Rabu, 20 Juni 2012

Filsafat dan sain



FILSAFAT DAN SAIN
A.                 Apa itu sain?
Kata science berasal dari bahasa Latin yang digunakan untuk merujuk pada konsep pengetahuan. Kata ini turun dari kata scio, scire. Sience adalah pengetahuan. Di antaranya pengetahuan ilmiah yaitu pasti, eksak, seksma dan teorganisir secara lengkap bia dikatakaprengetuan yang nyata (real knowledge).
            Kadang kadng dkatakan baha sain itu menggambarkan dan filsafat menafsirkan. Mr. J. Arthur Thomson, dalam buku yang berjudul An Introduction to science mendefinisikan bahwa scince dalam rangka dibawah ini :
Sain adalah gambaran yang lengkap dan konsisten tentang berbagai fakta pengalaman dalam suatu hubungan yang mungkin paling sederhana ( simples possible term)
            Seorang ilmuan dalam penyelidikannya mengenai sekelompok fenomena, pertamna mengumpulkan fakta kemudian menganalisis dan mengklafsifikasi fakta fakta tersebut dan selanjutnya mempelajari berbagai kondisi yang menimpa mereka (sebab-musabab) dan akhirnya menyelidiki cara-cara tingkah laku mereka (hokum-hukum mereka) dan menyusun semua turunannya kedalam bentuk risalat (laporan) yang sistematis.
Kerja sain adalah sebagi berikuyt :
       I.            Kumpulan tentang fakta
    II.            Gambaran tentang fakta fakta
1.                  Definisi dan gambaran umum
2.                  Analisis
3.                  Klasifikasi
 III.            Penjelasan tentang fakta fakta
1.                  Memastikan sebab-musaba (invarlable antecedents)
2.                  merumuskan berbagai persamaan perilaku (uniformities of behavior)
B.                 Filsafat dan sain
Filsafat sama dengan sain dalam menemukan pengetahuan dengan seksama dan terorganisir dengan baik. Tapi filsafat tidak puas dengan definisi semacam ini. Filsafat mencari pengetahuan yang juga konfrehensif. Mr. Broad katakana :
“ Objek filsafat adalah mengambil alih berbgai hasil sain, menambahkan kepada hasil sain yang diambil alih tersebut dengan berbagai mereflsikannya secara keseluruhan. Harapannya, dengan pengertian seperti ini kita bias mencari beberapa kesimpulan umumn seperti sifat-sifat dasar atau hakekat alam semesta, kedudukan dan harapan harapan kita di alam semesta.”
            Definisi di atas meyakinkanproyek ambisius filsafat, harapannya adalah untuk mendapatkan pandangan yang ringkas tentang kerja sain secara khusus dan menemukan beberapa makna menyeluruh yang pada masa lalu telah mengiring para ilmuan atau pemiir pada kritisisme yang tak mnguntungkan filsafat.
            Filsafat dan sain adalah dua biudang yang jelas dan masuk akal pikiran manusia karena, Pertama adalah refleksi kesadaran atas dunia sebagai keseluruhan terutama memaknai maksud dan nilainya. Kedua pengujian pengujian kritis atas berbagai konsep baik yang digunakan sain atau yang digunakan oleh orang awam. Yang pertama disebut dengan filsafat spekulatif dan yang kedua dsebut filsfat kritis.
            Bidang yang sangat membtuhkan pemikiran manusia bukan hanya pandangan kuantitatif semata terhadap dunia tetapi kita menginginkan juga hubungan matematisnya dan kebisaprediksikannya (predictability). Kita menginginkan dan kita harus memilki beberapa pengetahuan atau setidaknya beberapa teori tentang karakter kualtitatif intrinsic dunia (intunsic qualitative character).
            Hari ini sain lebih bersifat kuantitatif dari pada kualitatif. Sifat ini mengngkapkan hubungan tentang intensitas (keterarahan) dua fenimena. Sebagai contoh: intensitas pada arus listrik dan pada penerangan sebuah lampu pijar. Untuk mengimbangi ketidakmuampuannya dalam menjawab pertanyaan “bagaimana” yaitu dengan menampilkan kekeayaan akan data seperti melalui pertanyaan “berapa banyak”. Riset monograf dan textbook mirip dengan menekankan pada hubungan kuantitatif yang bisa diobservasi dan jarang jauh kedalam daerah pedalaman spekulatif dimna pertanyaan “bagaimana” harus didahulukan “berapa banyak”. Setara kita mngajar sain hari ini disekolah-sekolah kita , usaha mempelajari hubungan kuantitatif trlalu sring meninggalkan bukan hnaya intruksi tetapi juga waktu luang pelajar untuk lebih banyak melakukan penyelidikan atau spekulasi seperti terhadap mekanisme hubungan kuantitatif.
            Tuntunan bahwa sain harus ditambah oleh filsafat menjdi lebih dan lebih penting seperti sain itu sendiri mengambil lebih dan lebih dalam kedalam dasar misterius berbagai symbol dan persamaan matematis sehingga kekuatan dirinya sendiri menjdi tidak terbedakan dengan apa yantg berada dibalik simbol-simbol tersebut. “Untuk memahami fenimena dunia fisik” kata Sir Arthur Eddington “sain pelu mengetahui berbagai persamaan yang mematuhi simbol terapi hakekat dari yang ada tentang fenomena tersebut tiudak relevan untuk mempertahankan perubahan ini. Untuk menjelaskan intelektual yang dihasilkan simbolis ini atau untuk menjelaskan mengapa tuntutan pada orang awam demi sebuah penjelasan kongkrit telah dikesampingkan”.
C.                 Analisis Konsep
Semua sain mengguanakan kosep tertentu dan membuat berbagai asumsi tertentu yang membutuhkan pengujian kritis. Ada kebutuhan pada beberapa sain umum untuk mengerjakan pembahasan pasa konsep konsep dan asumsi  ini membawa pengujian mereka lebih jauh dari sain sain khusu dalam menentukan pentngnya tujuan mereka. Contohnya, konsep-konep materi, pikiran, energy, ruang, waktu, penyebab, hokum aau aturan (hokum alam), kualitas, kuantitas, rangkaian dan indivudualitas. Tugas filasaft menguji semua konsep ini.
Sedangkan konsep dalam filsafat contohnya; konsep kebenaran, maksud, keindahan, dan kebahagiaan. Konsep konsep tersebut adalah sebab termasuk segala sesuatu yang menyebabkan atau yang mendatangkan akibat ( causation) juga hubungan sebab akibat itu sendiri (icausality) dan hokum misalnya hokum alam.
D.                Sebab-musabab
semua sain disibukn dengan pencarian berbagai penyebab (cause ).Ada sua persoalan ddalam mempelajari konsep sebab :
1.                  Apa yang dimaksud dengan sebab?
2.                  Apakah beberapa kejadian atau peristiwa sama sekali bebas dari sebab?
Dalam hal itu fisika mengandaikan adanya sifat iniversalitas hukum sebab akibat. Tidak ada suatu peristiwa atau kejadian tanpa adanya sebab akibat (Nothing happens without a cause) dan sebab tersebut mencukupi. Seluruhnya merupakan hasil atau produk dari masa lalu dan masa depan mungkin terjadi karena masa sekarang. Max Planck mengatakan, lompatlah kedalam wilayah metafisika karena hokum kausalitas tidak mengalah pada berbagai pengalaman yang berhubungan dengan panca indera.
Saat ini ada persoalan lama yang dibangkitkan kembali yaitu mengenai kebebasan dan determinisme ( faham yang mengatakan bahwa segala sesutau sudah ditentukan). Kita dapat merumuskan dengan aman hokum-hukum statistic yang memerintahkan tingkah laku mereka tetapi tidak pada tingkah laku partikel tunggal. Dan memunculkan prinsip ketidakpastian Heisenberg atau ( eisenberg’s principle of indeterminacy).berhubungan dengan kebebasan berkehendak dan berkehendak bebas.
Dengan bersenjatakan konsep sebab sebagai semata-mata rangkaian, rentetan (sequence) dan dengan pengandaian keseragaman alam maka para Ilmuan memiliki semua yang dia butuhkan untul mgengontrol fenimena dan memprediksiakn masa depan.
Melihat dari pemikiran bahwa dari sebab tidak selalu mengakibatkan akibat. Ada suatu proses pada “pelaksananaan´atau “penyelenggaraan” (enforcement). Sebab adalah semacam perantara atau agen. Yang melakukan sesuatu terhadap akibat, adalah yakin semaca, analogi yang memindahkan kepada alam dari pengalaman kita sebagi perantara(agen).
Dalam suatu dungaan penyebaban dalam arti umum adalah hanya seperto sebuah perkara tentang kekuasaan atau pelaksannan (enforcement). Lebih lanjut kita mempelajari tentang hokum alam dalam arti luas bersifat statistis yang didasarkan pada observasi rata-rata “nampaknya” sebgaimana dikatakan oleh Conger bahwa “ pengetahuan ilmiah kita pada dasarnya tidak tentu (indefinite), goyah, longgar, bebas, dan lepas.
Mungkin saja dunia ini adalah prose yang tak habis-habisnya dimna prinsip kausalitas bias diturunkan kepada prinsip dassar logika. Dunia ini organism di mna setiap bagian berada dalam getaran penuuh perhatian (sympathetic) dengan semua bagia yang lain.
Mungkin saja penafsiran yang paling dalam tentang semua penyebaban. “sebab” sensungguhnya sabagai aktifitas produktif, kekuatan kreatif dan barangkali ilmuan mengguanakan “sebab” hanya sebagia sesuatu yang (selalu) mendahului (antencedent) dalam suatu rangkaian waktu dan “sebab” hanya sebagai tanda yang berguna dalam memprsdiksiakan berbagai peristiwa.
a)                  Sebab pertama
Filsafat bersikeras menyelidiki sebab pertamna ( frist cause )mundur kebelakang rangkaian yang tidak menentu (ytidak pasti) dari akibat menuju sebab, lalu terhadap sebab  yang lainmenjadi membuat kita mengatakan bahwa dalam permulaan Tuhan menciptakan dunia dan keadaan yang demikian lengkap hanya untuk memperkenalkan kebingungan lain di mana kita membutuhkan waktu yang lama untuk memecahkannya.
            Bertanya _bagaimana juga apa cukup yaikin bahwa setiap peristiwa memilki sebab? Tidak bisakah bahwa benda benda terjadi tanpa adanya sebab?dll.
b)                  Sebab final
Sebab terakhir (final cause) dikemukakan oleh Aristoteles dalam makna khusus. Kata final (akhir) di sini tidak merujuk pada adanya sebab pertama atau sebab sebelumnya (yang baru atau lalu) tetapi mengacu kepada maksud atau tujuan pada suatu tindakan yang dalam bahasa Latin adalah finis. Kektika observasi mengenai perkiraan sebagai  perkiraaan terjadinya gerhana matahari meruapakan sebab atas penempatan sebuah telescope dalam temopat tertentu. Sebab final dalam alam, sama baik dengan sebab efisien (cause efficient).
E.                  Hukum alam
Kata hukum digunakan dalam dua makna yang berbeda secara keseluruhan oleh karena itu akan lebih baik jika lita mempunyai dua kata untuk gagasan tersebut. Dalam hukum moral dan dalam ilmu hokum ( jurisprudence), hukum adalah sebuah perintah, aturan atau sebuah keputusan di mana beberapa otoritas (kewenangan) mengganggu makhluk (ornag-orang) cerdas dan mereka diandaikan untuk mematuhinya.hukum sebgamana Pearson katakana adalah sebuah resume atau pernaytaan ringkas (brief expression) mengenai hubungan rangkaian konsep dan presepsi kelmpok tertentu yang hanya ada ketika dirumuskan oleh manusia. Akan tetapi alam semesta tidak diperintah oleh hokum alam juga bukan karena “taat” pada hokum ini. Kita akan melihat lain bahwa “perimerintah” dunia dan hokum alam itu tidak berdaya.
            Hukum gravitasi pertama ditemukan oleh Newton “setiap partikel pada materi yang berada di alam semesta langsung menarik semua partikel lain dengan kekuatan dari berat (massa) yang ada pada mereka sendiri dan sebaliknya. Ia seperti sebuah bujur sangkar yang masing-masing memisahkan dan menjatuhakan mereka. Hal ini terjadi saat Newton melihat sebuah apel jatuh.hal tersebut mengngkapakan cara mereka bergerak tetapi hukum gravitasi ini mengatakan bahwa tidak ada sebab apa pun. Newton memngetahui mengapa tubuh atau benda bergerak bersamna-sama dan memang tidak ada yang tahu sampai sekarang. Hal yang kemungkina besar bahwa Newton bukan “menemukan” hukum garvitasi tetapi “menciptakannya”.
Plato mngungkapkan bhawa hukum merupakan realitas abadi yang keseluruhannya lebih [penting dari benda-benda individual.akakhirnya kita menemukan dua konsep yaitu “hukum” dan “sebab” yang mana secra konstan digunakan dalam semua sain.
F.                   Fakta pengalaman
Ada sesuatu yang secara khusu benar-benar perlu diuji secara kirtis, istilah tersebut adalah fakta atau fakta pengalaman. Fakta biasanya didefinisikan sebagai sesuatu yang pertama-taman terobservasi dan bukan pengambilan kesimpulan.
Seacar umum kita bisa mengatakan bahwa sence-data  atau data hasil pengamatan inderawi adalah fakta yang dibangun oleh sain. Akan tetapi filsup tidak puas dengan konsep seperti ini, karena berpikir bahwa sain adalah satu hal yang didalam dunia yang dibangun dalam realitas objektif dan tidak dalam “dta-inderawi”. Hal itu mmaksa pada kedalaman filsafat yaitu kedalam suatu cabang filsafat yang disebut efistemology yakni ilmu tentang pengetahuan (the science of knowledge).
G.                Sain terapan
Sain, dengan kata lain, sering disebut hanya sebagai alat untuk diterapkan demi meningkatkan kekuatan manusia dalm mengatasi alam. Sain dalam arti ini bukan sesuatu yang secara intrinsic baik didalam dirinya sendiri. Sain dalam arti ini adalah sain terapan. Hal ini menarik untuk mengetahui bahwa penemuan besar dalam sain tetap membawa kita pada aplikasi praktis ini yang dihargai begitu tinggio dan biasanya dibuat oleh seseorang yang pada awalnya tidak memiliki minat dalam aplikasi praktis. Sain teoritis ini sangat dekat hubungannya dengan filsafat.
AGAMA DAN FILSAFAT
A.    Apa itu agama?
“Agama adalah perasaan mendalam akan ketergantungan pada kekuatan yang ytidak bisa dilihat tetapi mengendalikan dan menentukan nasib kita oleh karena itu mesti disertai dengan keinginan mendekatkan diri dengan mereka.”
Agama adalah cinta kepada Tuhan. Agama adalah kebersatuan atau kedekatan dengan sesuatu yang lebih dari sekedar jiwa. Agama adalah loyalitas kita dengan yang tertinggi. “saya, tidak sempurna”, kata Emerson, “cinta yang saya miliki itu sendirilah yang semopurna”. Agama adalah memandang sangat tinggi nilai-nilai yang paling tinggi dan menggambarkan mereka dengan penuh kedekatan dan merasa kehadiran-Nya. “idea idea dan perasaan perasaan adalah sifat dan sikap rligius” kata Wundt “yang mengacu pada suatu eksisten (pengada) yang ideal”.Agama adalah suatu sikap yakni yakin, bahwa dunia adalah sesuatu yang bernilai, bahwa alam semesta bukan hanya sebuah mesin besar , bahwa didalamnya terdapat nilai-nilai eternal atau abadi yang mana pikiran manusia mengetahuinya sebagian.
B.     Spiritualitas
           Dalam tulisan-tulisan religious kata-kata “spirit”, “spiritual” dan “spiritulitas” selalu muncul. Kata-kata seperti ini terkesan gaib tidak jelas bahkan keberadaanya pun sampai diragukan. Tetapi kata-kata ini sekarang telah memilki makna tertentu definte tidak gaib dan tidak misterius. Kata-kata tersebut mengarah kepada hal-hal yang memilki nilai paling tinggi. Spirit tidak berbeda dengan mind (pikiran) tetapi pikiran yang dilihat dalam aspek nilai. Untuk menjdi spiritulitas, Santayana mengatakan, Hiduplah dalam keadaan ideal. Tentang makna spiritualitas dan hubungannya dengan agama dikemukakan dengan cukup baik oleh Drake dalam ungkapan dibawah ini:
“ watak kamauan dan hatu ini dialami oleh orang yang peduli dengan berbagai hal paling tinggi, hidup dalam kelemah-lembutan dan ketenangan batindari aspek-aspek jasmaniah dan berbagai kesewenangan dalam hidup. Kita menyebut kemauan dan hati semacam ini dalam hakekat terdalamnya sebgaia spritulitas. Ketika spritualitas diwujudkan ke dalam bentuk-bentuk lahiriah (outword), berbagai lembaga dan menyebar luas pada seluruh masyrakat, kita menyebutnya agama.”
C.     Pengaruh filsafat terhadap keyakinan religious
Seseorang yang sering bertanya akibat yang ditimbulkan setelah mempelajari filsafat, misalnya terhadap keyakinan keyakinan religious kita. Pertama, mempelajari filsafat mungkin mengganggu, khususnya keimanan religius seseoramg jika keimanan religious orang itu semoit dan tidak mengenal kompromi.
  Simpati, kebajikan, kerendahhatian, banyak yang tidak sesuai dengan sifat kritis dari filsafat. Seperti kata Bacon; “memang benar bahwa filsafat sedikit menggelindingka kepada atheism. Tetapi filsafat yang dalam membawa pikiran manusia pada agama.
D.    Etika dan Agama
Etika adalah pengetahuan normatif yang berhubungan dengan standar tingkah laku yang benar. Dan Agama adalah sebuah motif yang sangat kuat untuk meraih kebenaran dan agama lebih daripada sekedar kebenaran. Catatan esensial ada;ah ketakziman. Tujuan khas agama adalah harmoni dan penyesuaian harmoni terhadap Dzat Yang Tertinggi membelitkan kebenaran dalam tingkah laku. Semangat keberagaman seperti dikatakan oleh L.P. Jacks adalah  kesetiaan yang tidak bisa dikompromikan terhadap Dzat Yang paling tinggi.
E.     Study perbandingan agama
Hanya study sejarah saja yang membuat kita  mempelajari agama lain, padahal mahasiswa mestinya juga akrab dengan agama agama india kuno, yunani, Roma, Scandinavis, pengikut Muhammad, Yqahudi kuno yang sama baik dengan sejarah dan arti kristianitas. Membiasakan dengan semuanya akan menemukan kepercayaan dalam kekuatan yang tidak terlihat yang mengatur dunia dan berbuat demi kebenaran.
F.       Karakter social agama
Abad XIX perhatia tercurah pada evolusi manusia dan hubungannya dengan binatang paling rendah (lower animals). Abad XX memilki tugas yang lebih atraktif yaitu menyelidiki (menginvestigasi) hakekat social dan hubungan social. Studi tentang agama dalam sudut pandang ini memiliki cahaya baru yang lebih menyoroti subjek secara keseluruhan.
Model studi agama seperti diatas dimunculkan oleh ajaran modern diman agama pada dasarnya adalah bersifat sosial dalam asal usulny, yaitu adanya semacam pengungkapan tentang kesadaran tentang keadaan kelompok. Berbagai rital dan berbagai ucapan religius pertama-tama dibentuk oleh atau atas nama seluruh kelompok.
Aspek sosial dari agama dikemukakan dengan cara yang berbeda oleh Dewey dalam acara perkuliahan Tery di Yale yang kemudian diterbitkan dengan judul A common faith. Dewey percaya bahwa pembebasan atau emansipasi agama yang dilakukan secara bertahap dari gagasan dominan supranatural akan sangat mempertinggi nilai sosialnya karena gagasan tersebut telah mengakibatkan yterjadinya pembelokkan aktifitas religious dari tujuan aslinya yakni sosial.
Dewy membedakan antara agama (religion) sebgai kata benda, dengan agama sebagai kata sifat agamis (religious). Memiliki sifat religious dan agamis adalah kualitas pengalaman. Klrakteristik kualitas religius yaitu kepercayaan iman kepada nilai dan ideal. Kualitas religius merupakan suatu upaya melakukan harmonisasi antara diri kita sendiri dengan kondisi actual melalui iman dalam bentuk idealnya. “Tujuan ideal agama kita peluk bukan berupa banyangan dan hal hal yang meragukan. Tujuan ideal agama  mengandaikan adanya bentuk nyata pemahaman kita tentang hubungan kita antara satu dengan yang lain dan nilai-nilainya terkandung dalam hubungan-hubungan ini.”
Jika agama didefinisikan sebgai “perasaan emosi akan hadirnya suatu yang dianggap  bernilai tinggi (supremely) dalam perhatian kebaktian dan ketaatan kita. Maka agama akan tampak, dalam ketidakpastian sosial sat ini sehingga sikap keberagamaan haru menjadi lebih. Misalnya perhatian dan kesetian kita pada atgama harus ditujukan lebih demi terciptanya ,masyarakat yang ideal.
            Ketika keraguan miali menyerang zaman kepercayaandalam diri kira, pandangan agama menjdi jelas. Agama bukan tulisan hiasan dalam suatu perasaan sangat yakin sekali akan zaman kemenangan diri, seperti, perang besar (PD I dan PD II) yang dahulu terjadi. Kerendahan hati merupaka sikap yang esensial pada sikap religius. Selam berbagai penemuan maju s\dalam sain diterapkan dalam mengurangi ketidaknyamanan kita dan menggerakan kembali ketakutan dan kecemasan maka kita tidak akan merasakan begitu banyak yang butuh agama.
Jika kita mendefinisikan agama sebagai, pengelohan nilai-nilai spiritualitas yang senantiasa hadir tetapi kadang-kadang terhenti dalam jjiwa manusia, (the cultivation of the spiritual values wich are ever-present, but sometimes dormant in the human soul) maka agama menjadi milik filsafat untuk meneliti dengan cermat nilai-nilai ini., menentukan sumber dan padanan kata objektif tentang nilai-nilai tersebut.
G.    Supranatural
Makhluk supranatural (supernatural beings) seperti halnya dewa-dewa pada masa yunani kuno dikendalikan, dikontrol dan dibatasi oleh aturan hukum alam. Peristiwanya tidak dijelaskan dengan hukum-hukum yang dapat dimengertri dan diketahui. Hal; ini mengandaikan bahwa sekarang pun, analis lohis yang dilakukan terhadap isltiulah tersebut akan sangat memungkinkan berada dalam petunjuk atau makna yang sungguh berlawanan. Imajinasi adalah nilai serta tujuan ideal yang selalu ada pada kerja penciptaan dan seluruhnya  melampaui wewenang alam, sebagimana ini diberitahukan kepada kita.
Jika istilah “supranatural” saat ini tidak terlalu baikk berada dalam sain, hal ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah istilah yang “misterius”. Meskipun sebgian besar hal indah yang dapat kita ungkapkan. Kata Einsten “adalah misterius.
Mungkin kita tidak dapat mendefinisikan dan tidak bisa menggambarkan sepenuhnya pengalaman religius serta emosi kita tetapi maknanya bagi kita amat sangat besar dan sangat berarti. Hal ini diungkapkan dengan baik olah Mr. Will Durrant yang menulis the Saturday Evening post pada tanggal 26 Januari 1953. Dibawah ini adalah berbagai pernyataan yang ia katakan :
            “Semasa kita muda kita berpikir, agama itu sebagai kumpulan berbagai gagasan; dalam masa tua kita menerima bagaimana menempatkan lebih rendah ide-ideini untuk memfungsikan bahwa individu, agama menawarkan pertama-tama jawaban bagi pertanyaannya: agama memberinya beberapa kedamaian dan satabilitas mental yang memungkinkan dia untuk melengkapi dengan hipotesis dan kepercayaannya suatu gambaran dunia yang tidak pasti, tidak lengkap dan tidak nyaman yang diwariskan dengan cukup mengganggu oleh sain dan filsafat. Agama menghiBur kesepiannya dan meyakinkan kembali dirinya dengan perasaan takut terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya. Agama menfdapatkan alam semesta berada dipihaknya dan memuaskan kerinduan mistisnya bagi bersatunya dengan kekuatan yang paling tinggi dan memaknai dunia. Agama menyelamatkan pengikutnya yang baik-baik dan mengurangi ritunitas terhadap keberadaan keduniawiaanya denga drama ritual dan puisi keagamaan. Agama menerima epic tertinggi penciptaan dan keselamatan yang melaui karir individual, sebaliknya begitu remeh-temeh dan bagitu singkat. Mengisi proposisi kosmik dan bermakna abadi; agama memberikan hidup sebuah makna yang mempertahankan kematian dan mengambil dan berberapa berbagi bersama dalam kemiskinan, beberapa berbagi terror, dan kepedihan mereka. Tetapi lebih daripada itu agama merupakan pendalaman kaesadaran dengan memerikan moral dasar emosi dan supranatural dibawah pengawasan dan perhatian Dzat tertinggi; agama juga memperkuat (insting sosial melawan dorongan individualistic yang jika tidak dirintangi akan mengoyak masyarakat menjadi serpihan-serpihan. Agama member ancaman hukuman dan pemberian ganjaran. Agama member kepada bangsa-bangsa dan benua (kadang-kadang seperti abad pertengahan ) kesatuan sosial tentang keyakinan, keimanan, dan orde moral umum. Karena agama negarawan diadili dan dihadiahi kemewahan serta kelebihan kekayaan didalam dirinya seperti Rameses. Ada yang mempertalikan kejayaan merekaterhadap agama seperti Ashurbanipal. Ada yang membangun candi yang begitu sempurna untuk dewa-dewa seperti Pericles kemudian terjadi persekutuan mereka sendiri dengan tuhan seperti Charlemagne dan ada yang tetap bangga dengan perdurhakaan seperti Ashoka dan akbar, Constantine dan Peter, Napoleon, dan Mussolini yang telah mendamaikan mereka dengannya. Seandainya aturan ditempa oleh tangan mereka mestinya tidak dilakukakn dengan cara melepaskan moral dan membrontak keimanan. “

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar