Jumat, 26 Oktober 2012

kebutuhan sosial psiokolgis remaja dalam pendidikan islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Setiap manusia memiliki kebutuhan (fisiologis, psikologis dan sosiologis) yang memerlukan pemenuhan dan sebagai muslim jelas segala hal harus berlandaskan syariat islam. Semua orang berusaha dengan berbagai sikap dan tingkah laku untuk memenuhi kebutuhannya itu.
Remaja sebagai salah satu tahap perkembangan manusia juga memiliki berbagai kebutuhan yang sama seperti diatas. Dimana remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. (Darajat Zakiah, hal: 8).
Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintelegensi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan uang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini. Semua hal itu harus di dasari dengan nilai-nilai Islam sebagai agama umat muslimin, yang bias di dapatkan dengan pendidikan islam.
Fase remaja merupakan penentu masa depan, sehingga  diperlukan pola pendidikan yang tepat, disinilah peran psikologi. Psikologi Barat menawarkan beberapa solusi, tetapi konsep  fitrah, dan lain-lain tampak terabaikan. Realitanya, remaja menghadapi problem tersendiri,  sehingga pendidikan Islam memerlukan  psikologi islami  yang aplikatif guna mencapai tujuannya. Untuk ini dilakukan dua pendekatan, yaitu : 1) memahami konsep-konsep psikologi Barat yang telah lulus dari scanning, yaitu yang sesuai dengan norma-norma keislaman, dan 2) mencari konsepkonsep psikologis dari ajaran Islam itu sendiri.
Kata Kunci : Psikologis – Problem – Solusi – Isl
Dari uraian diatas kami tertarik untuk membahas tentang jenis-jenis kebutuhan remaja dalam pendidikan islam, yang kemudian kami rangkum dalam bentuk makalah ini.

B.     Batasan Masalah
Makalah ini hanya mengkaji pokok bahasan tentang jenis-jenis kebutuhan remaja dalam perkembangannya, yang dititik beratkan pada aspek “Kebutuhan Sosial Psikologis Remaja dalam Pendidikan islam”.

C.    Rumusan Masalah
Fokus dalam penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan:
1.      Pengertian, Ruang Lingkup, dan Peran Psikologi Remaja
2.      Jenis-jenis kebutuhan sosial psikologis pada masa remaja
3.      Pengertian dan Tujuan Pendidikan Islam
4.      Kebutuhan psikolgis remaja dalam pendidikan Islam

D.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui berbagai bentuk kebutuhan remaja terutama kebutuhan sosial psikologisnya, pengaruh yang timbul apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dan usaha yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan remaja tersebut.



BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian, Ruang Lingkup, dan Peran Psikologi Remaja
A.    Jenis-Jenis Kebutuhan Manusia
Maslow merumuskan kebutuhan manusia terdiri dari 2 jenis yang berjenjang, dinamakan “Hirarki Kebutuhan” dan dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Kebutuhan Fisiologi/fisik
Merupakan kebutuhan yang berkaitan dengan kebutuhan fisik dan merupakan kebutuhan yang berada pada level paling utama untuk kelangsungan hidup manusia. Contohnya kebutuhan untuk makan, minum, pakaian, seks dan sejenisnya.
  1. Kebutuhan Psikologi
a.       Kebutuhan rasa aman
Disebut juga dengan “safety needs”. Rasa aman dalam bentuk lingkungan psikologis yaitu terbebas dari gangguan dan ancaman serta permasalahan yang dapat mengganggu ketenangan hidup seseorang.
b.      Kebutuhan akan Rasa Cinta dan memiliki atau kebutuhan social
Disebut juga dengan “love and belongingnext needs”. Pemenuhan kebutuhan ini cenderung pada terciptanya hubungan social yang harmonis dan kepemilikan.
c.       Kebutuhan Harga diri
Disebut juga dengan “self esteem needs”. Setiap manusia membutuhakan pengakuan secara layak atas keberadaannya bagi orang lain. Hak dan martabatnya sebagai manusia tidak dilecehkan oleh orang lain, bilamana terjadi pelecehan harga diri maka setiap orang akan marah atau tersinggung.
d.      Kebutuhan Aktualisasi Diri
Disebut juga “self actualization needs”. Setiap orang memiliki potensi dan itu perlu pengembangan dan pengaktualisasian. Orang akan menjadi puas dan bahagia bilamana dapat mewujudkan peran dan tanggungjawab dengan baik.

B.     Pengertian Masa Remaja
a.        Pengertian
Menurut asal katanya, psikologi berasal dari kata Yunani : psyche yang  berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu
 jiwa (Sarwono: 1996, 3). Definisi ini masih kabur, sebab bagaimana maksud  “jiwa” belum terjawab, sehingga sering muncul perbedaan pendapat mengenai  psikologi. Para pakar mendefinisikan sesuai dengan arah dan aliran masingmasing. Sebelum psikologi berdiri sebagai suatu disiplin ilmu pada tahun 1879, psikologi (gejala-gejala kejiwaan dipelajari oleh filsafat dan ilmu faal).
Oswald Kroh berpendapat  bahwa yang seharusnya dijadikan indikator adalah keadaan psikologis dengan ciri-ciri khusus sebagai berikut :
·         Remaja putra  : Aktif, memberi, cenderung memberi perlindungan, aktif meniru pribadi pujaannya, minat tertuju pada hal-hal yang bersifat intelektual, abstrak, “zakelijk”, berusaha memutuskan sendiri dan ikut berbicara.
·                     Remaja puteri : Pasif, menerima, cenderung menerima perlindungan, pasif dalam mengagumi pribadi pujaan, minat tertuju pada hal-hal yang bersifat emosional, konkrit, “persoonlijk”, berusaha mengikut dan menyenangkan orang lain (Suryabrata: 1989, 236).
Jelasnya, yang dimaksud psikologi remaja dalam tulisan ini adalah ilmu yang mempelajari “tingkah laku”  sebagai bentuk renspons  manusia dengan kategore “remaja” baik yang ditentukan dengan umur atau ciri-ciri  psikologis tertentu.
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. (Darajat Zakiah, Remaja harapan dan tantangan: 8).
Fase remaja merupakan perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Menurut Konpka (Pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi (a) remaja awal: 12-15 tahun; (b) remaja madya: 15-18 tahun; (c) remaja akhir: 19-22 tahun. Dimana pada masa ini keadaan atau kondisi emosi kejiwaannya masih dalam koridor kelabilan. Masa remaja ini juga disebut dengan masa transisi, di mana seorang remaja mengalami perubahan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, ditandai dengan emosi yang sangat labil. Pada masa transisi ini seorang remaja mencari perhatian-perhatian khusus, baik dari pihak orang-orang terdekatnya maupun orang yang belum dikenalnya sama sekali.
Ciri-Ciri Masa Remaja:
  1. Masa remaja sebagai periode peralihan, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak ke peralihan masa dewasa.
  2. Masa remaja sebagai periode perubahan.
  3. Masa remaja sebagai usia bermasalah.
  4. Masa remaja sebagai masa mencari identitas.
  5. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, karena masalah penyesuaian diri dengan situasi dirinya yang baru, karena setiap perubahan membutuhkan penyesuaian diri.
  6. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
  7. Ciri-ciri kejiwaan remaja, tidak stabil, keadaan emosinya goncang, mudah condong kepada ekstrim, sering terdorong, bersemangat, peka, mudah tersinggung, dan perhatiannya terpusat pada dirinya.

2.      Jenis-jenis Kebutuhan Sosial Psikologis pada Masa Remaja
Kebutuhan remaja dapat dibedakan atas dua jenis yaitu :
  1. Kebutuhan Fisik
Remaja memiliki kebutuhan fisik yang relatif sama dengan orang lain yang bukan remaja. Perbedaan kebutuhan seorang remaja dengan orang lain terletak pada jumlah atau porsinya. Kebutuhan-kebutuhan fisik harus terpenuhi karena remaja berada dalam pertumbuhan yang sangat pesat seperti pertumbuhan tulang, otot dan berbagai organ tubuh lainnya. Jika kebutuhan fisik remaja tidak terpenuhi, maka bukan saja pertumbuhannya tidak maksimal tetapi juga kesehatan fisik dan mentalnya dapat terganggu.
  1. Kebutuhan Psikologis
Kebutuhan psikologis yang paling menonjol pada periode remaja adalah kebutuhan mendapatkan status, kemandirian, keakraban dan memperoleh filsafat hidup yang memuaskan untuk mengembangkan kodrat kemanusiaannya.
a)      Kebutuhan untuk mendapatkan status
Remaja membutuhkan perasaan bahwa dirinya berguna, penting, dibutuhkan orang lain atau memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri.
b)      Kebutuhan kemandirian
Remaja ingin lepas dari pembatasan atau aturan orang tua dan mencoba mengarahkan atau mendisiplinkan diri sendiri. Remaja harus diperlakukan sebagai individu yang dewasa agar mereka bertingkah laku yang lebih dewasa karena hal tersebut akan memenuhi kebutuhan mereka untuk mandiri.
c)      Kebutuhan Berprestasi
Kebutuhan berprestasi erat kaitannya dengan kedua kebutuhan yang telah dikemukakan diatas. Artinya kalau kebutuhan berprestasi dapat dipenuhi maka kebutuhan mendapatkan status dan mandiri juga terpenuhi.
d)     Kebutuhan Diakrabi
Kebutuhan untuk diakrabi bagi remaja dimaksudkan agar orang lain memahami ide-ide, kebutuhan-kebutuhan dan permasalahan yang dihadapinya.
e)      Kebutuhan untuk memiliki filsafat hidup
Remaja mulai mempunyai keinginan untuk mengenal apa tujuan hidup dan bagaimana kebahagiaan diperoleh. Suatu filsafat hidup yang memuaskan adalah yang bernilai kemanusiaan. Jika filsafat hidup telah dimiliki, maka perasaan manusiawi tumbuh subur dalam diri remaja sehingga segenap aktivitasnya diliputi perasaan aman dan damai.
Disamping rumusan tersebut ada tujuh jenis kebutuhan khas remaja yang dikemukakan oleh Garrison (dalam Andi Mappiare: 1982) yaitu :
1.      Kebutuhan untuk memperoleh kasih sayang
2.      Kebutuhan untuk diikutsertkan dan diterima oleh kelompoknya
3.      Kebutuhan untuk mampu mandiri
4.      Kebutuhan untuk mampu berprestasai
5.      Kebutuhan untuk memperoleh pengakuan dari orang lain
6.      Kebutuhan untuk dihargai
7.      Kebutuhan untuk mendapatkan falsafah hidup
Adanya tujuh macam kebutuhan khas remaja ini secara umum memang ada pada kebanyakan anak muda, tetapi tingkat intensitasnya sangat dipengaruhi oleh latar belakang keluarga masing-masing., factor social, individual, cultural dan religius.

a.      Pengaruh Kebutuhan yang Tidak Terpenuhi Terhadap Tingkah Laku Remaja
Usaha memenuhi kebutuhan bagi remaja tidaklah mudah, melainkan sangat rumit, kompleks dan bervariasi sebagai contoh kebutuhan remaja yang sering kurang memperoleh kebutuhan adalah kebutuhan akan kasih sayang dari orang tua maupun orang dewasa lainnya. Hal ini akan mengakibatkan remaja cenderung mencari penyelesaiannya sendiri dengan cara membanci orang tua, suka mencari perhatian orang lain, lebih betah berkumpul dengan teman sebayanya, mencari orang lain sebagai pengganti orang tuanya, yang dapat memenuhi kebutuhannya itu seperti gurunya, pemuka masyarakat, mencintai orang yang lebih dewasa dsb. (Muri Yusuf, 1999).
Apabila kebutuhan social-psikologis tidak terpenuhi maka akan mengakibatkan timbulnya rasa tidak puas, menjadi frustasi dan terhambatnya pertumbuhan serta perkembangan sikap positif terhadap lingkungan dan dirinya. Sebagai contoh masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial), yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja, khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen, di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua, terutama secara ekonomis. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada, jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.
      Selain yang telah dipaparkan di atas, tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja menjadi amat penting. Dalam hal ini, peranan orang tua, sekolah, serta masyarakat sangat diharapkan. (Diterbitkan 31 Januari 2008 psikologi pendidikan).

b.      Usaha atau Tindakan yang Dapat Dilakukan Untuk Memenuhi Kebutuhan Remaja
Lingkungan keluarga didukung pihak sekolah perlu melakukan berbagai usaha membantu memenuhi kebutuhan remaja, agar tidak menimbulkan kesulitan atau permasalahan bagi remaja. Saran yang perlu dilakukan adalah :
  1. Perlu mengetahui pengalaman mereka di masa lalu (seperti perkembangannya, penerimaan dirinya, perlakuan masa kecil yang dia alami, kepuasan dirinya, dan lain-lain).
  2. Perlu mengetahui dorongan-dorongan (motives) yang menyebabkan mereka berbuat sesuatu (misalnya kebutuhan untuk disayangi, ingin meniru, ingin diperhatikan, ingin disayangi dan lain-lain).
  3. Bersikap jujur dan terbuka kepada mereka dan jangan pura-pura.
  4. Hidup bersama mereka dan bukan hidup untuk mereka.
  5. Memberi kesempatan terhadap mereka untuk mengemukakan pendapat secara bebas, penuh pengertian, dan perhatian dalam suatu komunikasi dialogis
  6. Mencurahkan kasih sayang namun tidak memanjakan, melaksanakan kondisi yang ketat dan tegas namun bukan tidak percaya atau mengekang anggota keluarga.
  7. Berperan sebagai kawan dan bersahabat, penuh pengertian dan penerimaan, sehingga dapat membantu mencari jalan keluar dari kesulitan yang dialami anak remaja.
  8. Memotivasi anak dan mendorong untuk meraih prestasi yang setinggi tingginya.
Semua itu dilaksanakan dengan ketulusan, kesabaran dan konsisten dengan komitmen semata-mata demi kesuksesan dan kebahagiaan anak masa remaja.(buletinlitbang@dephan.go.id).
Guru atau orang dewasa lainnya perlu melakukan berbagai usaha atau tindakan untuk memenuhi kebutuhan remaja, misalnya:
  1. Usaha untuk memenuhi kebutuhan mendapatkan status
a.       Mengembangkan bakat khusus remaja dengan berbagai rangsangan dan menghargai prestasi mereka dalam bakat khusus tersebut. Memberikan penghargaan kepada remaja disesuaikan dengan kecepatan dan prestasi mereka masing-masing.
b.      Menghindari pemberian motivasi dengan membandingkan remaja secara individu baik dalam prestasi akademis maupun bakat khusus.
c.       Tidak menuntut remaja berprestasi sama, walaupun waktu, guru dan metode belajar yang sama.
  1. Memenuhi kebutuhan untuk mandiri
a.       Memotivasi remaja membuat rencana atau program untuk pemgembangan bakat atau potensi mereka.
b.      Memberi kesempatam remaja untuk mengemukakan ide-ide mengambil keputusan, membentuk kelompok dan program pengembangan bakat.
c.       Memberi penghargaan atau penguatan kepada kelompok remaja yang kreatif dalam belajar misalnya menemukan sendiri bahan belajar yang relevan dari berbagai sumber yang tidak semata-mata kepada materi yang diajarkan guru.
  1. Memenuhi kebutuhan Berprestasi
a.       Memberikan penilaian kalau siswa telah menguasai bahan yang dipelajarinya sehingga semua siswa mendapat nilai baik.
b.      Memotivasi dengan cara membandingkan prestasi sebelumnya dengan prestasi yang sekarang, jika seorang remaja itu menunjukkan penurunan prestasi. Dengan demikian siswa bersangkutan dapat memahami atau berkeyakinan diri yang kuat bahwa ia saat sekarang juga harus berprestasi sebagaimana yang pernah dicapai atau diraihnya pada masa lampau.
c.       Membantu siswa mengembangkan bakat-bakat khusus secara serius, sehingga prestasi bakat khusus mereka dapat dibanggakan dalam kelompok.
  1. Memenuhi Kebutuhan untuk Diakrabi
a.       Guru harus membina kedekatan fisiologis dengan siswanya, dengan cara membantu mereka mengatasi kesulitan dalam belajar maupun kesulitan permasalahan pribadinya.
b.      Selalu bekerjasama dalam berbagai kesempatan, menyusun program kebersihan kelas dan pengembangan bakat.
  1. Memenuhi Kebutuhan filsafat hidup
a.       Memberikan informasi tentang nilai kebenaran dalam kehidupan melalui berbagai materi pelajaran yang terkait seperti agama, seni dan ilmu sosial.
b.      Menjadikan guru dan teman mereka sebagai model karena telah menerapkan nilai kebenaran, agama dan ilmu pengetahuan dalam kehidupannya.
c.       Melakukan bimbingan dan konseling kelompok atau individual untuk membentuk keyakinan dan keterampilan memecahkan masalah kehidupan dengan cara-cara bernilai moral dan kebenaran.

3.      Peran psikologi dalam pendidikan
Ketika pendidikan merupakan suatu proses, suatu aktivitas dan suatu rangsang, yang diarahkan untuk menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku dari seseorang yang diinginkan sesuai dengan tujuan pendidikan. Tingkah laku di  sini mencakup  tiap aksi, tiap respons atau apa saja yang dikerjakan oleh seseorang,  dan  apa yang dipikirkan, pandangan-pandangannya serta sikapsikapnya terhadap beberapa persoalan yang ada di dalam kehidupan dan lingkungan.
Langeveld membedakan dua jenis pendidikan, yaitu : a) Paedagogik sadar, dan b) Paedagogik tak sadar. Paedagogik sadar termasuk semua tindakantindakanpendidikan yang dikerjakan dengan berencana dan secara sitematis. Psikologi pendidikan penting kedudukannya dalam paedagogik sadar tersebut(Hasan: 1994, 58). Dalam konteks ini, “pendidik” harus mampu  menciptakan perangsang-perangsang yang memungkinkan potensi ini berkembang berupa kecakapan-kecakapan yang wajar (skill), pengetahuan yang berguna (knowledge), dan sikap-sikap yang baik (attitudes) (Hasan: 1994, 58)

a.      Tujuan Pendidikan Islam
Istilah tujuan atau sasaran atau maksud, dalam bahasa arab dinyatakan dengan ghayat atau ahdaf atau maqasid. Sedangkan dalam bahasa Inggris istilah tujuan dinyatakan dengan goal atau purpose atau aim atau objective. Secara umum istilah-istilah itu mnegandung pengertian yang sama, yaitu arah suatu perbuatan atau yang hendak dicapai melalui upaya atau aktifitas.
Tujuan menurut Zakiah Darajat, adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Sedangkan menurut H.M. Arifin  suatu jarak tertentu yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha melalui proses tertentu.
Dalam adhagium ushuliyah dinyatakan bahwa: “ al-umur bi maqashidiha”, bahwa setiap tindakan dan aktifitas harus berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan. Adhagium ini menunjukkan bahwa pendidikan seharusnya berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai, bukan semata-mata berorientasi pada sederetan materi. Karena itulah, tujuan pendidikan Islam menjadi komponen pendidikan yang harus dirumuskan terlebih dahulu sebelum merumuskan komponen-komponen pendidikan yang lain.
             
b.      . Tahap-tahap Tujuan
Abu ahmadi mengatakan bahwa tahap-tahap pendidikan Islam meliputi;
·         Tujuan tertinggi/ terakhir
            Tujuan ini dirumuskan dalam satu istilah yang disebut insan kamil (manusia paripurna), dengan indicator sebagai berikut:
a.       Menjadi hamba Allah
Firman Allah :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿٥٦﴾
            Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka       menyembah-Ku. [QS. Adz-Dzariyat : 56].

b.      Menghantarkan subjek didik menjadi khalifah fi al-ardh, yang mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya lebih jauh lagi, mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya sesuai denag tujuan penciptaanya dan sebagai konsekuansi setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup.
Firman Allah

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٠﴾
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". [QS. Al-Baqarah : 30]

c.       Untuk memeroleh kesejahteraan kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat baik individu maupun masyarakat.
·         Tujuan umum
            Para ahli pendidikan Islam merumuskan Tujuan pendidikan Islam  diantaranya:
a.      Al-abrasyi
Menyimpulkan lima tujuan umum pendidikan Islam yaitu :
1.      Untuk mengadakan pembentukkan akhlak yang mulia.
2.      Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat
3.      Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi manfaat, atau yang dikenal sekarang ini dengan nama tujuan-tujuan vokasional dan professional.
4.      Menumbuhkan rasa ingin tahu (curioysity) dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri.
5.      Menyiapkan pelajar dari segi professional, tekhnikal, dan keterampilan pekerjaan tertentu agar ia dapat mencari rezeki dalam hidup disamping memelihara segi kerohanian dan keagamaan.
b.      Nahlawy
1.      Pendidikan akal dan persiapan pikiran
2.      Menumbuhkan potensi dan bakat anak
3.      Memerhatikan kekuatan dan potensi generasi muda
4.      Berusaha menyumbangkan potensi dan bakat manusia
c.       Al-Buthi
1.      Mencapai keridhaan Allah SWT
2.      Mengangkat taraf akhlak dalam masyarakat
3.      Memupuk rasa cinta tanah air yang diturunkan untuk membimbing masyarakat
4.      Memupuk rasa cinta tanah air dan mengajar manusia kepada akhlak yang mulia
5.      Mewujudkan ketentraman jiwa
6.      Memelihara bahasa arab sebagai bahasa al-quran
7.      Meneguhkan perpaduan tanah air dan kebersatuan
·         Tujuan khusus
Hasan langgulung mencoba merumuskan tujuan khusus yang mungkin dimasukkan dibawah penumbuhan semangat agama dan akhlak antara lain:
1.      Mengenalkan kepada generasi muda tentang  akidah Islam, dan membiasakan mereka melaksanakan ibadah juga menghormati syiar-syiar agama.
2.      Menumbuhkan kesadaran yang betul pada diri pelajarterhadap agama
3.      Menanamkan keimanan terhadap rukun iman
4.      Menumbuhkan minat generasi mudavuntuk menambah pengetaguan agama dan mengamalkannya
5.      Menanamkan rasa cinta terhadap al-quran
6.      Menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah Islam
7.      Menumbuhkan rasa rela, cinta tanah air dan rela berkorban
8.      Mendidik naluri, motivasi dan keinginan generasi muda.
9.      Menanamkan keimanan yang kuat terhadap Allah
10.  Membersihkan hati mereka  dari sifat-sifat negative
·         Tujuan sementara
 Menurut  Zakiah Darajat, tujuan sementara itu merupakan tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurkulum pendidikan formal.
Rumusan tujuan pendidikan yang dihasilkan dari seminar pendidikan Islam tahun 1980 di Islamabad mencerminkan idealitas Islami seperti terkandung di dalam al-quran. Sebagai esensinya tujuan pendidikan Islam yang sejalan dengan tuntutan al-quran itu tidak lain adalah sikap penyerahan diri secara total kepada Allah swt., yang telah kita ikrarkan dalam shalat sehari-hari.
Firman Allah :
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾
Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,[ QS. Al-an’am: 162]
Dari beberapa rumusan tujuan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah: “terbetuknya insan kamil yang didalamnya memiliki wawasan kaffah agar mampu menjalankan tugas-tugas kehambaan, kehalifahan, dan pewaris nabi.

4.      Kebutuhan Psikologis Remaja dalam Pendidikan Islam
Mengidentifikasi fenomena  psikologis pada zaman modern ini, tidak sempurna kiranya jika  psikologi yang dikontekskan tidak dikaitkan dengan sumber peran spiritual yakni agama. Agama yang mempunyai satu sistim pengetahuan diawali dengan keyakinan kemudian mampu memberikan nilai yang sangat sakral dan mempengaruhi pola pikir, rasa dan tingkah laku manusia. Dalam hal ini peran agama sangat besar bagi pengkajian spiritual yang dikapling psikologi modern. Batasan-batasan nilai agama yang memberi kontribusi pada perkembangan dunia spritual seperti di atas memang sangat rumit untuk dijadikan gejala sebagai obyek penelitian ilmiah. psikologi, pendidikan dan agama dapat diformat lewat pendekatan pengetahuan dan akademis. Logikanya, psikologi remaja sebagai bagian dari psikologi umum erat sekali hubungannya dengan pendidikan Islam sebagai salah satu bagian dari ajaran Islam sebagai agama. Agar pendidikan remaja  Muslim dapat berjalan lancar dan tujuannya bisa dicapai, maka penerapan  psikologi (khususnya psikologi remaja) tak bisa diabaikan. Bahkan faktor ini sangat dominan bagi keberhasilan pendidikan, karena dengan  psikologi dapat diketahui berbagai permasalahan dan kebutuhan para remaja yang erat kaitannya dengan keberhasilan  pendidikan. Selanjutnya,  psikologi punya peran vital untuk mengatasi dan memenuhinya.
Perlu diperhatikan bahwa pada tahap remaja awal (11-15 tahun) merupakan tahap perkembangan kognitif akhir, pada tahap ini mereka mampu mengatasi masalah keterbatasan pemikiran konkret-operasional. Selain itu juga telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan secara simultan atau berurutan dua macam kemampuan kognitif, yakni : 1)  kapasitas menggunakan hipotesis, dan 2) kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak (Syah: 1995, 72). Hal ini juga sering berlaku bagi remaja yang berumur lebih dari lima belas tahun, bahkan
terhadap orang dewasa.Minimal ada dua macam kemampuan kognitif yang perlu dikembangkan oleh guru khususnya, yakni : 1) strategi belajar memahami materi pelajaran, dan 2)  strategi memahami arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung (Syah: 1995, 84). Kedua hal ini angat vital untuk mengembangkan ranah afektif dan psikomotornya.

Keberhasilan mengembangkan ranah kognitif akan menghasilkan kecakapan ranah afektif. Misalnya, dalam pengajaran agama, pemahaman yang mendalam tentang arti penting materi pelajaran agama yang disajikan guru serta prefensi kognitif yang mementingkan aplikasi prinsip-prinsip tadi akan menghasilkan kecakapan ranah afektif siswa. Peningkatan ranah afektif ini antara lain berupa kesadaran keberagamaan yang mantap (Syah: 1995, 85). Kecakapan psikomotor merupakan manifestasi wawasan pengetahuan, kesadaran, dan sikap mental, hal ini sangat tergantung pada keberhasilan pengembangan ranah kognitif, juga tak bisa terlepas dari kecakapan afektif (Syah: 1995, 85). Di sisi lain, para pakar  psikologi kognitif tidak puas bahwa belajar hanyalah sekedar proses hubungan stimulus-respons-reinforcement yang dikontrol  reward dan reinforcement.  Menurut mereka, tingkah laku seseorang lebih tergantung pada insight terhadap hubungan-hubungan  yang ada dalam suatu situasi. Selanjutnya aplikasi psikologi dalam pendidikan juga memerlukan psikologi humanistik yang berusaha memahami perilaku seseorang dari sudut pelaku (behaver).
pengaplikasian  psikologi dalam pendidikan Islam tak bisa terlepas dari  psikologi Islami, untuk ini digunakan dua macam pendekatan, pertama mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan psikologiIslami adalah konsep psikologi modern – yang telah kita kenal selama ini – yangtelah megalami filterisasi dan di dalamnya terdapat wawasan Islam, misalnya aliran  psikologi humanistik.  Meskipun terlalu antroposentrisme, namun struktur kepribadian manusia yang dibangun tokoh-tokoh psikologi modern, seperti alam sadar, pra-sadar, dan tak sadar (psikoanalisis), afeksi, konasi, dan kognisi (behaviorisme) serta dimensi somatis, psikis dan neotik (psikologi humanistik) dapat dipandang Islami setelah semua unsur tersebut dinaungi konsep ruh. Kedua  mengungkapkan bahwa  psikologi Islami adalah ilmu tentang manusia yang kerangka konsepnya benar-benar dibangun dengan semangat Islam dan bersandarkan pada sumber-sumber formal Islam, yaitu Al Quran  dan Sunnah yang dibangun dengan memenuhi syariat-syariat Islam.



BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pada pembahasan makalah tentang kebutuhan social psikologis remaja ini, maka didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
a.       Masa remaja sebagai masa pencarian identitas diri (self identity) memerlukan kebutuhan khas, yaitu kebutuhan fisik dan psikologis. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memerlukan pemenuhan, karena apabila setiap kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada timbulnya gejala-gejala menyimpang yang dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan sikap positif terhadap lingkungan dan dirinya.
b.      Orangtua pada lingkungan keluarga dan guru pada lingkungan sekolah harus mampu berperan aktif dalam menyikapi tumbuh kembang anaknya pada masa remaja dengan melakukan berbagai pendekatan, agar remaja bukan saja menjadi seorang anak ataupun siswa tetapi juga bisa menjadi seorang sahabat/teman bagi dirinya, sehingga kedekatan emosional antara orangtua atau guru disekolah sebagai manusia dewasa dengan remaja dapat terjalin dengan baik.







DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad dan Asrori, Mohammad. 2004. Psikologi Remaja. Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, Muhammad. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Arifin, Muzayyin. 2009. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Cetakan keempat,          Jakarta: PT Bumi Aksara.  
Mudjiran, dkk. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Padang: UNP Press.
Ramayulis. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Cetakan kesembilan, Jakarta: Kalam        Mulia
Shihab, M. Quraisy, Membumikan Al Quran (Bandung : Mizan, 1993).
Syah, Muhibbin,  Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru (Bandung :  Rosdakarya, 1995).
Tim Pembina Mata Kuliah PPD. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Padang: Dikti bekerjasama dengan HEDS-JICA.
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar