Rabu, 20 Juni 2012

Tinjauan Psikologis Mengenai Mengajar Agama


BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang
Psikologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai masalah kejiwaan manusia, di dalam dunia pendidikan, ilmu psikologi ini digunakan untuk membantu mengenali jiwa anak didik dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotor agar dalam proses belajar mengajar semakin lancar.
Berbicara mengenai hubungan psikologi dengan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan makalah yang akan penyusun bahas begitu sangat erat sekali, karena dengan mempelajari ilmu kejiwaan, seorang guru khususnya dapat memberikan pendidikan dan pengajaran agama sesuai dengan perkembangan anak didik artinya psikologi digunakan untuk pedoman dalam memberikan materi pendidikan dan pengajaran agama, sehingga yang menjadi tujuan dalam pendidikan dan pengajaran berupa ranah kognitif, afektif dan psikomotor akan mudah tercapai.
  Banyak berbagai buku yang membahas tentang tinjauan psikologis mengenai pendidikan dan pengajaran secara umum, akan tetapi dalam pembahasan makalah ini penyusun akan berusaha mengkhususkan kembali pembahasan yaitu mengenai tinjauan psikologis mengenai mengajar agama, oleh karena itu yang dibahas hanya sebatas perkembangan psikologis seseorang dari perkembangan beragamanya, sehingga akhirnya kita (pendidik/guru) mudah mencari bahan dan cara pendidikan serta pengajaran yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikologis peserta didik.

B.        Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut di atas, dapat digambarkan mengenai pembahasan dalam makalah ini. Yaitu:
1.      Apa pengertian psikologi, pendidikan dan mengajar ?
2.      Bagaimana tinjauan psikologis mengenai perkembangan beragama ?
3.      Bagaimana cara pendidikan dan pengajaran agama?


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian psikologi, Pendidikan dan Mengajar
1.      psikologi
Secara etimologis, psikologi berasal dari bahasa yunani, yaitu kata psyche yang berarti “jiwa” dan logos yang berarti “ilmu”. Jadi secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan (Alex, 2003: 19). Sedangkan menurut Poerbakawatja dan Harahap dalam bukunya Muhibbin Syah (2010: 9), “Psikologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan jiwa”.
2.      Pendidikan
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia, karena dengan adanya pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan manusia khususnya meningkatkan kedewasaan dan tanggung jawab, sebagaimana pengertian pendidikan menurut poerbaka watja dan harahap (1981), poerwanto (1985) dan winkel (1991) dalam bukunya Muhibbin Syah, (2010: 11) mereka mengatakan bahwa pendidikan adalah “usaha yang di sengaja dalam bentuk bantuan dan pimpinan dari orang dewasa kepada anak-anak untuk mencapai kedewasaan.” Artinya kedewasaan yang diharapkan itu berupa kedewasaan pemikiran, perilaku dan tingkah laku, biasanya berupa sikap rasa tanggungjawab.
Kemudian dapat disimpulkan,bahwa pengertian dari psikologi pendidikan ialah suatu studi yang sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.(H.C.Witherington, 1985:12)
3.      Mengajar
Menurut Tyson dan Caroll (1970) mengatakan bahwa definisi mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan. Sedangkan menurut Nasution (1986) mengajar adalah “… suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar”. (Muhibbin Syah,  2010: 179)
Jika kita perhatikan semua pengertian diatas mencakup pengertian pendidikan secara umum, sedangkan bila dilihat dari pengertian pendidikan agama mengandung arti “usaha-usaha sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar hidup sesuai dengan ajaran “ (Zuhairini,1983:27). 
Sedangkan untuk pengertian pengajaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) berasal dari kata“ajar” yang artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (di turut). Sementara menurut Muhibbin Syah, (2005: 34) pengajaran adalah “sebuah proses pendidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk memudahkan belajar”. Selanjutnya apabila pengajaran dalam kaitannya dengan pengajaran agama adalah “pemberian pengetahuan agama kepada anak supaya memiliki ilmu pengetahuan agama” (Zuhairini,1983: 27). Didalam pengajaran dikenal pula istilah mengajar artinya “memberikan pengetahuan kepada anak didik agar mereka dapat mengetahui peristiwa-peristiwa, hukum, proses sesuatu ilmu pengetahuan”. (Zuhairini,1983 : 30). Pendidikan itu merupakan pakaiannya dan benang adalah pengajaran, contohnya, seorang guru yang mendidik anaknya dalam bidang agama, maka ia takan terlepas dari upaya pengajaran agama dengan berbagai metode dan cara sesuai dengan kemampuanya.
Oleh sebab itu apabila ada yang mengatakan bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan dua hal yang berbeda itu adalah suatu persepsi yang sangat keliru.
Bahkan di dalam Al-Quran yang diturunkan pertama kali Q.s. Al-alaq : 4-5:
             
Artinya ; “…yang mengajarkan manusia dengan perantara kalam.dia mengajarkan kepada manusia apa yang di ketahuinya”. Ayat alquran tersebut menjelaskan tentang belajar mengajar yang kedua hal itu tidak akan terlepas dari proses pendidikan serta pengajaran.
B. Tinjauan Psikologi Mengenai Perkembangan Beragama
Setiap manusia itu terlahir dengan fitrah, menurut Al-Quran yang berkaitan dengan fitrah adalah:
    �   �       �        
            ‘’ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama allah ; tetaplah atas fitrah allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah allah, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. Ar-Rum: 30).
fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah, manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah karena pengaruh lingkungan.
 Pada umumnya keberagamaan seseorang dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, pelatihan, yang dilalui pada masa kecil. Seseorang yang pada masa kecilnya tidak mendapatkan pendidikan agama, akan mempengaruhi masa dewasa kelak, boleh jadi ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan orang yang masa kecilnya berada dalam lingkungan taat beragama, maka dengan sendirinya anak tersebut akan mempunyai kecenderungan hidup dalam aturan agama, dia akan terbiasa melakukan ibadah, takut melanggar aturan –aturan agama, dan dapat merasakan betapa nikmatnya ibadah.
Menurut Dzakariyah Drajat dalam bukunya zuhairini ( 1983: 32 ) bahwa “anak mulai mengenal Tuhan sejak usia 3- 4 tahunan, mereka mulai mengenal Tuhan mereka dengan bahasa dan apa saja yang ada disekitar mereka, sehingga mereka sering bertanya tentang siapa Tuhan dan apapun yang ada disekitar mereka”.

C. Metode / Cara Pendidikan dan Mengajar Agama
Banyak perbedaan pendapat yang mengatakan bahwa metode dengan cara itu merupakan dua hal yang berbeda, tetapi pada kenyataannya kita lebih sering mengunakan kata metode untuk istilah yang lebih resmi dibandingkan kata cara. Sedangkan penyusun sendiri mengambil kesimpulan bahwa metode dan cara itu merupakan dua hal yang sama.
 Metode adalah menggunakan cara yang paling tepat dan cepat. Dalam memberikan pendidikan dan pengajaran agama pun harus mengunakan metode, sedangkan pengertian dari metode pengajaran agama adalah “cara yang paling tepat dan cepat dalam mengajarkan agama.” Jika kita perhatikan pengertian dari metode, ada dua kata yang dicetak miring yaitu kata cepat dan tepat artinya efisien dan efektif khususnya dalam memberikan pendidikan dan pengajaran agama. Tafsir ( 1999:10 ). Dalam pengajaran, tentunya kita membutuhkan media atau alat. Definisi dari media sendiri adalah segala bentuk alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dari sumber ke peserta didik yang bertujuan merangsang mereka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.(Hamzah B.Uno : 2009)
Berikut ini adalah Macam-macam alat pendidikan dan pengajaran Agama, yaitu:
1. Alat pengajaran klasikal: Alat yang digunakan bersama-sama antara guru dengan murid. Contohnya papan tulis, kapur dan sebagainya.
2. Alat pengajaran individual : Alat yang digunakan masing-masing baik oleh guru maupun muridnya. Contohnya alat tulis, buku pelajaran, buku pegangan dan lain-lain.
3. Alat peraga: Alat yang digunakan untuk memperjelas dan memberikan gambaran secara nyata mengenai materi yang diajarkan.
Sedangkan untuk metode-metode yang biasa digunakan dalam pendidikan dan pengajaran adalah sebagai berikut:

1. Metode diskusi
2. Metode ceramah
3. Metode tanya jawab
4. Metode tes / uji
5. Metode praktek
6. dan berbagai metode yang lainya.

Bila kita melihat tugas dan fase perkembangan menurut Hurlock dalam bukunya alex (2003: 133) yang dimulai dari masa prenetal, itu sudah dilakukan pendidikan. Pendidikan yang biasa dilakukan berupa keteladanan yang di berikan oleh orang tuanya, bahkan disaat hamil pun sebetulnya ia telah belajar menerima pendidikan dari apa yang dilakukan oleh orang tuanya, tahapan yang kedua yaitu masa natal, di usia ini anak mulai diajarkan untuk mengamalkan apa yang ia telah pelajari (metode praktek), sehingga pada tahapan.masa remaja anak benar- benar mengamalkan apa yang ia pelajari dengan sungguh- sungguh, dan akhirnya di tahapan dewasa ia bisa menikmati hasil dari apa yang ia pelajari dari masa prenetal berupa pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya sampai usia dewasa itu bisa dirasakan.
Salah satu metode untuk mengajar itu adalah dengan suri tauladan kita (pengajar) kepada anak didik ketika mengajar ataupun di lingkungan luar. Ketika kita berada dimanapun, terutama dihadapan peserta didik, kita harus memberi arahan dan contoh yang baik. Dan yang sulit ketika ketika mengajar agama adalah tanggung jawab moral yang mesti kita pikul. Ketika ucapan dan perbuatan kita tidak sesuai dengan apa yang kita ucapkan tentunya akan menimbulkan sebuah pertentangan dalam diri peserta didik. Tentunya tak hanya sampai begitu saja, Efek lebihnya ialah kita selaku pengajar menjadi kurang dipercaya oleh peserta didik. Oleh karena itu, persiapkan diri kita, perbaiki diri kita, jangan sampai timbul hal-hal yang tidak diinginkan di hari mendatang.


BAB III
SIMPULAN

1.    Pengajaran agama adalah sebuah proses pendidikan dengan memberikan pengetahuan mengenai keagamaan yang direncanakan dan di arahkan kepada anak didik, untuk mencapai tujuan agar memiliki pengetahuan agama yang luas dan tingkah laku yang baik.
2.    Pada umumnya keberagamaan dan psikologis seseorang dipengaruhi oleh pendidikan (pengajaran) pengalaman dan pelatihan yang dilaluinya pada masa kecil, tetapi tidak dipungkiri bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah dengan fitrahnya yaitu tauhid.
3.    Cara mendidik atau mengajar agama kepada anak didik itu diperlukan metode/cara yang baik dan sesuai dengan tingkatan psikologis anak didik. Dan yang paling penting adalah suri tauladan (contoh) dari seorang pengajar tersebut.

 
DAFTAR PUSTAKA

B.Uno, Hamzah. 2009. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Santrock ,Jhon W..2009. Psikologi Pendidikan .Jakarta: Salemba humanika.  
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Sobur, Alex. 2003. Psikologi umum. Bandung : Pustaka Setia.
Tafsir.1999. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: PT Remaja Rosda karya.
Witherington, H.C. 1985. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Aksara Baru.
Zuhairini. 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya : Usaha nasional.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar