Razi terkenal sebagai seorang dokter yang dermawan, penyayang kepada pasien-pasiennya, karena itu ia sering memberikan pengobatan Cuma-cuma kepada orang yang tidak mampu/miskin. Karena reputasinya di bidang kedokteran ini, Al-Razi pernah diangkat  menjadi kepala rumah sakit Ray  pada masa pemerintahan Gubernur Al-mansur Ibnu Ishak. Kemasyuran Al-Razi sebagai seorang dokter tidak saja di dunia Timur, tapi juga di Barat, ia kadang-kadang dijuluki The Arabic Galen. Kemudian ia pindah ke Baghdad dan memimpin rumah sakit disana pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muktafi.
Setelah Al-Muktafi meninggal dunia tahun 295 H/907 M, Al-Razi kembali ke Rayy, di Rayy ia mempunyai banyak murid, dan kemudian Al-Razi menjadi syekh. Ia biasa dikelilingi oleh banyak murid. Jika tidak bersama murid dan pasiennya, ia selalu menggunakan waktunya untuk menulis dan belajar. Mungkin inilah yang menyebabkan penglihatannya berangsur-angsur melemah dan akhirnya ia menjadi buta. Ketika salah seorang muridnya datang dari Tabaristam untuk mengobatinya, ia menolak, tetapi sebagaimana kata Al-Biruni, ia menolak untuk diobati dengan mengatakan pengobatan itu akan sia-sia belaka, karena sebentar lagi ia akan meninggal dunia.[4] Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia pada tanggal 5 Sya’ban 313 H/27 Oktober 925 M.
B.     KARYA_KARYA AL-RAZI
Karir Al-Razi sebagai intelektual tampak dengan jelas dari buku-bukunya yang tidak kurang dari 200 jilid banyaknya tentang medis, astronomi, kosmologi, kimia, filsafat dan sebagainya.[5]
Ar-Razi terkenal di Barat dengan nama Rhezes dari buku-bukunya tentang ilmu kedoteran. Bukunya yang terkenal adalah tentang cacar dan campak yang diterjemahkan dalam bebagai bahasa di Eropa dan pada tahun 1866 masih dicetak untuk yang keempat puluh kalinya. Al Hawi fi Ath-Thib merupakan ensiklopedia tentang ilmu kedokteran, tersusun lebih dari 20 jilid dan mengandung ilmu kedokteran Yunani, Syria, dan Arab.[6]
Adapun karya-karya Al-Razi yang masih dapat dinikmati sampai sekarang meskipun buku-buku tersebut dihimpun dalam satu kitab yang dikarang oleh orang lain adalah:
·         Al-Tibb al-Ruhani
·         Al-Shirath al-Falasafiyah
·         Amarat Iqbal al Daulah
·         Kitab al-ladzdzah
·         Kitab al Ibnu al Ilahi
·         Makalah fi mabadd altalbiah
·         Al Syukur ’Ala Proclas[7]
·         Manshuri
·         Kitab Sirr Al-Asrar
·         Muluki
·         Kitab Al-Jami Al-Kabir
Al-Razi adalah filosof yang berani mengeluarkan pendapat-pendaptnya meskipun pendapat tersebut bertentangan dengan paham yang dianut umat Islam yaitu:
1.      Tidak percaya pada wahyu
2.      Al-Qur’an bukan mu’jizat
3.      Tidak percaya pada Nabi-Nabi
4.      Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan[8]
Meskipun beberapa pemikiran Ar-Razi bertentangan dangan kepercayaan umat Islam, pemikirannya telah memberi warna tersendiri dalam filsafat Islam. Terutama tentang kebesan berfikir dan menemukan kebenaran dalam menggunakan akal. [9]
Menurut Ibn-Nadim buku-buku Ar-Razi adalah 118 buku, 19 surat 4 buku, 6 surat dan satu makalah jumlah seluruhnya 148 buah.[10] Ibn Abi Usaibi’ah menyebutkan 236 karyanya, tetapi beberapa diantaranya tidak jelas pengarangnya.
            Menurut Al-Biruni, Karya Al-Razi tentang Alkemi ada sekitar dua puluh satu, yang terbesar diantaranya Kitab Sirr Al-Asrar. Sesuai dengan semangat Al-Razi yang antihermetis, rahasia-rahasia disini bukan misteri-misteri mistik, tetapi rahasia-rahasia keahlian seorang Alkemis (ahli Alkemi), yang dengan bebas dipaparkan Al-Razi dalam pembahasannya mengenai bahan-bahan, perangkat-perangkat, dan metode-metode Alkemi. Tujuannya adalah meretas bahan-bahan yang memilahkan satu bentuk substansi dari substansi lainnya, dengan menggunakan substansi kuat yang akan menembus dan mengubah unsur dasar (substrate), dengan menambahkan atau menghilangkan sifat-sifat spesifik, mengubah logam-logam dasar menjadi emas atau batu menjadi permata. Akan tetapi Al-Razi juga menggunakan sebagian dari preparat dalam praktik kedokterannya; dan metode-metodenya sebagai seorang alkemis lebih bernuansa ilmu bedah daripada klenik atau sihir.[11]
            Buku-buku tersebut dikelompokkan sebagai berikut: (a) ilmu kedokteran; (b) ilmu fisika; (c) logika; (d) matematika dan astronomi; (e) komentar, ringkasan, dan ikhtisar; (f) filsafat dan ilmu pengetahuan hipotesis; (g) metafisika); (h) teologi; (i) alkimia; (j) ateisme; (k) campuran. Diantaranya :
1.      Sekumpulan risalah logika berkenaan dengan kategori-kategori demonstrasi, logika seperti yang dinyatakan dalam ungkapan Islam.
2.      Sekumpulan risalah tentang metafisika pada umumnya.
3.      Materi mutlak dan particular.
4.      Plenum dan Vacuum, ruang dan waktu.
5.      Fisika
6.      Dunia mempunyai pencipta yang bijaksana
7.      Keabadian dan ketidak abadian Tuhan.
8.      Sanggahan terhadap procius
9.      Opini fisika “Plutarch” (Placita Philosoptorum).
10.  Sebuah komentar tentang Timacus,
11.  Sebuah komentar terhadap Plutarch tentang Timacus
12.  Sebuah risalah yang menunjukan bahwa benda-benda bergerak dengan sendirinya dan bahwa gerakan itu pada akhirnya milik mereka.
13.  Obat pencahar rohani (Spiritual Physic)
14.  Jalan filosof.
15.  Tentang jiwa
16.  Tentang pengkataan iman yang tidak bisa salah
17.  Sebuah sanggahan terhadap kaum Mu’tazilah
18.  Menurut ajaran Plato, dan
19.  Metafisika menurut ajaran Sokrates.
C.    FILSAFAT AL-RAZI
Dasar filsafatnya tampak dari pandangan Ar-Razi yang mengklaim bahwa praktik kedokteran itu bersandar pada filsafat. Suatu praktik yang baik amat bergantung pada pemikiran yang bebas (filsafat). Ia menganggap bahwa filsafat bukan sekedar sarana bagi karya kedokteran, melainkan sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Karyanya, Ath-Thibb Ar-Ruhani, yang ditulis untuk Al-Manshur sebagai pelengkap Manshuri,[12] mengikuti presiden Al-Kindi dalam memperlakukan etika sebagai sejenis pengobatan psikis atau psikologi klins, suatu pendekatan yang nantinya digunakan oleh Gabirol dan Maimonides. Oleh karena itu, judulnya Spiritual Physic, seperti yang secara artifisal digunakan kembali oleh Arberry, Pengobatan Spiritual atau Psikologis.[13]
Al-Razi termasuk tokoh filsafat yang sangat berani dalam mengekplorasikan sejumlah ide atau gagasanya bahkan, dari keberaniannya ini tidak sedikit Al-Razi mendapat hujatan yang sangat serius dari para filosof, terutama dari para tokoh agama yang sezaman dengannya. Inti dari filsafat Al-Razi adalah pembahasan seputar akal, ketuhanan, wahyu, dan kenabian, serat lima hal yang kekal, filsafat rasional dan filsafat moral.
1.      Akal
Corak pemikiran Al-Razi adalah rasionalis murni, Rasional artinya ia selalau mencari kebenaran dengan pangkal tolak kekuatan akal, tetapi tidak hanya mengandalkan kekuatan akal an-nisch, namun lebih pada kekuatan akal yang selektif. Menurut Al-Razi kita hendaknya mengembalikan segala urusan kepada akal, merubahnya dengan berpatokan kepadanya, bersandar kepadanya dalam segala hal. Kita juga harus menjalankan segala urusan sesuai ketentuannya, berhenti karena arahnya. Kita tidak boleh mengikutu hawa nafsu dan meninggalkan akal, karena nafsu adalah ancaman baginya ynag mengeruhkan kejernihannya; memalingknannya dari jalan cinta, tujuan dan konsistensinya.
Al-Razi hanya mempercayai kekuatan akal. Bahkan di dalam bidang kedokteran studi klinis yang dilakukannya telah menemukan metoda yang kuat, dengan berpijak kepada observasi dan eeksperimen. E.G Browne, dalam arabian medicine telah menerjemahkan satu halaman yang mungkin di ambil dari al hawi, sebuah naskah yang ditulis Al-Razi yang menunjukan metode ini. Bunyi terjemahan itu adalah sebagai berikut:
Pemujaan Al-Razi terhadap akal sangat jelas pada halaman pertama dari bukunya Al-Tib Al-Ruhani. Ia mengatakan “Tuhan, segala puji baginya, yang telah memberi kita akal agar dengannya kita dapat memperoleh sebanyak-banyaknya manfaat, inilah karunia terbaik tuhan kepada kita. Dengan akal kita dapat melihat segala yang berguna bagi kita dan yang membuat hidup kita baik, dengan akal kita dapat mengetahui yang gelap, yang jauh, dan yang tersembunyi ari kita. Dengan akal pula kita dapat memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, suatu pengetahuan tertinggi yang dapat kita peroleh. Jika akal sedemikian mulia dan penting, maka kita tidak boleh melecehkannya, kita tidak boleh menentukannya, sebab itu adalah penentu, atau mengendalikannya, sebab ia adalah pemerintah, tetapi kita harus merujuk kepadanya dalam segala hal dan menentukan segala masalah dengannya kita harus sesuai dengan perintahnya”.
Manusia lahir dengan kemampuan yang sama untuk meraih pengetahuan, hanya melalui pemupukan kemampuan inilah, manusia menjadi berbeda, ada yang menggunaknnya untuk speku;lasi dan belaja, ada yang mengabaikannya, atau mengarahkannya untuk kehiddupan yang praktis.
2.      Filsafat Wahyu dan Kenabian Al-Razi
Meskipun Al-Razi seorang rasionalis murni ia tetap bertuhan hanya ia tidak mengakui adanya wahyu dan kenabian. Al-Razi tidak percaya kepada nabi-nabi, sebab nabi itu hanyalah pembawa kehancuran bagi manusia, ajaran nabi-nabi itu saling bertentangan, pertentangan itu akan membawa kehancuran manusia. Menurutnya para nabi tidak berhak mengklaim bahwa dirinya mempunyai keistimewaan khusus, baik pikiran maupun rohani, karena semua orang itu sama dan keadilan Tuhan serta hikmahnya mengharuskannya untuk tidak membedakan antara seorang dengan yang lainnya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwasanya tidaklah masuk akal bahwa Tuhan mengutus para nabi padahal mereka tidak luput dari pada kesalahan dan kekeliruan. Setiap bangsa hanya percaya kepada nabinya dan tidak percaya kepada nabi bangsa lain dan akibat dari  inilah banyak terjadi konflik, peperangan dan kebencian antara bangsa karena kefanatikan kepada agama yang dianutnya.
Al-Razi menyanggah anggapan bahwa untuk keteraturan kehidupan, manusia memerlukan nabi. Adapun semua mukjizat kenabian adalah bagian dari mitos keagamaan atau rayuan dan keahlian yang dimaksudkan untuk menipu dan menyesatkan. Ajaran agama saling kontradiksi karena satu sama lain saling menghancurkan dan tidak sesuai dengan pernyataan yang mengatakan bahwa realitas permanen. Itu dikarenakan setiap nabi membatalkan risalah pendahuluannya tetapi menyerukan bahwa apa yang dibawanya adalah kebenaran dan tidak ada kebenaran yang lain, dan manusia menjadi bingung tentang pimpinan dan yang dipimpin, panutan dan yang patut.
Dalam hal itu badawi menerangkan alasan-alasan A-Razi dalam menolak kenabian:
a.       Bahwa akal sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dann yang jahat yang berguna dan yang tak berguna. Melalui akal manusia dapat mengetahui Tuhan dan mengatur kehidupan kita sebaik-baiknya. Kemudian mengapa masih dibutuhkan nabi?
b.      Tidak ada keistimewaan bagi beberapa orang untuk membimbing semua orang, sebab setiap orang lahir dengan kecerdasan yang sama perbedaannya bukanlah karena pembawaan alamiah, tetapi karena pengembangan dan pendidikan (eksperimen).
c.       Para nabi salinng bertentangan. Apabila mereka berbicara atas nama satu Tuhan mengapa implementasi mereka terhadap pertentangan? Setelah menolak kenabian kemudian Al-Razi mengkritik agama secara umum. Ia menjelaskan kontradiksi kaum Yahudi Kristen ataupun Majusi. Pengikatan manusia terhadap agama adalah karena meniru dan kebiasaan, kekuasaan ullama yang mengabdi negara dan menifestasi lahiriah agama, upacara-upacara dan peribadatan ynag mempengaruhi mereka yang sederhana dan naif.
Setelah menolak kenabian, Al-Razi lalu mengkritik agama secara umum. Ia menjelaskan kontradiksi-kontradiksi kaum Yahudi, Kristen, Mani, dan Majusi. Hal itu terbukti dengan kritik Al-Razi terhadap Al-Quran dan Injil, Al-Razi juga mengkritik agama Yahudi dan paham-paham Mani.
Al-Razi juga mempertanyakan wahyu yang didakwahkan oleh para nabi, yang menganggap kebenarannya tidaklah benar adanya. Al-Qur’an dengan gaya bahasanya bukanlah mukjizat bagi Nabi Muhammad, ia hanya sebagai buku biasa.
Pertama ia menolak mukjizatnya Al-Quran baik karena gayanya maupun isinya dan menegaskan adanya kemungkinan menulis kitab yang lebih baik dalam gaya yang lebih baik.
Nikmat akal lebihlah konkrit dari wahyu oleh sebab itu membaca buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya lebih berarti dari pada membaca buku-buku agama. keberlangsungan agama hanyalah berasal dari tradisi, dari kepentingan para ulama yang diperalat oleh negara, dan dari upacara-upacara yang  bagi kehidupan manusia dari pada kitab-kitab suci. Buku-buku kedokteran, geometri, astronomi dan logika lebih berguna dari pada Injil dan Al-Qur’an.
Oleh karena itulah tidak masuk akal apabila Tuhan mengutus para nabi, karena banyak melakukan kemadharatan. Adanya peperangan yang terjadi diantara berbagai bangsa adalah sebagai akibat percaya kepada mereka tanpa reserve dengan mempercayai ajaran-ajaran yang dibawa mereka, kemudian saling bertentangan akhirnya timbul peperangan yang bersifat keagamaan di dunia.
Penulis-penulis buku ilmiah ini telah menemukan kenyataan dan kebenaran melalui kecerdasan mereka sendiri tanpa bantuan para nabi. Ilmu pengetahuan berdasarkan tiga sumber: pemikiran yang di dasarkan  pada logika, tradisi dari para pendahulu kepada para penganti yang didasarkan pada bukti meyakinkan dan akurat seperti dalam sejarah, dan naluri yang menuntut manusia tanpa memerlukan banyak pemikiran.
Menurut Abdul Latif Muhammad Al-Abd bahwa tuduhan Al-Razi tidak mempercayai kenabian adalah di dasarkan pada buku makhariq Al-Anbiya. Buku ini sering dibaca dalam pengajian-pengajian kaum Zindiq, terutama qaramithah. Bagian dari buku ini terdapat dalam buku A’lam al-Nubuwah karya Abu Hatim Al-Razi yang tidak pernah ditemukan. Oleh karena itu, kebenaranya diragukan. Andaikan buku-buku itu ada tentu saja tidak bertentangan dengan buku Al-Razi sendiri seperti At-tib Ar-Ruhani, al sirah al falsafiyah. Selidik demi selidik ternyata Abu Hati Al-Razi ini adalah tokoh Syi’ah Ismailiyah sekaligus musuh Al-Razi sendiri yang berasal dari satu bangsa. Disisi lain Al-Razi juga mendapat beberapa sanggahan dari para pemikir, terutama ulama konservatif  sangat tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Pertarungan antar pemikir dan ulama seperti ini merupakan hal yang lumrah, terlebih orang yang kalah biasanya menggunakan berbagai cara agar lawannya itu di jauhi dan di benci pengikutnya dan orang lain.
Berdasarkan fenomena di atas, adanya justifikasi kafir terhadap Al-Razi pun patut dipertanyakan. Ahmad Aziz Dahlan mengatakan bahwa Al Razi adalah seorang filosof muslim dan tidak boleh dikafirkan. Analisis ini dapat di temukan dalm kitabnya Bar’u al sa’ah, dan Sir al asror atau At-Tibb Ar-Ruhani sebagai berikut:
“mengendalikan hawa nafsu adalah wajib menurut semua rasio, menurut semua orang yang berakal dan menurut semua agama dan wajiblah manusia yang baik, yang utama, yang sempurna menunaikan apa yang diwajibkan agama yang benar kepadanya (as-syariah al-muhiqqah) dan takut pada kematian, karena agama yang benar itu sungguh telah menjanjikan kepadanya, kemenangan, ketentraman, dan masuk kedalam kenikmatan yang terus menerus.
Al Razi juga mengakui kenabian, sebagaimana ia nyatakan dalam gubahnya:
Semoga allah melimpahkan shalawat pada ciptaannya yang terbaik, Nabi Muhammad dan keluarganya dan semoga Allah melimpahkanshalawat kepada sayyid kita, dan penolong kita di hari kiamat, Muhammad, semoga Allah melimpahkan kepadanya shalawat dan salam yang banyak selamanya. 
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Al-Razi adalah seorang rasionalis religius, bukan rasionalis liberal, karena Al-Razi masih mengakui dan mendasarkan logikanya kepada agama dan kewahyuan.
Dengan demikian, adanya pernyataan bahwa Al-Razi menolak wahyu dan kenabiam merupakan tuduhan yang tidak mendasar, bahkan banyak para filosof yang menarik kembali pernyataan mereka, setelah menyatakan Al-Razi menolak wahyu dan  kenabian. Peristiwa itu menandakan betapa kuatnya pengaruh karya-karya lawan Al-Razi, yang telah menggiring para opini publik untuk mendeskriditkan Al-Razi.
3.      Filsafat Lima Kekal (Metafisika)
   Al-Razi  merupakan salah satu filosof muslim yang sangat kontroversial  di banding filosof muslim yang lain. Penyebab kontroversianlnya Al-Razi pada kesimpilan ihwal filsafat metafisikanya, yang terkenal dengan doktrin lima yang kekal yaitu: Tuhan (Al-Bari Ta’ala), Jiwa universal (An-Nafs al-kulliyyah), Materi pertama (Al-hayula al-ula), Ruang absolut (Al-makan al-muthlaq),  zaman absolut (Az-zaman al-muthlaq).
Dari lima kekekalan itu ada dua yang hidup dan bergerak yakni, Tuhan dan ruh yang pasif dan yang tidak hidup adalah materi pembentuk setiap wujud dan dua lagi yang tidak hidup, tidak bergerak dan tidak pasif yaitu kehampaan dan keberlangsungan[14]
Benda tidak dapat terlepas dari yang lima ini sebab:
1.      Setiap benda perlu ada yang menciptakannya. Sebab itu ia perlu kepada Tuhan Pencipta.
2.      Diantara benda ada yang hidup. Hidup memerlukan roh. Sebab itu perlu adanya roh.
3.      Benda adalah materi, yang dengannya ia dapat diinderai.
4.      Materi mengambil tempat, sebab itu perlu ruang untuk sebagai tempatnya.
5.      Materi mengalami perubahan, perubahan terjadi dalam waktu.
Hanya tentang zaman Al-Razi membaginya atas dua bentuk, ada zaman yang absolut dan ada zaman yang reltif. Zaman yang absolut bersifat abadi tidak berawal dan tidak berakhir, tetapi zaman yang relatif dapat disifati dengan angaka.
Menurut Dr. T.J. De Beor bahwa dasar-dasar metafisika Ar-Razi berasal dari doktrin-doktrin tua  seumpama pemikiran-pemikiran Anaxagoras, Empedokles, Mani dan lain-lain. Puncak dari metafisikanya itulah Prinsip Tentang Lima Yang Abadi (five co-eternal prinsiples)[15]
Lima ajaran kekal Al-Razi menurut Nasution (2008:18) adalah: (1) Materi, merupakan apa yang ditangkap dengan panca indera tentang benda, (2) Ruang, karena materi mengambil tempat, (3) Waktu, karena materi berubah-ubah keadaannya, (4) Di antara benda-benda ada yang hidup, karena itu perlu ada ruh, (5) Semua ini perlu pada Pencipta Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.
Adapun Penjelasan tentang lima kekal, sebagaimana Al-Biruni mengatakan, Muhammad Ibn Zakaria Ar-Razi telah melaporkan kekekalan lima hal dari Yunani kuno, yaitu : Tuhan, Roh Universal, materi pertama, ruang mutlak,dan waktu mutlak. Kelima hal ini menjadi landasan ajarannya. Akan tetapi, ia membedakan antara waktu dan keberlangsungan dengan mengatakan bahwa angka berlaku bagi satu dan bukan yang lain, karena keterbatasan berkaitan dengan keangkaan. Oleh karena itu, para filsuf mendefinisikan waktu sebagai keberlangsungan yang berawal dan berakhir, sedangkan keberlangsungan (akhir) tidak berawal dan tidak berakhir. Dia juga mengatakan bahwa balam kemaujudan, lima hal berikut adalah perlu kesadaran bahwa materi terbentuk oleh susunan; ia berkaitan dengan ruang karena itu harus ada ruang (tempat); pergantian bentuknya merupakan kekhasan waktu, karena ada yang dahulu dan ada yang berikut, dan karena waktu, ada kekinian dan kebaruan, ada kelebihtuaan dan kelebihmudaan; sehingga waktu itu perlu. Dalam kemaujudan, terdapat kehidupan, karena itu mesti ada roh? Dan hal ini; mesti ada yang dimengerti dan hukum yang mengaturnya haruslah sepenuhnya sempurna; karena itu, dalam kenyataan ini harus ada pencipta yang bijaksana, maha tahu, melakukan segala sesuatu sesempurna mungkin, dan memberikan akal sebagai bekal mencari keselamatan.[16]
Sistematika filsafat lima kekal Ar-Razi dapat djelaskan sebagai berikut:
a.       Al-Bari Ta’ala (Allah): hidup kekal dan aktif (dengan sifat independen).
Tuhan bersifat sempurna. Tidak ada kebijakan setelah tidak sengaja, karena itu ketidaksengajaan tidak bersifat kepada-Nya. Kehidupan berasal dari-Nya sebagaimana sinar datang dari matahari Tuhan mempunyai kepandaian yang sempurna dan murni. Kehidupan ini adalah mengalir dari ruh. Tuhan menciptakan sesuatu dan tidak ada yang bisa menandingi dan tidak ada yang bisa menolak kehendak-Nya. Tuhan Maha Mengetahui, segala sesuatu. Tetapi ruh-ruh hanya mengetahui apa yang berasal dari eksperimen. Tuhan mengetahui bahwa ruh cenderung pada materi dan membutuhkan kesenangan materi.
b.      An-Nafs al-kulliyyah (jiwa universal): hidup dan aktif dan menjadi al-mabda’ al-qadim ats-tsani (sumber kekal kedua). Hidup dan aktifnya bersifat dependen. An-nafs al-kulliyyah tidak berbentuk. Namun, karena mempunyai naluri untuk bersatu dengan al-hayula al-ula, an-nafs al-kulliyyah memiliki zat yang berbentuk (form) sehingga bisa menerima, sekaligus menjadi sumber penciptaan benda-benda alam semesta, termasuk badan manusia. Ketika masuk pada benda-benda itulah, Allah menciptakan roh untuk menempati benda-benda dan badan manusia di mana jiwa (parsial) melampiaskan kesenangannya. Karena semakin lama jiwa bisa terlena pada kejahatan, Allah kemudian menciptakan akal untuk menyadarkan jiwa yang terlena dalam fisik tersebut.
c.       Al-hayula al-ula (materi pertama): tidak hidup dan pasif, Al-hayula al-ula adalah substansi (jauhar) yang kekal yang terdiri atas dzarrah, dzarat (atom-atom). Setiap atom terdiri atas volume. Jika dunia hancur, volume juga akan terpecah dalam bentuk atom-atom. Materi yang sangat padat menjadi substansi bumi, yang agak renggang menjadi substansi air yang renggang menjadi substansi udara dan yang lebih renggang menjadi api. Al-hayula al-ula: kekal karena tidak mungkin berasal dari ketiadaan. Buktinya, semua ciptaan Tuhan melalui susunan-susunan (yang berproses) dan tidak dalam sekejap yang sangat sederhana dan mudah. Dengan kata lain, Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa bahan sebelumnya yang kekal karena mendapat (semacam emanasi, pancaran) dari Yang Maha kekal.
d.      Al-makan al-muthlaq (ruang absolut): tidak aktif dan tidak pasif. Materi yang kekal membutuhkan ruang yang kekal pula sebagai “tempat” yang sesuai. Ada dua macam ruang: ruang partikular (relatif) dan ruang universal. Yang partikular terbatas, sesuai keterbatasan maujud yang menempatinya. Adapun ruang universal tidak terbatas dan tidak terikat pada maujud karena bisa saja terdapat terjadi kehampaan tanpa maujud.
e.       Az-zaman al-muthlaq (zaman absolut): tidak aktif dan tidak pasif. Zaman atau masa ada dua: relatif/terbatas yang biasa disebut al-waqt dan zaman universal yang bisa disebut ad-dahr. Yang terakhir ini (ad-dahr) tidak terikat pada gerakan alam semesta dan falak atau benda-benda angkasa raya.[17]
Filsafat lima yang kekal Al-Razi tersebut mengisyaratkan bahwa di balik dunia fana terdapat jiwa tak terbatas yaitu Tuhan sebagai Pencipta kosmos, Jiwa Yang Mutlak yakni ruh  tersebut menjelma pada alam, di mana ruh mempunyai inti yang disebut ide atau berpikir, berupa kekuatan akal yang dipandang sebagai pancaran Jiwa Universal (an-Nafs al-Kulliyah) Ilahi. Karena itu kekuatan akal memungkinkan manusia mencapai kebenaran Ilahiyah.
Doktrin lima hal yang kekal (al-Qudama al-khamsah) yang menyajikan beberapa kajian tentang waktu, ruang kehampaan, serta perpindahan jiwa memiliki implikasi luas guna dikembangkan sebagai dasar pemahaman masalah kosmologi.
Pemahaman atas alam seisinya sebagai makrokosmos berarti memandang semesta sebagai kesatuan kosmis, sementara manusia sebagai individu yang terdiri dari jasmani dan rohani ditempatkan sebagai mikrokosmos, fakta tunggal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan sistem semesta. Pemahaman keduanya mendasari pemahaman mengenai asal-usul dan arah ke mana tujuan kehidupan akan menuju. Pemahaman masalah ini selanjutnya mendasari penentuan sikap dalam menyikpai kehidupan ini.
Filsafat Al-Razi membantu memahami konsep penciptaan berdasarkan pemahaman atas hakekat Tuhan, alam semesta dan manusia. Ini menjadikan pandangan-pandangannya mencerminkan sebuah pandangan teologis tersendiri. Dalam pandangan Al-Razi ruang semesta membentang sangat luas dan tak terbatas, di mana Tuhan merupakan sentralnya. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Mutlak yang memiliki kekuasaan tak terbatas. Kekuasaan Tuhan tidak terbatasi oleh ruang waktu.
Kehendak (iradah) Tuhan menyemarakkan kehampaan semesta dengan menciptakan alam dari substansi sederhana menjadi substansi yang terbentuk, kemudian dengan pancaran kehendak-Nya pula Tuhan membangkitkan gerak dinamika alam. Kehendak Tuhan untuk mencipta telah memecah kegelapan dan kesunyian semesta dengan dinamika gerak dan keteraturan hukum alam (sunnatullah).
Manusia pada hakekatnya hanyalah kehidupan yang sangat terbatas (mikrokosmos), sekedar bentukan dari materi dan ruh yang menempati ruang terbatas di tengah ketidakterbatasan ruang dan waktu. Pada saatnya unsur materi pada manusia, berupa jasad (fisik) akan hancur, kembali pada materi awal, sementara ruh yang menjadi esensi jati diri manusia akan kembali pada keabadiannya semula.
Seluruh penciptaan ini ditujukan untuk kemaslahatan ruh yang telah dibantu bersemayam di alam materi dalam wujud manusia. Bagi manusia, perpindahan ruh dari kehampaan ruang tak terbatas ke dalam materi yang tertentu merupakan suatu proses penyadaran (pendidikan) dari kebodohan yang telah memalingkan dari jalan kebenaran dan kebahagiaan (as-sa’adah) hakiki kepada kesenangan (al-ladzdzah) sesaat.
Keterjebakan jiwa pada materi merupakan akibat ketidaktahuannya atas hakekat kebahagian sejati, yang karenanya Tuhan menganugerahkan jiwa rasional yang terpancar dari jiwa universal-Nya, sehingga memungkinkan manusia belajar mengetahui hakekat kehidupan, dirinya, kebahagiaan, serta keharusan meningkatkan potensi diri. Keterjebakan tersebut di sisi lain juga memberi kesempatan ruh untuk belajar melalui pengalaman. Karena itu dapat dikatakan bahwa kehendak Tuhan untuk menciptakan kehidupan ini tidak sia-sia (ma khalakta hadza bathila), tetapi sebagai kesempatan untuk belajar hingga manusia dapat memperoleh kebahagiaan hakiki.
Hidup merupakan sebuah kesempatan untuk keluar dari kebodohan menuju kebahagiaan sejati melalui proses belajar. Untuk sampai pada kebahagiaan sejati perlu didahului dengan proses penyadaran atas hakekat diri dan kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak didahului proses penyadaran berarti kebahagiaan dalam ketidaktahuan atau kebodohan, yang berpotensi menjerumuskan ke arah penyimpangan, seperti halnya jiwa yang bodoh tertarik pada meteri.
Filsafat Al-Razi mengarahkan kehidupan untuk mencari kebahagiaan hakiki, yang dapat diperoleh dengan cara membebaskan ruh dari jeratan materi. Kebahagiaan yang ada dalam kehidupan dunia bukan kebahagiaan yang sebenarnya, tetapi hanya kebahagiaan yang semu, bahkan diwarnai dengan rasa sakit dan penderitaan. Namun demikian ar-Razi menilai hidup bukan suatu kesia-siaan, melainkan sebuah kesempatan yang sangat berharga. Kebahagiaan akhirat yakni keterbebasan jiwa dari pengaruh materi dapat diperoleh dengan pengembangan akal secara optimal. Untuk itu diperlukan dukungan rasa yang sehat, di mana seluruh pekerjaan tubuh memperoleh porsi perhatian yang cukup, hingga masing-masing dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Upaya yang dapat ditempuh adalah dengan perlakuan masing-masing unsur jiwa  secara seimbang. Ini berarti ada keterkaitan dengan cara hidup yang tepat. Al-Razi menjadikan sifat-sifat Tuhan sebagai acuan dalam menjalani kehidupan. Tuhan adalah Dzat Yang Maha Pandai, Maha Adil dan Maha Pengasih, yang sifat-sifat-Nya harus ditiru manusia. Manusia dituntut belajar agar menjadi pandai, mampu bersikap adil dan bijaksana terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya, serta penuh kasih sayang  terhadap sesama. Al-Razi mencela kehidupan kaum hedonis yang hanya memperturutkan hawa nafsu, sekaligus mencela para rahib dan agamawan yang memilih jalan penyerahan diri secara total dengan cara lebih banyak menghabiskan waktu di tempat ibadah, serta mengabaikan tuntutan hidup yang lain (Iqbal, 2003:79).
Kehidupan ideal didasarkan pada pertimbangan kesehatan jiwa dan raga sebagai standar idealitas kehidupan. Untuk itu manusia berkewajiban memelihara karunia Tuhan berupa fisik dan psikis dengan perlakuan seimbang. Keseimbangan diri manusia itulah yang nantinya membentuk pribadi paripurna, yang tercermin dalam perilaku kehidupannya sehari-hari. Keberhasilan individu dalam melakukan kontrol pribadinya berarti berhasil menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Dalam hal ini akal memainkan beberapa fungsi: pertama, mencari dan menemukan kebenaran hingga mampu menentukan baik buruk tata nilai yang ada, sekaligus berperan sebagai alat kontrol pribadi agar dapat menyesuaikan diri dengan tata nilai atau kebenaran yang diyakini. Kedua, akal berperan dalam mengembangkan ilmu dan menciptakan berbagai perabot (teknologi) untuk memudahkan dalam memenuhi hajat kehidupannya.
Prinsip keseimbangan juga menjadi landasan dalam tata pergaulan kemasyarakatan, di mana demi kebaikan bersama antar anggota masyarakat perlu dijalin hubungan saling menguntungkan dengan cara saling membantu dan bekerja sama. Karena itu kehidupan ideal menuntut keadilan dalam kerja sama kemasyarakatan. Adalah tidak layak bila seseorang harus membayar terlalu mahal untuk sebuah jasa, karena hal itu berarti kerugian di satu pihak, dan sebaliknya pelayanan terlalu besar dibanding imbalan sama halnya dengan perbudakan.
4.      Filsafat Rasionalis
Nasution (2008:25) mengatakan bahwa Al-Razi adalah seorang filsuf yang berani mengeluarkan pendapat-pendapatnya yang bertentangan dengan paham yang dianut umat Islam, seperti tidak percaya wahyu; Al-Qur’an bukan mukjizat; tidak percaya nabi-nabi; tidak percaya adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan.
Ar-Razi adalah seorang rasionalis murni dalam bidang kedokteran, studi klinis yang dilakukannya telah menghaslkan metode yang kuat tentang penemuan yang berpijak pada observasi dan eksperimen. Dalam kitab Al-Faraj ba’d Asy-Syiddah-nya At-Tanukhi (w 384 H/ 994 M ) dan dalam Maqalah-nya Nizami ‘Arudi Samarqandi yang ditulis sekitar tahun 550 H/ 1155 M, kita dapati kasus-kasus yang dilakukan Ar-Razi, dimana ia menunjukkan metode penemuan klinis yang sangat baik. E. G. Browne, dalam Arabian Medicine, telah menerjemahkan satu halaman yang mungkin diambil dari Hawi-sebuah naskah yang ditulis Ar-Razi yang menunjukkan metode ini.[18]
Rasionalis seorang Al-Razi terhadap akal tampak jelas dalam bukunya Ath-Thibb Ar-Ruhani, ia mengatakan, “Tuhan, segala puji bagi-Nya, Yang telah memberi kita akal agar dengannya, kita memperoleh sebanyak-banyak manfaat; inilah karunia terbaik Tuhan kepada kita. Dengan akal kita melihat segala yang berguna bagi kita dan yang membuat hidup kita baik- dengan akal, kita dapat mengetahui yang gelap, yang jauh, dan yang bersembunyi dari kita... dengan akal pula kita dapat memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, suatu pengtahuan yang tertinggi yang dapat kita peroleh... jika akal sedemikian mulia dan penting, kita tidak boleh melecehkannya; kita tidak boleh menentukannya, sebab ia adalah penentu, atau memerintahnya, sebab ia adalah pemerintah; tetapi kita harus merujuk kepadanya dalam segala hal dan menentukan segala masalah dengannya kita harus sesuai dengan perintahnya.[19]      
Pernyataan di atas dengan jelas menempatkan Al-Razi sebagai rasionalis murni, yakni tiada tempat bagi wahyu atau intuisi mistis. Hanya akal logislah yang merupakan kriteria tunggal pengetahuan dan perilaku. Tidak ada kekuatan irasonal dapat dikerahkan. Al-Razi menentang kenabian, wahyu, kecenderungan berpikir irasional.[20] Manusia lahir dengan kemampuan yang sama untuk meraih pengetahuan. Hanya melalui pemupukkan kemampuan inilah, manusia menjadi berbeda, ada yang menggunakannya untuk spekulasi dan belajar, ada yang megabaikannya, atau mengarahknnya untuk kehidupan praktis.
Begitu juga, dalam tulisan Harun Nasution[21] atau Fuad al-Ahwani[22] dikatakan bahwa Al-Razi adalah seorang filsuf yang berani mengeluarkan pendapat-pendapatnya yang bertentangan dengan paham yang dianut umat Islam, seperti tidak percaya wahyu; Al-Qur’an bukan mukjizat; tidak percaya nabi-nabi, tidak percaya adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan.
Pernyataan ini tampaknya tidak objektif sebagaimana penulis kutip tulisan Ahmad Aziz Dahlan bahwa Al-Razi seorang filsuf muslim dan tidak boleh dikafirkan. Analisis ini dapat ditemukan dalam kitabnya Bar’u al-Sa’aah dam Sirr Al-Asrar, atau Ath-Thibb Ar-Ruhani, sebagai berikut: 
   “Mengendalikan bahwa nafsu adalah wajib bagi penurut rasio, menurut semua orang berakal dan menurut semua agama dan wajiblah manusia yang baik, yang utama yang sempurna menunaikan apa yang diwajibkan agama yang benar kepadanya (asy-syariah al-muhiqqah), tidak takut pada kematian karena agama yang benar itu sungguh telah menjanjikan kepadanya kemenangan, ketentraman dan masuk ke dalam kenikmatan yang terus menerus.”[23]
Al-Razi juga mengakui kenabian sebagaimana ia menyatakan bahwa “ Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada ciptaan-Nya yang terbaik, Nabi Muhammad dan keluarganya dan semoga Allah shalawat kepada syaid kita, kekasih kita, dan penolong kita dihari kiamat, Muhammad, semoga Allah melimpahkan kepadanya shalawat dan salam yang banyak selamanya.”[24]
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Al-Razi adalah seorang rasionalis-religius, bukan rasionalis-liberal karena Al-Razi masih mengakui dan mendasarkan logikanya kepada agama dan kewahyuan (Supriyadi, 2009:77).
5.      Filsafat Moral
Filsafat ini dapat digali dari karyanya: Ath-Thibb Ar-Ruhani dan Ash-Shirat Al-Falsafiyyah. Ia menjelaskan teorinya tentang kesengan, suatu teori yang ia bahas lagi dalam sebuah surat khusus. Baginya, kebahagiaan tidak lain  adalah kembalinya apa yang telah tersingkir oleh kemudharatan, misalnya, orang yang meninggalkan tempat yang teduh menuju ke tempat yang penuh sinar matahari dan panas akan senang ketika kembali ke tempat yang teduh tadi. Dengan alasan ini, kata Al-Razi, para filsuf  alami mendefinisikan kebahagiaan sebagai kembali kepada alam. Al-Razi mengutuk cinta sebagai suatu keberlebihan dan ketundukan kepada hawa nafsu. Kemarahan muncul dalam diri binatang agar mereka dapat melakukan pembelaan terhadap bahaya yang mengancam. Bila berlebihan, hal itu berbahaya sekali bagi mereka.[25]
Pada bab terakhir, ia menulis tema yang paling sesuai dalam pemikiran Hellenistis dan abad pertengahan awal,yaitu tentang takut mati. Di sini Al-Razi mencakupkan dirinya dengan pendapat orang-orang yang berpendirian bahwa bila tubuh hancur, roh juga hancur. Setelah mati, ia tidak akan merasa sakit selamanya. Sebaiknya orang yang menggunakan nalar menghindari rasa takut mati karena bila ia mempercayai kehidupan lain ia tentu gembira, karena melalui mati ia pergi kedunia lain yang lebih baik. Bila ia percaya bahwa tiada sesuatu pun setelah mati ia tak perlu cemas. Betapa pun orang tidak perlu merasa cemas akan kematian karena tidak ada alasan untuk cemas,[26] tegas Al-Razi bahwa jiwa yang mati bersamaan dengan badan, dengan menunjukkan pada mereka bahwa bahkan tanpa keabadian pun, “kematian lebih bermanfaat bagi manusia dari pada kehidupan”, karena dalam kematian tidak ada penderitaan sementara dalam kehidupan penderitaan bergandengan tangan dengan kesenangan.[27]
Filsafat moral atau etika Al-Razi sangat bijak, bahkan intelektualisme eksesif yang tampaknya ia diagnosis ada dalam dirinya sendiri, mengikuti saran Galen bahwa kita dapat menemukan keburukan-keburukan kita sendiri dari musuh kita, diakui sebagai keburukan karena daya rusaknya terhadap kesehatan dan ketenagan pikiran kita, dan karena rasa prustasi yang tak terelakkan yang diakibatkan oleh tak terpenuhi ambisi intelektual. Karena itu, seperti telah saya tegaskan beberapa tahun lalu, “kesenangan” menurut Al-Razi di sini “menjadi hakimnya akal dan bukan alasan untuk bersennag-senang”.
Dalam tulisan Lenn E. Goodman yang mempersamakan filsafat moral Ar-Razi dengan Epicurus. Al-Razi menganggap sebagai kesalahan moral mendasarkan penilaian etis pada pertimbangan-pertimbangan di luar kesenangan pribadi manusia dalam pengertian ketenangan jiwa dan emosi (ataraxia). Keseluruhan etikanya difokuskan pada imbauan kepada akal untuk mengontrol hawa nafsu (al-hawa). Seperti ditegaskan Mohaghegh, Al-Razi lebih banyak menggunakan kata hawa daripada para filsuf moral Islam lainnya”  dalam membicarakan pentingnya memerangi, menekan, menahan, dan mengendalikan hawa nafsu.[28]




BAB III
SIMPULAN

Ar-Razi adalah filosof yang hidup pada masa pendewaan akal secara berlebihan. Hal ini sebagaimana Mu’tazilah yang merupakan  theologi dalam Islam. Apabila Al-Razi seorang muslim maka dia bukanlah seorang muslim yang sempurna disebabkan ketidak percayaannya kepada wahyu dan kenabian. Akan tetapi Al-Razi tetap dipandang pada masanya sebagai seorang yang tegar dan liberal di dalam Islam. Bahkan dalam sejarah Al-Razi adalah seorang yang dikenal sebagai seorang rasional murni dan sangat mempercayai akal, bebas dari prasangka serta terlalu berani dalam mengeluarkan gagasan filosofinya dan untuk mengakhiri makalah ini saya akan menukil pernyataan Al-Ghazali mengenai persoalan-persoalan yang terdapat dalam karya-karya filosof Islam yang menurutnya dapat merusak ajaran Islam. Al-Ghazali mencatat ada dua puluh persoalan, dari dua puluh persoalan tersebut tujuh belas diantaranya dipandang sebagai pembaharuan yang tercela (bid’ah) dan tiga diantaranya yakni pandangan filosof tentang (1) yakni badan manusia tidak akan dibangkitkan pada hari kiamat, akan tetapi jiwa yang dicabut dari badan yang akan diberi balasan baik atau hukuman dan baik pahala atau hukum tersebut adalah dalam bentuk spritual dan bukan bentuk jasmaniah (2) Tuhan yang maha Mulia hanya mengetahui hal-hal yang universal dan bukan yang partikular dan (3) bahwa dunia ini Qodim baik waktu yang lalu maupun yang akan datang. Oleh Al-Ghazali ketiga pandangan itu menyebabkan para filosof dapat dipandang kafir.







DAFTAR PUSTAKA

Ali, Yusril, Perkembangan Pemikiran Filsafat Dalam Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Heris Hermawan dan Yaya Sunarya. 2011. Filsafat Islam, Bandung: CV. Insan Mandiri
Mustofa, A. 2009. Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia
Nasution, Harun, Fisafat dan Mistisme Dalam Islam, Jakarta : Bulan Bintang
Nasution, Hasymsyah, Filsafat Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama
Sirajuddin Zar, 2004. Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, Jakarta : Grafindo Persada,
Sudarsono. 2010. Filsafat Islam, Jakarta : Rineka Cipta
Supriyadi, Dedi. 2009. Pengantar Filsafat Islam, Bandung : CV Pustaka Setia



[1] Dedi Supriyadi, pengantar Filsafat Islam, Pustaka Setia, Bandung, 2009, hlm. 68
[2] Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, MA.,”Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya”, Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hlm. 112.
[3] M.M. Syarif, MA., “Para Filosof Muslim”, Mizan, Bandung, 1992, hlm. 31.
[4] Ibid Sirajudin Zar, hlm 116
[5] Yusril Ali, Op.Cit, hal. 34
[6] Hasymsyah Naution, Filsafat Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama
[7] Drs. H. A Mustofa, Filosafat Islam, Bandung: Pustaka Setia , hal.117
[8] Harun Nasution, Op.Cit, hal 19
[9] Bagus Takwin, Filsafat Timur, hal. 123
[10] Dedi Supriyadi,  Pengantar Filsafat Islam., hlm 71
[11] Ibid  hlm. 72
[12] Kitab Manshuri, yang dipersembahkan Ar-Razi kepada Gubernur Dinasti Samaniyyah di Rayy, Al-Manshur Ibn Ishaq (w.313 H/925 M), menurut ‘Ali Ibn Al-‘Abbas (w. 385 H/994 M), menjadi rujukan utama pendidikan kedokteran abad ke-12 yang dialih bahasakan ke Latin Liber Almansoris oleh Gerard dari Cremona; lihat Lenn E.Goodman,Ibid.,hlm. 244
[13] Lenn. E. Goodman, Ibid., hlm. 246.
[14] Drs. H. A. Mustofa, Op.Cit, hal. 120
[15] Yusril Ali, Op.Cit, hal.38
[16] M.M.Syarif, Ibid., hlm.38.
[17] Ibid.
[18] M. M. Syarif, Ibid., hlm. 38. Kitab Hawi diterbitkan di Hyderabad dalam bahsa Arab pada 1955. Sebelum meninggal,Ar-Razi menerbitkan empat media dengan judul kitab Al-Hawi; lihat Sayyed Hosen Nasser, Ibid., hlm. 669.
[19] Ibid., lihat pula Opera Philosophica, Vol. 1, 1939, hlm., 17-18.
[20] Informasi bahwa Ar-Razi tdak mengakui Nabi, wahyu, dan ajaran kenabian disampaikan oleh Abu Hatim Ar-Razi(w.321 H/933 M), tokoh propagandis Syiah Ismailiah yang sezaman dengan Ar-Razi tetapi memusuhinya. Bila benar informasi ini, tentu Ar-Razi tidak dapat disebut  filsuf dan dokter muslim. Bila tidak benar, maka Ar-Razi tidak disebut kafir atau rasionalis murni yang menolak adanya wahyu. Sebenarnya dalam karya Ar-Razi disamping ia menghargai akal, ia juga menghargai syariat atau agama.
[21] Harun Nasution, filsafat....., Ibid., hlm.25.
[22] M. M. Syarif, Para Filosof....., Ibid., hlm. 46-47.
[23] Ahmad Aziz Dahlan sebagaimana dalam kitab Al-Thibb Al-Ruhani, Ibid., hlm. 185.
[24] Ibid., hlm. 185.
[25] Ibid., hlm.49.
[26] Ibid
[27] Seyyed Hosen Nasser [editor], Ibid., hlm.265.
[28] Lenn E. Goodman, Ibid., hlm. 260. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar