Sabtu, 13 Oktober 2012

Ikhwan Ash Shofa


BAB I

PENDAHULUAN


I.1 latar belakang masalah

            Islam adalah agama yang mementingkan perihal pendidikan. Dalam Al-Quran sendiri terdapat perintah mencari ilmu, yang terdapat pada permulaan surat Al-‘Alaq:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.”
            Dari ayat tersebut timbulah keinginan manusia untuk menunaikan perintah Allah tersebut dengan cara mencari ilmu tentang segala hal. Dari ilmu itu sendirilah timbul aliran-aliran Filsafat terdahulu.
Sistem pendidikan masa kini, yang meskipun terus mengalami perubahan kurikulum, telah menimbulkan keresahan bagi kita. Terutama tentang masalah yang menjadi trending topic saat ini, yaitu banyaknya tawuran pelajar yang terjadi di daerah metropolitan. Maka, tiada salahnya jika kita kaitkan pendidikan masa kini kepada model filsafat pendidikan masa dulu. 
Masa ini lebih menghargai para penemu sains muslim, meskipun sebenarnya terbukti bahwa mereka adalah para filosof, tetapi pemikirannya ini yang justru ditinggalkan. Padahal semestinya filsafat Islam itu berkarakter Islami, tentu tak akan merubah apa pun dalam dunia pendidikan Islam, yang ada adalah membuatnya menjadi semakin baik. Filsafat itu tidak bisa dipisahkan dari Islam. Tambahan, bahwa sistem pendidikanlah yang menjadikan filosof-filosof Islam menjadi ilmuwan. Maka, pada makalah ini, akan dibahas pemikiran kelompok Ikhwan Ash Shofa, terutama tentang pemikirannya tentang pola pendidikan.



I.2 Rumusan Masalah 

1.      Bagaimana pembahasan mengenai biografi Ikhwan Ash Shofa?
2.      Apa saja karya-karya Ikhwan Ash Shofa?
3.      Bagaimana penjelasan tentang filsafat Ikhwan Ash Shofa?
4.      Bagaimana konsep pendidikan menurut Ikhwan Ash Shofa?


BAB II

PEMBAHASAN

A.    BIOGRAFI

Ikhwan Ash Shofa adalah perkumpulan para mujtahidin dalam bidang filsafat yang banyak memfokuskan dalam bidang dakwah dan pendidikan. Perkumpulan ini berkembang pada abad kedua Hijriah di kota Bashrah, Irak.[1] Identitas kelompok ini tidak jelas karena mereka bersama para anggota merahasiakan diri dan aktivitas mereka. Menurut informasi As-Sijistani, para pemuka mereka adalah Abu Sulaiman Al-Busti, Abu Al-Hasan Az-Zanjani, Abu Ahmad An-Nahrajuri, Abu Hasan Al-Aufi, dan Zaid bin Rita’ah. Kalangan Syiah terutama isma’iliah mengklaim bahwa ikhwan Ash-Shafa adalah kelompok dari kalangan mereka. Kendati identitas mereka tidak jelas, risalah ensiklopedia yang mereka hasilkan itu, menurut Abu Hayyan At-Tauhidi dan dara internal dalam risalah mereka, dapat disimpulkan berasal dari masa antara tahun 347H/958 M sampai tahun 373 H/983 M atau dari perempat ketiga abad ke-4 H. pusat kegiatan mereka di kota Basrah, tetapi di Baghdad juga terdapat cabang dari kelompok rahasia itu. Pemikiran mereka sangat layak dikaji karena lebih dari sekadar kajian artificial, disamping ihkwan ash shafa sangat dikenal di Timur Tengah, sebagaimana Hegel, Kant dan Voltaire yang sangat dikenal di Barat. Penyebutan diri mereka sebagai “  Orang-orang yang tertidur dalam gua Adam” sebagaimana dalam kitabnya Rasa’il yang diambil dari Al-Quran dan Tujuh Orang yang Tertidur dalam legenda Epheus, mencerminkan misteri identitas mereka. Pengaruh Plato, Aristoteles dan terutama Plotinus ada dalam filsafat ikhwan,
  Kota Basrah merupakan tempat asal Ihkwan. Sumber-sumber Arab menyebutkan nama masing-masing secara berlainan dan barangkali ini merupakan tindakan kerahasiaan yang berhasil mereka upayakan pada masa itu sehingga hanya sedikit sekali yang kita ketahui tentang kehidupan mereka pada zaman kita sekarang. Laksana perkemahan kekasih yang telah ditinggalkan dalam syair kuno, jejak-jejak perjalanan kehidupan mereka meredup dan tinggal bayang-bayang. 
Jemaah ikhwan terdiri dari empat kelompok yaitu: 1) Al-Ikhwan Al-Abrar Ar-Ruhama, (para saudara yang baik dan dikasihi) berusia antara 15-29 tahun. 2) Al-Ikhwan Al-Akhyar  Al-fudala (para yang terbaik dan utama) berusia antara 30 sampai 39 tahun, 3)Al-Ikhwan Al-Fudala Al-Kiram (para saudara yang utama dan mulia), berusia antara 40-49 tahun dan 4) kelompok

yang berusia 50 keatas, kelompok elit yang hati mereka telah terbuka dan menyaksikan kebenaran dengan mata hati. [2]
Organisasi ini antara lain mengajarkan tentang dasar-dasar agama Islam yang didasarkan pada persaudaraan Islamiyah (Ukhuwah Islamiyah), yaitu suatu sikap yang memandang iman seseorang muslim tidak akan sempurna keuali ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.  Sebagai sebuah organisasi ia memiliki semangat dakwah tabligh yang amat militan dan kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Semua anggota perkumpulan ini wajib menjadi guru dan mubaligh terhadap orang lain yang terdapat di mastarakat.
Informasi lain menyebutkan bahwa organisasi ini didirikan oleh kelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Organisasi yang mereka dirikan bersifat rahasia dan memiliki missi politis. Namun bersamaan dengan itu ada pula yang mengatakan pendidikan dan penggajaran yang berkenaan dengan pembentuk pribadi, jiwa dan akidah.[3]

B.     KARYA – KARYA IKHWAN ASH-SHAFA’

            Ikhwan Ash-Shafa’ menghasilkan sebagian magnus opus (masterpiece)-nya yang terhimpun kedalam sebuah tulisan yang terdiri dari 52 Risalah dengan keluasan dan kualitas beragam yang terkaji subjek-subjek berspektrum luas dari musik smpai sihir. Tekananya bersifat amat didaktik. Sedangkan kandunganya sangat eklektik. Ini memberikan cerminan paedagogis dan kultural mereka serta beragam filsafat dab kredo masa itu. Rasa’il  sendiri di bagi dengan apak menjadi empat bagian utama : 14 terfokus pada ilmu matematis  17 membahas ilmu kealaman, 10 berhubungan dengan ilmu Psikologis dan intelektual, dan 11 mengakhiri empat jilid edisi Arab terakhirb dengan  memusatkan pada apa yang disebut matefisika atau ilmu teologis.
            Aspek pokok Rasa’il  adalah bagian utama yang menampilkan perdebatan antara manusia dan para utusan dari kerajaan binatang;  ini mengisi sebagian Risalah Ke -22 yang berjudul On How Animals and Their Kinds are Formed (Netton [1982]:2). Bagian ini telah di telaah secara ilmiah, dianalisis secara tejemah oleh L.E. Goodman (1978).
            Namun, Sayyed Hossein Nasr (1978: 39) memperingatkan bahwa “sumber-sumber  mengenai Ikhwan , hendaknya tidak diangap sebagai teks historis semata.” Dia menerjemahkan bagian dari suatau wacana (Rasa’il, 4:42), yang didalamya “mereka sendiri menginformasikan kepada pembaca mengenai universalitas sumber-sumber mereka, dengan memasukan wahyu dan alam, di samping teks-teks tertulis,” sebagai berikut :
Kita telah mengambil pengetahuan dari empat buku. Buku pertama berisi ilmu-ilmu matematis dan kealaman yang telah dibangun oleh orang-orang bijak dan para filisuf.  Kedua, terdiri atas kitab-kitab wahyu, seperti taurat, injil, dan Al-Qur’an, dan lembaran-lembaran catatan (Shuhuf- peneremah). Lain yang dibawa oleh para nabi melalui wahyu. Ketiga,  buku-buku tentang alam yang merupakan gagasan-gagasan (shuwar) dan pengertian paltonik mangenai bentuk-bentuk (asykal) ciptaan yang secara aktual ada, dari susunan benda-benda langit, pembagian zodiac, gerak bintang, dan sebagainya…. Hingga perubahan unsur-unsur, produksi berbagi jenis mineral, tumbuhan dan binatang, dan berbagai ragam industry manusia….Keempat, terdiri atas buku-buku ilahiah yang hanya menyentuh orang-orang suci dan malaikat man yang dekat dengan mahluk-mahluk pilihan, serta jiwa-jiwa yang mulia yang suci.
Pengetahuan
            Ikhwan Ash-Shafa’ membagi pengetahuan pada tiga kelompok, yaitu :
1.      Pengatahuan adab/sastra,
2.      Pegetahuan syariat, dan
3.      Pengetahuan filsafat. Pengetahuan filsafat, mereka bagi menjadi empat bagian. Yaitu;
a.       Pengetahuan matematika,
b.      Pengetahuan logika,
c.       Pengetahuan Ilahiah/metafisika. Pengetahuan syariat adalah pengetahuan nibuwwah yang di sampaikan oleh para nabi, merupakan hasil upaya jiwa manusia. Bagi mereka, pengetahuan mulia adalah penegtahuan syariat atau nibuwwah, yakni pengetahuan yang diperoleh para nabi melaluai wahyu, sedangkan yang paling mulia sesudahnya adalah pengetahuan filsafat. Yakni pengetahuan yang diperoleh tidak melalui wahyu, tetapi melalui pikiran akal yang mendalam.
Dilihat dari segi objek pengetahuan, dalam pengajaran Ikhwan Ash-Shafa’ , pengetahuan yang paling mulia adalah pengetahuan tentang Tuhan dan sifat-sifat yang layak bagi-Nya, kemudian menyusul pengetahuan tentang hakikat jiwa. Hal-ihwalnya dan hubungan dengan raga (tubuh), keberadaanya yang sementara dalam tubuh, kelepasan dari tubuh, dan keberadaanya kembali di alam jiwa. selanjutnya pengetahuan tentang hari bangkit (kiamat), hari berhimpun, hari perhitungan amal, hari masuk surga/neraka dan perjumpaan dengan Tuhan. Mereka mengajarkan bahwa para jemaah Ikhwan Ash-Shafa’ mempelajari semua pengetahuan, tidak mengabaikan suatu buku dan tidak fanatik terhadap salah satu mazhab agama.

C.    FILSAFAT

            Filsafat, menurut anggota Ikhwan Ash-Shafa’, memiliki tiga taraf, yaitu:
1.      Taraf permulaan, yakni mencintai pengetahuan
2.      Taraf pertengahan, yakni mengetahui sejauh mana hakikat manusia dari segala yang ada
3.      Taraf akhir, yakni berbicara dan beramal dengan sesuatu yang sesuai dengan pengetahuan.
Kemudian mengenai lapangan filsafat, dikatakannya ada4, yaitu:
1.      Matematika
2.      Logika
3.      Fisika
4.      Ilmu ketuhanan. Ilmu ini mempunyai 4 bagian:
a.       Mengenai Tuhan.
b.      Ilmu kerohanian, yaitu malaikat-malaikat Tuhan.
c.       Ilmu kejiwaan, yaitu mentahui ruh-ruh dan jiwa-jiwa yang ada pada benda-benda alam.
d.      Ilmu politik, yang mencakup politik kenabian, politik pemerintahan, politik umum, politik khusus (rumah tangga) dan lain-lain.[4]
Menurut mereka filsuf atau orang bijak (hakim) adalah orang yang perbuatan, aktifitas dan akhlaknya kokoh, pengetahuannya hakiki, tidak melakukan  sesuatu yang menimbulkan bahaya dan tidak pula meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Tujuan filsafat dalam pengajaran mereka adalah menyerupai Tuhan (a-tasyabbuh bi al-ilah) sejauh kemampuan manusia. Untuk mencapai tujuan itu, manusia harus berijtihad (berupaya sungguh-sungguh) menjauhkan diri dari : berkata bohong dan meyakini aqidah yang batil, pengetahuan yang keliru dan akhlak yang rendah, serta berbuat jahat dan melakukan pekerjaan secara tak sempurna.
1.      Filsafat Alam
Sebagaimana Al-Farabi, ikhwan Ash-Shafa’ juga menganut paham penciptaan alam oleh Tuhan melalui cara emanasi. Namun, paham emanasi mereka berbeda dengan paham emanasi Al-Farabi. Menurut paham emanasi mereka, Tuhan memancarkan akal universal atau akal aktif. Akal universal memancarkan jiwa universal. Jiwa universal lalu memancarkan materi pertama, yaitu bentuk dan jiwa dan dari materi pertama, muncul tabiat-tabiat yang menyatu dengan jiwa. Jiwa universal dengan bantuan akal universal menggerakan materi pertama sehingga mengambil bentuk yang memiliki dimensi panjang. Dengan demikian terwujud tubuh yang mutlak, dan dengan tubuh mutlak itu , tersusun alam falak/langit dan unsur yang empat (tanah, air, udara, api). Karena pengaruh gerakan langit yang berputar-putar, terjadi percampuran unsur-unsur yang empat sehingga muncul mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Di alam langit, yang lebih dahulu muncul adalah wujud yang lebih mulia (akan universal, kemudian jiwa universal, dan seterusnya). Adapun dibumi yang paling akhir mucul adalah yang paling mulia (didahului oleh mineral, kemudian tumbuhan, kemudian hewan, dan terakhir baru muncul manusia).
Bila diurutkan dari yang pertama muncul wujud itu dari yang pertama sampai yang terakhir, urutannya adalah : (1) Tuhan, (2) akal universal, (3) jiwa universal, (4) materi pertama dan bentuk, (5) tabiat, (6) tubuh mutlak, (7) falak/langit, (8) unsur yang empat (tanah, air, udara dan api), dan (9) yang dilahirkan dari empat unsur mulai benda-benda mineral, tumbuhan, binatng, dan manusia.
            Menurut Al-Farabi, penciptaan alam merupakan akibat aktivitas Tuhan berpikir tentang diri-Nya, maka pada filsafat Ikhwan Ash-Shafa’, penciptaan alam oleh Tuhan adalah manifestasi kepemurahan Tuhan. Tuhan menciptakan segenap alam rohani dan potensi alam raga yang tersusun. Ia menciptakan segenap alam rohani sekaligus, sedangkan alam raga yang tersusun diciptakan-Nya berangsur-angsur dengan mengubahnya dari keberadaan potensial pada keberadaan aktual.
            Tuhan adalah wujud Yang MahaSempurna. Sejak azali, pada diri-Nya terdapat bentuk-bentuk dari (pengetahuan tentang) segala wujud yang ada. Bentuk-bentuk dari segala yang ada itu dilimpahkan-Nya kepada akal universal secara langsung, dan kepada universal melalui akal universal. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Tuhan adalah guru akal universal, akal universal adalah guru jiwa universal, jiwa universal adalah guru para malaikat, para malaikat adalah guru para nabi dan filsuf, sedangkan para nabi dan filsuf adalah guru segenap manusia. Pada jiwa manusia, bentuk-bentuk atau segenap pengetahuan itu, pada mulanya belum ada secara actual, tetapi ada secara potensial saja. Melalui berbagai jalan (tangkapan indera, pemikiran akal instingtif, akal yang diupayakan, atau melalui ilham dan wahyu) pengetahuan itu mengaktual dalam jiwa manusia secara bertahap.
2.      Filsafat dan angka
Membaca selintas teks Rasa’il akan menemukan betapa besar perhatian Ikhwan pada angka. Sebaliknya, seseorang mempelajari terlebih dahulu matematika dan bilangan sebelum mempelajari cabang-cabang pengetahuan lain (yang lebih tinggi), seperti fisika, logika dan ketuhanan (Rasa’il, 1;49). Ikhwan memegang “keyakinan Phytagorean bahwa sifat dasar hal-hal yang diciptakan adalah sesuai dengan sifat dasar bilangan” dan menyatakan, “inilah mazhab pemikiran Ikhwan kami” (Netton[1982]:10). Mereka juga mengikuti kaum Phytagorean dalam hal kepeduliannya yang besar pada angka-angka tertentu. Secara khusus, Ikhwan memberikan perhatian khusus terhadap angka empat, suatu penghormatan yang melampaui bidang matematika murni: mereka menaruh perhatian, misalnya, pada empat musim, empat angin, empat arah mata angin, dan empat unsure empedoclean. Terdapat empat sifat dasar dan empat jenis cairan dalam diri manusia. Kecapi mempunyai empat senar dan bahkan materi dapat dibagi menjad empat jenis.
Menurut Ikwan Ash-Shafa’, seorang dapat belajar tentang keesaan Tuhan dengan mengetahui hal-hal yang berkenaan dengan angka dan mereka menyatakan, “Pythagoras percaya bahwa yang kedua menuntun ke yang pertama (Rasa’il, 3:200). Kendatipun mencurahkan perhatian mereka pada bilangan, Ikhwan berusaha menghindarkan diri dari kesalahan utama dari kaum Pythagorean, seperti dicatat oleh Aristoteles, ketika angka dan hal yang diangkakan dihancurkan. Mereka juga menolak gagasan-gagasan Pythagorean tentang perpindahan jiwa (reinkarnasi), dan lebih berpegang pada gagasan bahwa penyucian yang tercapai dalam satu kali kehidupan di bumilah yang dapat memasukkan manusia kedalam surga (Netton [1982]: 12-14).
3.      Manusia dan Jiwa
Seperti halnya Al-Kindi, Ar-Razi, dan Al-Farabi , Ikhwan Ash-Shafa’ memandang manusia terdiri dari dua unsure, yaitu jiwa yang bersifat imateri, dan tubuh yang merupakan campuran dari tanah, air, udara, dan api. Dalam salah satu tulisan mereka, dikatakan bahwa masuknya jiwa kedalam tubuh merupakan hukuman kepada jiwa yang telah melakukan pelanggaran (melanggar larangan Tuhan, seperti dalam kisah Adam dan Hawa). Karena pelanggaran itu, jiwa diusir dari surge, yakni alam rohani dan harus turun kebumi, masuk kedalam tubuh. Dengan hukuman itu, jiwa yang semulanya memiliki pengetahuan yang banyak secara actual, setelah memasuki tubuh, menjadi lupa sama sekali dengan pengetahuannya, dan jadilah pengetahuan itu terdapat dalam jiwa secara potensial saja. Dengan bantuan tubuh dan pancaindera tubuh sebagai alat jiwa, secara berangsur-angsur jiwa manusia dapat memiliki kembali pengetahuan secara actual. Dalam versi lain, tidak tergambar bahwa keterusiran Adam a.s. dari surga ke bumi adalah keterusiran jiwanya dari alam rohani, yang merupakan surga bagi jiwa, masuk kedalam tubuh yang ada di bumi. Tulisan versi ini menggambarkan bahwa Adam a.s. dan pasangannya Hawa, berada disurga, yakni taman yang subur dan menyenangkan yang terletak di suatu tempat yang tinggi di bumi juga. Karena setan berhasil menipu keduanya sehingga keduanya melanggar larangan Tuhan, keduanya diusir dari tempat yang tinggi itu dan harus turun ketempat yang lebih rendah di bumi, menjalani kehidupan yang jauh lebih susah karena tempatnya yang baru bukan merupakan taman yang subur.
Lepas dari masalah sebab keberadaan jiwa dalam tubuh manusia, jiwa manusia, menurut Ikhwan Ash-Shafa’, karena berada didalam tubuh, awalnya tidak mengetahui apa-apa, tetapi memiliki kemampuan untuk menerima pengetahuan secara berangsur-angsur. Manusia haruslah dididik sedemikian rupa dengan ajaran-ajaran yang diwahyukan dan pengajaran filsafat sehingga mengaktual pada jiwanya pandangan keyakinan dan pengetahuan yang benar, baik tentang realitas maupun tentang apa yang seharusnya dibiasakan manusia. Dengan pendidikan yang benar, jiwa manusia menjadi suci, tidak bergelimang dosa karena memperturutkan hawa nafsu.[5]




D.    KONSEP PENDIDIKAN IKHWAN ASH SHOFA

            Menurut Ikhwan, bahwa perumpamaan orang yang belum dididik dengan ilmu akidah, ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apa pun juga.  Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak akan mudah dihilangkan. Organisasi ini memandang pendidikan dengan pandangan yang bersifat rasional dan empirik atau perpaduan antara pandangan yang bersifat intelektual dan factual. Mereka memandang ilmu sebagai gambaran dari sesuatu yang dapat diketahui di ala mini. Dengan kata lain ilmu yang dihasilkan oleh pemikiran manusia itu terjadi karena mendapat bahan-bahan informasi yang dikirim oleh pancaindera.  
Cara mendapatkan ilmu
Sejalan dengan uraiannya tentang ilmu sebagaimana dikemukakan diatas, Ikhwan memandang bahwa ilmu pengetahuan itu dapat dibaca melalui dua cara, pertama dengan cara mempergunakan panca indera terhadap obyek dalam semesta ya ng bersifat empirik. Ilmu model ini berkaitan dengan tempat dan waktu. Kedua, dengan cara mempergunakan informasi atau berita yang disampaikan oleh orang lain. Ilmu yang dicapai dengan cara yang kedua ini hanya dapt dicapai oleh binatang. Dengan cara yang kedua ini pula manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang hal-hal gaib.
Selain itu Ikhwan menyebutkan tentang ilmu yang dapat dicapai melalui tulisan dan bacaan. Dengan cara ini manusia dapat memahami kalimat, bahasa dan ungkapan-ungkapan yang ditangkap melalui pemikiran.
Pada bagian lain Ihkwan berpendapat bahwa pada dasarnya semua ilmu itu harus diusahakan (muktasabah) bukan dengan cara pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan mempergunakan panca indera. Dalam hubungan ini organisasi berpendapat bahwa sesuatu yang terlukis dalam pemikiran itu bukanlah sesuatu yang hakikatnya telah ada dalam pemikiran. Melainkan lukisan tersebut merupakan pantulan yang terjadi karena adanya kiriman dari panca indera. Jadi bukan kaerna adanya ide yang ada dalam pikiran. Manusia pada mulanya tidak mengetahui apa-apa, lalui karena adanya panca indera yang mengirimkan informasi, maka manusia dapat mengetahui sesuatu.
Pandangan seperti ini dihasilkan melalui pnafsirannya terhadap ayat yang berbunyi:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٧٨)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Berkenaan dengan pengetahuan yang diperoleh dngan panca indera, maka  mesti terdapat apa ygndisebut objek pemikiran. Objek pemikiran ini pada awalnya adalah pernyataan akal yang mengatakan bahwa keseluruhan itu adalah lebih besar dari sebagian yang bersifat particular. Dan inilah yang dinamakannya sebagai perolehan pertama. Pada bagian lainnya Ihkwan menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana Plato yang beraliran idealisme. Hasil penelitian para ahli menyebutkan bahwa Ikhwan lebih dekat kepada aliran John Locke yang bersifat empirisme, aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena panca indera berinteraksi dengan alam nyata. Sebelum berinterakdi dengan lam nyata itu di dalam akal tidak terdapt pengetahuan apapun.  Jika ilmu pengetahuan itu harus diusahakan, maka bagaimanakah cara untuk mendapatkan ilmu tersebut? Ikhwan berpendapat bahwa cara untuk mendaptkan imu tersebt adalah dengan cata membiasakan berpegang pada pembiasaan dan perenungan. Dalam hubungan ini ia mengatakan: “hendaknya diketahui bahwa pembiasaan dan latihan itu harus dilakukan secara kontinyu dan dari pembiasaan ini akan dihasilkan akhlak yang kokoh, sebagaimana hal itu terjadi dalam bidang ilmu. Pembiasaan itu juga berhubungan dengan mudzakarah yang dapt memperkuat daya ingat dan kedalaman ilmu.”[6]
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Ikhwan banyak dikaitkan dengan syi’isme pada umumnya dan isma’ilisme pada khususnya. Rasa’il mereka mulai dibaca oleh lingkuingan luas cendekiawan dan pemikir Islam. Baik Sunni maupun Syi’ah dan termasuk teolog-teolog Sunni terkemuka semisal Al Ghazali. Rasa’il merupakan studi Syi’ah yang disuguhkan dalam gaya ensiklopedik, mempunyai dampak kependidikan yag melampuai batas-batas madzhab tertentu hingga menyentuh seluruh komunitas Islam. Tambahan pula, perspektifnya – dalam mana unsure-unsur Neoplatonik, Hermetik dan Neopytagorean terpadu kedalam esoterisme Islam – tetap berkait erat dengan filsafat Ismi’ili, pengaruuh filosofikalnya terasa luas di kalangan aneka tokoh di masa-masa terkemudian sejarah Islam. Kiranya cukup membaca halaman-halaman asfar tulisan Mulla Shadra untuk menyadari betapa kuat memang gema-gema Rasa’il pada kurang lebih tujuh abad kemudian.
Tujuan Ikhwan menulis Rasa’il sendiri ialah bersifat pendidikan dan persoalan-persoalan pendidikan yang meliputi tujuannya, tahap-tahapnya, metode-metodenya dan unsure-unsur lain yang ditemukan di sepanjang lima puluh satu risalah sebagai unsur-unsur lain yang ditemukan di sepanjang lima puluh satu risalah sebagai unsure-unsur pembentuknya. Khususnya dalam risalah ketujuh dari volume pertama, yang diberi titel Fi al-shana’I al-ilmiyyah,yang ada dalam Rasa’il mereka membahas Al-Akhlaq wa ashab ikhtilafiha.. ( tentang pemberian Etika dan Sebab Perbedaan –Perbedaan di Kalangan Mdzhab-Madzhabnya..”) mereka membaas pengaruh lingkungan, rrumah dan sekolah, guru dan faktor-faktor lain yang tampak bertautan dengan pendidikan siswa. Menurut Ikhwan, jiwa secara potensial adalah substansi yang spiritual, jasadi, memungkinkan individu mengaktualisasikan kemungkinan-kemungkinan potensial ini dan dari sana menyempurnakannya dan mempersiapkannya untuk kehidupan yang baka. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan, dalam kenyataannya adalah saripati ultimat yang mewadahi jiwa abadi manusia, sementara aktualisasi dari apa yang potensial dalam jiwa itu tidak lain adalah wujud, mode eksistensi yang tidak akan hancur oleh kematian.  Ikhwan juga mempertimbangkan pentahapan pendidikan sesuai dengan perkembangan jasmani, pikiran dan jiwa, perasaan dan insting lebih menonjol pada perkembangan anak berusia sampai dengan empat tahun, dan seterusnya.
Tujuan pendidikan menurut Ikhwan adalah menyempurnakan dan mengaktualisasikan seluruh kemungkinan yang dimiliki individu yang pada akhirnya menuntun pada pengetahuan tertinggi tentang ketuhanan yang adalah tujuan hidup manusia. Pendidikan mempersiapkan manusia untuk kebahagiaan dalam hidup ini, tujuan ultimatnya adalah tempat tinggalyang permanen dan semua pendidikan menunjuk pada dunia permanen yang baka yang melampaui perkisaran-perkisaran sementara dunia yang berubah. Menurut Ikhwan, tujuan ultimat pendidikan, sekalipun seseorang telah menguasai sains-sains tentang alam, bukan berarti mendominasi dunia dan memperoleh kekuasaan eksternal, melainkan mendominasi diri individu agar mampu melampaui dunia yang berubah ini dan masuk ke dunia yang langgeng dan untuk mencapai hal yang disemarakkan dengan ornament pengetahuan yang dipadukan dengan keutamaan, yang itu saja bermanfaat bagi dunia kedalam mana jiwa orang-orang beriman mengharapkan masuk pada akhir perjalanan duniawi ini. [7]  



BAB III

SIMPULAN

A.    Ikhwan Ash Shofa adalah perkumpulan para mujtahidin dalam bidang filsafat yang banyak memfokuskan dalam bidang dakwah dan pendidikan. Perkumpulan ini berkembang pada abad kedua Hijriah di kota Bashrah, Irak.
B.     Karya Ikhwan diantaranya adalah Rasa’il. Rasa’il di bagi dengan apik menjadi empat bagian utama : 14 terfokus pada ilmu matematis  17 membahas ilmu kealaman, 10 berhubungan dengan ilmu Psikologis dan intelektual, dan 11 mengakhiri empat jilid edisi Arab terakhirb dengan  memusatkan pada apa yang disebut matefisika atau ilmu teologis.
C.     Filsafat, menurut anggota Ikhwan Ash-Shafa’, memiliki tiga taraf, yaitu:
a.       Taraf permulaan, yakni mencintai pengetahuan
b.      Taraf pertengahan, yakni mengetahui sejauh mana hakikat manusia dari segala yang ada
c.       Taraf akhir, yakni berbicara dan beramal dengan sesuatu yang sesuai dengan pengetahuan.
Kemudian mengenai lapangan filsafat, dikatakannya ada4, yaitu:
a.       Matematika
b.      Logika
c.       Fisika
d.      Ilmu ketuhanan
D.    Ikhwan memandang bahwa ilmu pengetahuan itu dapat dibaca melalui dua cara, pertama dengan cara mempergunakan panca indera terhadap obyek dalam semesta ya ng bersifat empirik. Ilmu model ini berkaitan dengan tempat dan waktu. Kedua, dengan cara mempergunakan informasi atau berita yang disampaikan oleh orang lain. Ilmu yang dicapai dengan cara yang kedua ini hanya dapt dicapai oleh binatang. Dengan cara yang kedua ini pula manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang hal-hal gaib.
Ikhwan juga menyebutkan tentang ilmu yang dapat dicapai melalui tulisan dan bacaan. Dengan cara ini manusia dapat memahami kalimat, bahasa dan ungkapan-ungkapan yang ditangkap melalui pemikiran.


DAFTAR PUSTAKA


Mustofa. 2009. Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia

Nasr, Seyyed Hossein. 1987. Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern. Bandung: Penerbit Pustaka  

Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam 1. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Supriyadi, Dedi. 2010. Pengantar Filsafat Islam.Bandung: Pustaka Setia


[1] Drs. H. Abudin Nata, MA. Filsafat Pendidikan Islam 1. Hal 181.
[2] Dedi Supriyadi, M. Ag. Pengantar Filasafat Islam. Hal 99.
[3] Drs. H. Abudin Nata, MA. loc. cit.  
[4] Drs. H. A. Mustofa, Filsafat Islam, Hal 165. 
[5] Dedi Supriyadi, M. Ag. op.cit. hal 103-108
[6] Drs. H. Abudin Nata, op. cit. hal 182-183
[7] Seyyed Hossein Nasr, Islam Tradisi di Tengan Kancah Dunia Modern. Hal 153-154

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar