Rabu, 20 Juni 2012

islam di Asia Tenggara


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam terus memutarkan roda penyebarannya, hingga ke seluruh penjuru  dunia, hal ini mencakup pula wilayah RAS Melayu, yakni Asia Tenggara. Setelah  Islam menyebar  di daerah Timur Tengah dan mengekspansi kekuasan ke  wilayah-wilayah, kini giliran Asia Tenggara yang siap disinggahi dan disebari Islam (badri yatim. 2007,176) baru mulai berkembang, yang merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu, dan Asia Tenggara mejadi wilayah perebutan negara-negara Eropa. 
Kekuatan Eropa lebih awal menginjakan kaki dan mengibarkan kejayaan di negeri melayu ini, hal ini karena Kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah dibanding dengan kerajaan Timur Tengah, sehingga amat mudah untuk ditaklukan, hal ini tergambar dengan merajalelanya kaum bangsa Eropa yang menancapkan tongkat penjajahan. Asia Tenggara merupakan salah satu negeri Dunia Islam, adapun yang dimaksud dengan dunia Islam yakni negara-negara atau bangsa yang persentase penduduk muslimnya lebih dari 50 % dari keseluruhan jumlah penduduk.pertimbangan jumlah ini merupakan pertimbangan pertama dan terpenting, disamping itu pula ada pertimbangan-pertimbangan lain, seperti undang-undang negeri, atau kepala nagar negeri, pula kebudayaan negeri itu.Maka dari itu saya memmbahas hal tersebut dalam makalah ini.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana profil isalm di Asia Tenggara
2.      Bagaimana proses masuknya Islam di Asia Tenggara
3.      Penyebaran Islam di Asia Tenggara dan Indonesia
4.      Pekembangan Islam Asia Tenggara
5.      Peradaban Islam Asia Tenggara
6.      Tokoh Tokoh Penyebar Islam Di Asia Tenggara


BAB II
PEMBAHASAN
ASIA TENGGARA
A.                Profil Negara Asia Tenggara
Asia Tenggara adalah sebuah kawasan di benua Asia bagian tenggara. Kawasan ini mencakup Indochina dan Semenanjung Malaya serta kepulauan di sekitarnya. Asia Tenggara berbatasan dengan Republik Rakyat Cina di sebelah utara, Samudra Pasifik di timur, Samudra Hindia di selatan, dan Samudra Hindia, Teluk Benggala, dan anak benua India di barat.
Asia Tenggara biasa dipilah dalam dua kelompok: Asia Tenggara Daratan (ATD) dan Asia Tenggara Maritim (ATM).
*                   Negara-negara yang termasuk ke dalam ATD adalah
1.                   Kamboja
2.                   Laos
3.                   Myanmar
4.                   Thailand
5.                   Vietnam
*                   Negara-negara yang termasuk ATM adalah
1.                   Brunei
2.                   Filipina
3.                   Indonesia
4.                   Malaysia
5.                   Singapura
6.                   Timor Leste
Malaysia, meskipun ada bagian yang tersambung ke benua Asia, biasa dimasukkan ke dalam ATM karena alasan budaya. Semua negara Asia Tenggara terhimpun ke dalam organisasi ASEAN. Timor Leste yang sebelumnya merupakan bagian dari Indonesia telah mengajukan diri menjadi anggota ASEAN walaupun oleh beberapa pihak, atas alasan politis, negara ini dimasukkan ke kawasan Pasifik.
Secara geografis (dan juga secara historis) sebenarnya Taiwan dan pulau Hainan juga termasuk Asia Tenggara, sehingga diikutkan pula. Namun demikian, karena alasan politik Taiwan dan pulau Hainan lebih sering dimasukkan ke kawasan Asia Timur. Kepulauan Cocos dan Pulau Christmas, yang terletak di selatan Jawa, oleh beberapa pihak dimasukkan sebagai Asia Tenggara meskipun secara politik berada di bawah administrasi Australia. Sebaliknya, Pulau Papua dimasukkan sebagai Asia Tenggara secara politik meskipun secara geologi sudah tidak termasuk benua Asia.
1.               Geologi
Asia Tenggara terletak pada pertemuan lempeng-lempeng geologi, dengan aktivitas kegempaan (seismik) dan gunung berapi (vulkanik) yang tinggi. Sementara ATD relatif stabil dan merupakan daratan tua, ATM sangatlah dinamik karena di sana bertemu dua lempeng benua besar: lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, ditambah dengan lempeng Filipina yang lebih kecil. Tiga pulau besar di Indonesia: Sumatra, Jawa, dan Kalimantan baru terpisah dari benua Asia sekitar 10 ribu tahun yang lalu akibat naiknya muka air laut karena usainya Zaman Es terakhir. Pulau Papua secara geologi termasuk dalam benua Australia, yang juga terpisah karena peristiwa yang sama. Kedua lempeng besar itu bertemu pada busur cekungan yang memanjang ke selatan dari Teluk Benggala di barat Myanmar dan Thailand, terus menuju sisi barat Sumatra, lalu membelok ke timur membentuk Palung Jawa yang memanjang di selatan Jawa dan Kepulauan Nusa Tenggara. Akibatnya gempa bumi sering terjadi di daerah-daerah sekitarnya, seperti Gempa bumi Samudra Hindia 2004. Desakan lempeng Indo-Australia mengangkat permukaan pulau-pulau yang ada di dekatnya, sehingga terbentuklah deretan gunung berapi aktif. Pulau Jawa adalah pulau dengan cacah gunung berapi terbanyak di dunia. Gunung Kerinci adalah gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara. Di sebelah timur Filipina terdapat pula Palung Mindanao dan Palung Mariana yang merupakan pertemuan antara lempeng Filipina dan lempeng Pasifik. Di Filipina juga terdapat aktivitas kegunungapian yang tinggi.
Puncak tertinggi yang berada di Gunung Kinabalu (4.101 m; Kalimantan) dan Puncak Jaya di Pulau Papua, Indonesia (5.030 m).
Terdapat beberapa klaim dan perebutan wilayah dan batas perairan di kawasan ini, yang melibatkan negara-negara di kawasan ini maupun yang melibatkan negara di luar Asia Tenggara (terutama Tiongkok dan Taiwan dalam kasus Kepulauan Spratly).
Geografi Asia Tenggara dapat dikategorikan menjadi dua bagian, daratan dan kepulauan. Negara-negara yang berada di daratan termasuk Myanmar, Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam. Sedangkan negara-negara yang berada di kepulauan termasuk Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

2.               Agama

Agama yang dianut oleh penduduk Asia Tenggara sangat beragam dan tersebar di seluruh wilayah. Agama Buddha menjadi mayoritas di Thailand, Myanmar, dan Laos serta Vietnam dan Kamboja. Agama Islam dianut oleh mayoritas penduduk di Indonesia, Malaysia, dan Brunei dengan Indonesia menjadi negara dengan penganut Islam terbanyak di dunia. Agama Kristen menjadi mayoritas di Filipina. Di Singapura, agama dengan pemeluk terbanyak adalah agama yang dianut oleh orang Tionghoa seperti Buddha, Taoisme, dan Konfusianisme.
Walau begitu, di beberapa daerah, ada kantong-kantong pemeluk agama yang bukan mayoritas seperti Hindu di Bali dan Kristen di Maluku dan Papua atau Islam di Thailand dan Filipina bagian selatan.
B.                  Proses Masuknya Islam di Asia Tenggara
Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang dan para sufi. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di Dunia lainnya yang disebarluaskan melalui penaklulan Arab dan Turki. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.
Mengenai kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hamper semuanya didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab, India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5 sebelum Masehi Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir. Kondisi semacam inilah yang dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar pesisir.
Menurut Uka Tjandra Sasmita, prorses masukya Islam ke Asia Tenggara yang berkembang ada enam, yaitu:
1. Saluran perdagangan
Pada taraf permulaan, proses masuknya Islam adalah melalui perdagangan. Kesibukan lalu-lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagangpedagang Muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian Barat, Tenggara dan Timur Benua Asia. Saluran Islamisasi melaui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak Muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat penguasa-penguasa Jawa yang menjabat sebagai Bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir Utara Jawa banyak yang masuk Islam, bukan karena hanya faktor politik dalam negeri yang sedang goyah, tetapi karena factor hubungan ekonomi drengan pedagang-rpedrarrgarng Muslim.
Perkembangan selanjutnya mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.
2. Saluran perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama puteri-puteri bangsawan, tertarik untuk menjadi isteri saudagar-saudagar itu. Sebelum dikawin mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas, akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan Muslim.
Dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita Muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan; tentu saja setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini jauh lebih menguntungkan apabila antara saudagar Muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja dan adipati atau bangsawan itu kemudian turut mempercepat proses Islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan puteri Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang mempunyai keturunan Raden Patah (Raja pertama Demak) dan lain-lain.
3. Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf atau para sufi mengajarkan teosofi yang bercampur dengana jaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Diantara mereka juga ada yang mengawini puteri-puteri bangsawab setempat. Dengan tasawuf, “bentuk” Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Diantara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih dikembangkan di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M ini.
4. Saluran prendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwak ketempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Kleuaran pesantren ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan Agama Islam.
5. Saluran kesenian
Saluran Islamisasi melaui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam serita itu di sisipkan ajaran nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lainnya juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir.
6. Saluran politik
Di Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia Bagian Timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.
Untuk lebih memperjelas bagaimana proses masuknya agama Islam di Asia Tenggara ini, ada 3 teori diharapkan dapat membantu memperjelas tentang penerimaan Islam yang sebenarnya:
a. Menekankan peran kaum pedagang yang telah melembagakan diri mereka di beberapa wilayah pesisir lndonesia, dan wilayah Asia Tenggara yang lain yang kemudian melakukan asimilasi dengan jalan menikah dengan beberapa keluarga penguasa local yang telah menyumbangkan peran diplomatik, dan pengalaman lnternasional terhadap perusahaan perdagangan para penguasa pesisir. Kelompok pertama yang memeluk agama lslam adalah dari penguasa lokal yang berusaha menarik simpati lalu-lintas Muslim dan menjadi persekutuan dalam bersaing menghadapi pedagang-pedagang Hindu dari Jawa. Beberapa tokoh di wilayah pesisir tersebut menjadikan konversi ke agama lslam untuk melegitimasi perlawanan mereka terhadap otoritas Majapahit dan untuk melepaskan diri dari pemerintahan beberapa lmperium wilayah tengah Jawa.
b. Menekankan peran kaum misionari dari Gujarat, Bengal dan Arabia. Kedatangan para sufi bukan hanya sebagai guru tetapi sekaligus juga sebagai pedagang dan politisi yang memasuki lingkungan istana para penguasa, perkampungan kaum pedagang, dan memasuki perkampungan di wilayah pedalaman. Mereka mampu mengkomunikasikan visi agama mereka dalam bentuknya, yang sesuai dengan keyakinan yang telah berkembang di wilayah Asia Tenggara. Dengan demikian dimungkinkan bahwa masuknya Islam ke Asia Tenggara agaknya tidak lepas dengan kultur daerah setempat.
c. Lebih menekankan makna lslam bagi masyarakat umum dari pada bagi kalangan elite pemerintah. Islam telah menyumbang sebuah landasan ldeologis bagi kebajikan lndividual, bagi solidaritas kaum tani dan komunitas pedagang, dan bagi lntegrasi kelompok parochial yang lebih kecil menjadi masyarakat yang lebih besar (Lapidus, 1999:720-721). Agaknya ketiga teori tersebut bisa jadi semuanya berlaku, sekalipun dalam kondisi yang berbeda antara satu daerah dengan yang lainnya. Tidak terdapat proses tunggal atau sumber tunggal bagi penyebaran lslam di Asia Tenggara, namun para pedagang dan kaum sufi pengembara, pengaruh para murid, dan penyebaran berbagai sekolah agaknya merupakan faktor penyebaran lslam yang sangat penting.
C.                  Penyebaran Islam di Asia Tenggara dan Indonesia
Sejak abad pertama, kawasan laut Asia Tenggara, khususnya Selat Malaka sudah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan internasional yang dapat menghubungkan negeri-negeri di Asia Timur Jauh, Asia Tenggara dan Asia Barat. Perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh dari Teluk Persia sampai China melalui Selat Malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembangnya kekuasaan besar, yaitu China dibawah Dinasti Tang (618-907), kerajaan Sriwijaya (abad ke-7-14), dan Dinasti Umayyah (660-749).
Mulai abad ke-7 dan ke-8 (abad ke-1 dan ke-2 H), orang Muslim Persia dan Arab sudah turut serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke negeri China. Pada masa pemerintahan Tai Tsung (627-650) kaisar ke-2 dari Dinasti Tang, telah dating empat orang Muslim dari jazirah Arabia. Yang pertama, bertempat di Canton (Guangzhou), yang kedua menetap dikota Chow, yang ketiga dan keempat bermukim di Coang Chow. Orang Muslim pertama, Sa’ad bin Abi Waqqas, adalah seorang muballigh dan sahabat Nabi Muhammad SAW dalam sejarah Islam di China. Ia bukan saja mendirikan masjid di Canto, yang disebut masjid Wa-Zhin-Zi (masjid kenangan atas nabi).
Karena itu, sampai sekarang kaum Muslim China membanggakan sejarah perkembangan Islam di negeri mereka, yang dibawa langsung oleh sahabat dekat Nabi Muhammad SAW sendiri, sejak abad ke-7 dan sesudahnya. Makin banyak orang Muslim berdatangan ke negeri China baik sebagai pedagang maupun mubaligh yang secara khusus melakukan penyebaran Islam. Sejak abad ke-7 dan abad selanjutnya Islam telah datang di daerah bagian Timur Asia, yaitu di negeri China, khususnya China Selatan. Namun ini menimbulkan pertanyaan tentang kedatangan Islam di daerah Asia Tenggara. Sebagaimana dikemukakan diatas Selat Malaka sejak abad tersebut sudah mempunyai kedudukan penting. Karena itu, boleh jadi para pedagang dan munaligh Arab dan Persia yang sampai di China Selatan juga menempuh pelayaran melalui Selat Malaka. Kedatangan Islam di Asia Tenggara dapat dihubungkan dengan pemberitaan dari I-Cing, seorang musafir Budha, yang mengadakan perjalanan dengan kapal yang di sebutnya kapal Po-Sse di Canton pada tahun 671. Ia kemudian berlayar menuju arah selatan ke Bhoga (di duga daerah Palembang di Sumatera Selatan). Selain pemberitaan tersebut, dalam Hsin-Ting-Shu dari masa Dinasti yang terdapat laporan yang menceritakan orang Ta-Shih mempunyai niat untuk menyerang kerajaan Ho-Ling di bawah pemerintahan Ratu Sima (674).
Dari sumber tersebut, ada dua sebutan yaitu Po-Sse dan Ta-Shih. Menurut beberapa ahli, yang dimaksud dengan Po-Sse adalah Persia dan yang dimaksud dengan Ta-Shih adalah Arab. Jadi jelaslah bahwa orang Persia dan Arab sudah hadir di Asia Tenggara sejak abad-7 dengan membawa ajaran Islam.
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah tentang tempat orang Ta Shih. Ada yang menyebut bahwa mereka berada di Pesisir Barat Sumatera atau di Palembang. Namun adapula yang memperkirakannya di Kuala Barang di daerah Terengganu. Terlepas dari beda pendapat ini, jelas bahwa tempat tersebut berada di bagian Barat Asia Tenggara. Juga ada pemberitaan China (sekitar tahun 758) dari Hikayat Dinasti Tang yang melaporkan peristiwa pemberontakan yang dilakukan orang Ta-Shih dan Po-Se. Mereka mersak dan membakar kota Canton (Guangzhoo) untuk membantu kaum petani melawan pemerintahan Kaisar Hitsung (878-899).
Setelah melakukan perusakan dan pembakaran kota Canton itu, orang Ta-Shih dan Po-Se menyingkir dengan kapal. Mereka ke Kedah dan Palembang untuk meminta perlindungan dari kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan berita ini terlihat bahwa orang Arab dan Persia yang sudah merupakan komunitas Muslim itu mampu melakukan kegiatan politik dan perlawanan terhadap penguasa China. Ada beberapa pendapat dari para ahli sejarah mengenai masuknya Islam ke Indonesia :
1. Menurut Zainal Arifin Abbas, Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M (684 M). Pada tahun tersebut datang seorang pemimpin Arab ke Tiongkok dan sudah mempunyai pengikut dari Sumatera Utara. Jadi, agama Islam masuk pertama kali ke Indonesia di Sumatera Utara.

2. Menurut Dr. Hamka, Agama Islam masuk ke Indonesia pada tahun 674 M. Berdasarkan catatan Tiongkok , saat itu datang seorang utusan raja Arab Ta Cheh (kemungkinan Muawiyah bin Abu Sufyan) ke Kerajaan Ho Ling (Kaling/Kalingga) untuk membuktikan keadilan, kemakmuran dan keamanan pemerintah Ratu Shima di Jawa.
3. Menurut Drs. Juneid Parinduri, Agama Islam masuk ke Indonesia pada tahun 670 M karena di Barus Tapanuli, didapatkan sebuah makam yang berangka Haa-Miim yang berarti tahun 670 M.
4. Seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963, mengambil kesimpulan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad I H/abad 7 M langsung dari Arab. Daerah pertama yang didatangi ialah pasisir Sumatera.
Sedangkan perkembangan Agama Islam di Indonesia sampai berdirinya kerajaankerajaan Islam di bagi menjadi tiga fase, antara lain :
a. Singgahnya pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Sumbernya adalah berita luar negeri, terutama Cina;
b. Adanya komunitas-komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan Indonesia. Sumbernya di samping berita-berita asing juga makam-makam Islam;
c. Berdirinya kerajaan-kerajaan Islam (Abdullah, 1991:39).
C. Perkembangan Keagamaan dan Peradaban
Sebagaimana telah diuraikan di atas, pada term penyebaran Islam di Asia Tenggara yang tidak terlepas dari kaum pedagang Muslim. Hingga kontrol ekonomi pun di monopoli oleh mereka. Disamping itu pengaruh ajaran Islam sendiripun telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan Masyarakat Asia Tenggara. Islam mentransformasikan budaya masyarakat yang telah di-Islamkan di kawasan ini, secara bertahap. Islam dan etos yang lahir darinya muncul sebagai dasar kebudayaan.

Namun dari masyarakat yang telah di-Islamkan dengan sedikit muatan lokal. Islamisasi dari kawasan Asia Tenggara ini membawa persamaan di bidang pendidikan. Pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa kaum bangsawan. Tradisi pendidikan Islam melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Setiap Muslim diharapkan mampu membaca al Qur’an dan memahami asas-asas Islam secara rasional dan dan dengan belajar huruf Arab diperkenalkan dan digunakan di seluruh wilayah dari Aceh hingga Mindanao. Bahasabahasa lokal diperluasnya dengan kosa-kata dan gaya bahasa Arab. Bahasa Melayu secara khusus dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari di Asia Tenggara dan menjadi media pengajaran agama. Bahasa Melayu juga punya peran yang penting bagi pemersatu seluruh wilayah itu.
Sejumlah karya bermutu di bidang teologi, hukum, sastra dan sejarah, segera bermunculan. Banyak daerah di wilayah ini seperti Pasai, Malaka dan Aceh juga Pattani muncul sebagai pusat pengajaran agama yang menjadi daya tarik para pelajar dari sejumlah penjuru wilayah ini.
System pendidikan Islam kemudian segera di rancang. Dalam banyak batas, Masjid atau Surau menjadi lembaga pusat pengajaran. Namun beberapa lembaga seperti pesantren di Jawa dan pondok di Semenanjung Melaya segera berdiri. Hubungan dengan pusat-pusat pendidikan di Dunia Islam segera di bina. Tradisi pengajaran Paripatetis yang mendahului kedatangan Islam di wilayah ini tetap berlangsung. Ibadah Haji ke Tanah Suci di selenggarakan, dan ikatan emosional, spritual, psikologis, dan intelektual dengan kaum Muslim Timur Tengah segera terjalin. Lebih dari itu arus imigrasi masyarakat Arab ke wilayah ini semakin deras.
Di bawah bimbingan para ulama Arab dan dukungan negara, wilayah ini melahirkan ulama-ulama pribumi yang segera mengambil kepemimpinan lslam di wilayah ini. Semua perkembangan bisa dikatakan karena lslam, kemudian melahirkan pandangan hidup kaum Muslim yang unik di wilayah ini. Sambil tetap memberi penekanan pada keunggulan lslam, pandangan hdup ini juga memungkinkan unsur-unsur local masuk dalam pemikiran para ulama pribumi. Mengenai masalah identitas, internalisasi Islam, atau paling tidak aspek luarnya, oleh pendudukan kepulauan membuat Islam muncul sebagai kesatuan yang utuh dari jiwa dan identitas subyektif mereka. Namun fragmentasi politik yang mewarnai wilayah ini, di sisi lain, juga melahirkan perasaan akan perbedaan identitas politik diantara penduduk yang telah di Islamkan.
D.                Pekembangan Islam Asia Tenggara
George Coedes dianggap sebagai le doyen dari studi sejarah kuno Asia Tenggara. Arkeolog Prancis inilah yang menemukan kembali (1913) kemaharajaan Sriwijaya, setelah sekian abad terlupakan dalam sejarah. Coedes juga salah seorang pendekar utama dalam menemukan berbagai aspek dari sejarah purbakala di daratan (mainland) Asia Tenggara. Harry Benda yang semasa hidupnya adalah Guru Besar Sejarah Asia Tenggara di Yale University, mencoba menemukan ”struktur sejara Asia Tenggara”, dengan mencara landasan yang paling awal dari dinamika sejarah. Benda pun tampil dengan gagasan untuk membagi Asia Tenggara atas tiga wilayah kultural, yang sekaligus bisa dilihat pula sebagai landasan kultural dari dinamika sejarah, ia berkesimpulan bahwa sebagian besar dari kawasan ini boleh disebut sebagai Indianized Sotheast Asia, Asia Tenggara yang telah di-India-kan seperti Indonesia. Daerah kedua ialah Sinicized Sootheast Asia, yang telah ”di-Cina-kan”, yang dimaksud ialah Vetnam atau orang-orang Vetnam. Dan yang ketiga, Hispanized Southeast Asia, yang di-Spanyol-kan yaitu Filipina.
Sejak beberapa tahun terakhir, sejumlah pengamat dunia Islam atau islamicist di luar negeri memberikan analisis dan komnetar yang positif tentang perkembangan Islam di Asia Tenggara, Khususnya Indonesia dan Malaysia. Karakter terpenting Islam di Asia Tenggara misalnya, watak yang lebih damai, ramah, dan toleran. Watak Islam seperti ini diakui banyak pengamat atau orentalis di masa lalu. Di antaranya, Thomas W. Arnold, dengan buku klasiknya, The Preaching of Islam (1950) yang menyimpulkan bahwa penyebaran dan perkembangan history Islam di Asia Tenggara berlansung secara damai; dalam istilah Arnold disebut sebagai penetration pacifigure. Penyebaran Islam secara damai di Asia Tenggara berbeda dengan ekspansi Islam di banyak wilayah Timu Tengah, Asia Selatan, dan Afrika yang oleh sumber-sumber Islam di Timur Tengah disebut fath, yakni pembebasan, yang sering melibatkan kekuatan militer. Meskipun futuh di kawasan-kawasan yang disebutkan terakhir ini tidak selamanya berupa pemaksaan penduduk setempat untuk memeluk Islam, akhirnya wilayah-wilayah ini mengalami ”Arabisasi” yang lebih intens. Sebaliknya, penyebaran Islam di Asia Tenggara tidak pernah disebut sebagai futuh yang disertai kehadiran kekuatan militer Muslim dari luar. Hasilnya, Asia Tenggara sering disebut sebagai wilayah Muslim yang the last Aribicized paling kurang mengalami “Arabisasi”.

1.                  Islamisasi Asia Tenggara

Sejarah Islam di Asia Tenggara, khususnya pada masa awal, luar biasa galau dan rumitnya. Kegalauan dan kerumitan ini bukan hanya disebabkan oleh kompleksitas di sekitar sosok Islam itu sendiri sebagaimana direfleksikan oleh kaum Muslimin di kawasan ini, baik melalui histiografi maupun dlam praktek kehidupan sehari-hari, melainkan juga karena pengkajian-pengkajian sejarah Islam dengan berbagai aspeknya si AsiaTenggara.
Penetrasi Islam di Asia Tenggara secara kasar dapat ke dalam tiga tahap. Tahap pertama dimulai dengan kedatangan Islam yang kemudian di ikuti dengan kemerosotan, akhirnya keruntuhan kerajaan Majapahit pada kurun abad ke-14 dan ke-15. tahap kedua sejak datang dan mapannya kekuasaan kolonialis Belanda di Indonesia, Inggris di semananjung Malaya dan Spanyol di Filipina sampai awal abad ke-19.sedangkan tahap ketiga bermula pada awal abad ke-20 dengan terjadinya liberalisasi kebijaksanaan pemerintah kolonial, terutama Belanda di Indonesia. Dalam tahap-tahap ini proses islamisasi Asia Tenggara sampai mencapai tingkat seperti sekarang. Dalam tahap pertama penetrasi Islam masih relatif terbatas di kota-kota pelabuhan. Tetapi dalam waktu yang tidak terlalu lama, islm mulai menempuh jalannya memasuki wilayah-wilayah pesisir lainnya dan pedesaan. Islam dalam tahap ini sangat diwarnai aspek tasawuf atau mistik ajaran Islam, meski tidak berarti aspek hukum terabaikan sama sekali. Hal ini karena islam tasawuf yang datang ke Nusantara, dengan segala pemahaman dan penafsiran mistisnya terhadap Islam, dalam beberapa segi tertentu cocok dengan latar belakang masyarakat setempat yang dipengaruhi aksetisme hindu-Budha dan sinkretisme kepercayaan lokal. Pada tahap pertama ini, islam tidak lansung secara merata diterima oleh lapisan terbawah masyarakat.
Pada abad ke-18 lembaga-lembaga Islam yang vital seperti meunasah di Aceh, surau di Minangkabau dan Semenanjung Malaya, pesantren di Jawa dan lembaga-lembaga semacamnya mulai mapan, meskipun kebanyakan masih tetap merupakankubu-kubu terkuat tasawuf. Dan lembaga-lembaga Islam semacam ini telah tumbuh menjadi institusi aupra-desa, yang mengatasi kepemimpinan kesukuan, sistem adat tertentu, kedaerahan dan lainnya. Secara alamiah mereka tumbuh menjadi lembaga-lembaga islam yang Universal, yang menerima guru dan murid tanpa memandang latar belakang suku, daerah dan semacamnya, sehingga mereka mampu membentuk jaringan kepemimpinan intelektual dan praxis keagamaan dalam berbagai tingkatan. Proses islamisasi dan intensifikasi kesadaran keislaman yang tidak dapat dimundurkan itu semakin menemukan momentumnya, berbagai ahli telah mencoba menjelaskan mengapa Islam mampu hadir sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Nusantara dengan mengemukakan berbagai teori. Sebagian ahli menyatakan bahwa para pedagang Muslim yang datang ke Asia Tenggara memperkanalkan Islam guna mendapatkan keunggulan ekonomi dan politik di kalangan masyarakat pribumi. Sejajar dengan teori di atas ialah adanya anggapan bahwa kehadiran kolonial justru yang meransang terjadinya proses islamisasi dan intensifikasi di kawasan ini. Identifikasi kolonial sebagai penjajah kafir membuka jalan lebih hebat bagi Islam untuk secara tegar tampil sebagai satu-satunya wadah yang mampu memberikan identitas diri dan menjadi faktor integratif masyarakat pribumi yang terbelah oleh berbagai faktor sosial dan kultur itu dalam menghadapi pembatasan yang dilakukan kolonial. Tindakan kekerasan atau berbagai pembatasan yang dilakukan oleh kolonialis, diluar harapan mereka, justru mempercapat proses kristalisasi kehadiran Islam sebagai simbol perlawanan, atau seperti kata Legge, sebagai ”mekanisme pertahanan diri” (defence mechanisme) penduduk local dalam menghadapi penindasan para penjajah.
E.                 Peradaban Islam Asia Tenggara
Perbincangan tentang kompatibilitas atau sebaliknya inkompatibilitas kebudayaan atau lebih luas, peradaban Islam dengan tantangan dunia modern-indutrial telah banyak dibicarakan orang. Kaum modernis Muslim, dengan berbagai bentuk ramifikasinya beragumen dengan cukup kuat bahwa terdapat kompatibilitas yang tingi antara Islam dan ”Islamicate” – meminjam istilah Hodgson – dengan dunia modern-industrial. Posisi peradaban Islam vis-a-vis dunia saintifik-teknologikal dan industrial dewasa ini memang cukup problematik. Mengikuti argumen Gellner, dari empat peradaban tulis dunia, kelihatannya hanya Islam yang dapat mempetahankan keimanan pra-industrialnya. Keimanan Kristen telah ditafsir ulang bahkan ”diobrak-abrik” unuk disesuaikan dengan perkembangan saintifik-teknologikal dan industrial. Kemunculan dan perkembangan Islam di Dunia indo-Melayu menimbukan transformasi kebudayaan-peradaban lokal. Menurut grunnebaum transformasi kebudayaan-peradaban Indo-Melayu itu dalam banyak hala hampir sama dengan konversi masyarakat Arab ke dalam Islam. Mengunakan istilah ”religious revolution” Reid menggambarkan terjadinya transformasi kebudayaan-peradaban di wilayah indo-Melayu dari sistem keagamaan lokal kepada sistem keagamaan Islam, lengkap dengan berbagai bentuk pengejawantahan kebudayaan-peradabannya. Konversi massal masyarakat Indo-Melayu kepada Islam terjadi berbarengan dengan apa yang disebut oleh Reid sebagai ”masa perdgangan” (the age of commerce), masa ketika Asia Tenggara mengalami ”trade boom” karena meningkatnya posisi Nusantara dalam perdagangan Timur-Barat. Kota-kota di wilayah pesisir muncul dan berkembang menjadi pusat pusat perdagangan, kekayaan, dan kekuasaan.
Kebudayaan-peradaban Islam di dunia indo-Melayu, dibangun berdasarkan beberapa perkembangan historis penting, yang mencakup karakteristik, seperti kosmopolitanisme, apreasiasi terhadap kekayaan, kekuasaan, literasi, dan inklusivisme neosufisme. Semua karakteristik ini lebih banyak kaitannya dengan high Islam dari pada low Islam. Jika karakteristik ini dikembangkan kembali dunia Indo-Melayu dapat membangun peradaban saintifik – teknologikal dan industrial serta survive di tengah pertarungan global yang kina keras dn kompetitif di masa sekarang dan mendatang.
F.                  Tokoh Tokoh Penyebar Islam Di Asia Tenggara
Kedatagan Islam di Asia Tenggara telah banyak dibicarakan, terutama oleh para sarjana Islam. Walaupun sampai sekarang masih wujud perselisihan pendapat antara satu dengan yang lainnya, namun sebagai perkenalan diringkaskan di bawah ini:
Banyak pendapat mengatakan Islam tersebar di Asia Tenggara sejak abad 11, 12 dan 13 M. Ada berpendapat bahawa pengislaman negeri Kelantan datangnya dari negeri Patani. Sejak akhir abad ke- 2 Hijrah atau abad ke-7 Masihi telah datang pedagang Arab ke Patani yang kemudian terjadi asimilasi perkahwinan dengan orang-orang Melayu, dan dipercayai, sekali gus mereka menyebarkan Islam di pantai Timur Semenanjung Tanah Melayu.
Pertemuan
Dikatakan seorang bangsa Arab bernama Sheikh Ali Abdullah yang dahulunya tinggal di Patani, mengislamkan raja Kelantan. Pengakuan Perdana Menteri Kelantan, Haji Nik Mahmud Nik Ismail tentang pertemuan mata wang tahun 577 Hijrah atau 1181 Masihi, tulisan dengan angka Arab, juga tertulis dengan huruf Arab sebelah menyebelah mata wang itu masing-masing dengan Al-Julusul Kalantan dan Al-Mutawakkal 'alallah.Sekitar tahun 1150 Masihi, datang seorang Sheikh dari Patani menyebarkan Islam di Kelantan. Diriwayatkan pula oleh ulama Patani secara bersambung bahawa Islam masuk ke Patani dibawa oleh Sheikh Abdur Razaq dari Tanah Arab.  Sebelum ke Patani, beliau tinggal di Aceh hampir 40 tahun. Selain itu, tulisan Arab telah lama digunakan sekali gus bersama tulisan Melayu/Jawi. Hal ini dibuktikan dengan mata wang yang digunakan di Patani. Sebelah hadapannya tertulis dengan bahasa Melayu, “Ini pitis belanja di dalam negeri Patani”, manakala di sebelah belakangnya dengan bahasa Arab yang jika diterjemahkan ertinya seperti di atas, tetapi di sebelah bahasa Arabnya ditambah dengan kalimat Sanah 1305.
Mata wang itu dibesarkan tiga kali ganda dari aslinya, maka sebelah yang bahasa Melayunya tertulis, “Duit ini untuk perbelanjaan dalam negeri Patani”, manakala sebelah bahasa Arabnya tertulis kata-kata ‘tahun Masihi 1305’. Tulisan Arab bahasa Melayu pada mata wang Patani tersebut tidak berjauhan tempoh jaraknya dengan Batu Bersurat yang terdapat di Kuala Berang, Terengganu yang bertahun 702 Hijrah atau 1303 Masihi atau 786 Hijrah atau 1398 Masihi.
Dikatakan Kedah menerima agama Islam dibawa oleh seorang mubaligh bernama Sheikh Abdullah bin Syeikh Ahmad bin Sheikh Ja’far Qaumiri dari negeri Syahrir, Yaman. Beliau sampai di Kedah pada tahun 531 Hijrah. Beliau berhasil mengislamkan Sri Paduka Maharaja dan menteri-menterinya.
Aceh termasuk negeri yang pertama diketemui oleh para pedagang Islam yang datang ke wilayah Nusantara tersebut. Di antara penyebar Islam yang terkenal bernama Sheikh Abdullah Arif (di abad ke 12M). Salah satu karya tasawufnya dalam bahasa Arab berjudul, Bahrul Lahut.
Dalam karya klasik karangan Tun Sri Lanang, dalam Sejarah Melayunya yang terkenal itu, bahawa beliau menceritakan kedatangan Sheikh Ismail yang berhasil mengislamkan seorang yang akhirnya terkenal dengan nama Sultan Malikush Shaleh. Islam di Aceh sampai ke puncak kejayaannya di zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Melalui Aceh sehingga negeri Minangkabau menerima Islam, walaupun pada mulanya berjalan agak lambat lantaran pengaruh agama Hindu yang masih sangat menebal. Pada tahun 1440 Masihi, Islam mulai bertapak di Palembang (Sumatera Selatan) yang disebarkan oleh Raden Rahmat. Di Leren Jawa diketemukan batu nisan seorang perempuan bernama Fathimah Maimun bertahun 495 Hijrah atau 1101 Masihi. Kira-kira tahun 1195 Masihi, Haji Purwa iaitu salah seorang putera Raja Pajajaran kembali dari pengembaraannya, lantas mengajak semua keluarga kerajaan supaya memeluk agama Islam. Namun usaha beliau itu gagal. Para penyebar Islam di Pulau Jawa memuncak tinggi dengan sebutan Wali Songo/ Wali Sembilannya, yang terkenal di antara penyebar itu seumpama Maulana Malik Ibrahim yang makamnya di Gersik tahun 1419 Masihi. Pada abad ke-15 Masihi Islam berkembang di Maluku dengan pantas, terkenal penyebarnya bernama Sheikh Manshur yang berhasil mengislamkan Raja Tidore serta rakyat di bawah pemerintahannya. Adapun Sulawesi berdasarkan buku Hikayat Tanah-Tanah Besar Melayu, tanpa nama pengarang, yang diterbitkan oleh Printed at the Government Printing Office, Singapore, Straits Settlement, 1875 dikatakan bahawa yang terakhir menerima Islam ialah bangsa Bugis. Barangkali lebih kurang tahun 1620 Masihi. Tahun 1620 Masihi boleh disejajarkan dengan tahun kedatangan mubaligh-mubaligh penyebar Islam yang datang dari Minangkabau. Dato’ Ri Bandang (Khathib Tunggal Abdul Makmur) telah mengislamkan Raja Tallo I Malingkaan Daeng Manyore dan Raja Goa I Mangarangi Daeng Manrabia, yang memeluk agama Islam pada hari Jumaat 9 Jamadilawal 1015 Hijrah bersamaan 22 September 1605 Masihi. Dato’ Ri Bandang dibantu oleh Raja Goa menyiarkan Islam di Wajo. Beliau meninggal dunia di Patimang negeri Luwu (Indonesia), maka terkenallah beliau dengan sebutan Dato’ Patimang. Penyiar Islam yang seorang lagi bernama Dato’ Ri Tiro. Barangkali Islam masuk di Sulawesi lebih awal dari tahun tersebut di atas. Pada tahun 1412 Masihi, seorang ulama Patani pernah mengembara hingga ke Pulau Buton dengan tujuan menyiarkan agama Islam ke bahagian Timur. Raja Mulae i-Goa menyambut kedatangan ulama itu dengan berlapang dada.
Pada tahun 1564 Masihi, disusul oleh Sheikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman yang lama menetap di Johor lalu melanjutkan perjalanannya ke Pulau Buton. Walaupun beliau berasal dari Patani tetapi dikatakan masyarakat bahawa beliau adalah ulama Johor.
Seorang bangsa Portugis bernama Pinto pernah datang ke Sulawesi Selatan dalam tahun 1544 Masihi, beliau melaporkan bahawa di Sulawesi Selatan telah banyak pedagang Islam yang datangnya dari Johor, Patani dan Pahang. Selanjutnya terjadi perkahwinan para pedagang yang beragama Islam itu dengan penduduk asli sehingga ramai rakyat memeluk agama Islam.
Pada tahun 1565-1590 Masihi, Raja Goa Tunijallo mendirikan sebuah masjid untuk pedagang Islam itu di sebuah kampong bernama Mangallekana berdekatan kota Makasar/Ujung Pandang (Indonesia). Di dalam Hadiqatul Azhar, Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa Al-Fathani menyebut Islam masuk ke Sulawesi pada tahun 800 Hijrah, dan raja yang pertama Islam bernama Lamadasilah (La Meddusala).
Kalimantan (Indonesia) dikatakan menerima Islam pada abad ke 16M, Raja Banjar yang pertama memeluk agama Islam ialah Raden Samudera yang menukar namanya kepada Sultan Surian Syah selepas memeluk Islam dan akhir pemerintahannya ialah pada tahun 1550 Masihi.
Dikatakan sebagai penolong kanannya dalam pemerintahan ialah bernama Masih. Beliau mengambil tempat di pinggir Bandar. Dari perkataan Bandar, lalu dikenali dengan nama ‘Kerajaan Banjar’ dan lama kelamaan menjadi ‘Bandar Masih’ kerana mengambil sempena nama ‘Masih’ dan kini terkenal dengan nama ‘Banjarmasin’. Tetapi huruf ‘h’ ditukar dengan huruf ‘n’.
Di antara ulama Banjarmasin yang paling terkenal ialah Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari, penyusun kitab Sabilul Muhtadin dan Sheikh Muhammad nafis bin Idris Al-Banjari, penyusun kitab Ad-Durrun Nafis.
Sukadana menerima agama Islam yang dibawa oleh dua mubaligh bernama Sheikh Syamsuddin dan Sheikh Baraun, mubaligh yang membawa surat dari Mekah untuk memberi gelaran Raja Sukadana itu dengan Sultan Aliuddin atau juga digelar dengan nama Sultan Shafiuddin.
Sambas didatangi oleh mubaligh-mubaligh Islam yang paling ramai setelah Portugis menakluk Melaka dan setelah Aceh menakluk Johor. Di antara mubaligh yang sampai sekarang sebagai keramat (disebut keramat Lumbang) bernama Sheikh Abdul Jalil berasal dari Patani.
Ada juga mubaligh berasal dari Filipina, salah seorang keturunannya sebagai ulama besar, iaitu Sheikh Nuruddin kuburnya di Tekarang, Kecamatan Tebas, Sambas (meninggal dunia tahun 1311 Hijrah), Indonesia.
Pengislaman Sulu dilakukan dengan aman, yang datang ke sana adalah seorang mubaligh yang berpengalaman sejak dari Mekah, dan beliau sampai di Sulu pada tahun 1380 Masihi. Nama beliau ialah Syarif Karim Al-Makhdum.
Selepas Syarif Karim Makhdum datang pula Syarif Abu Bakar pada tahun 1450 Masihi. Beliau juga dipercayai seorang mubaligh yang banyak pengalaman dan aktiviti dakwahnya dilakukan sejak dari Melaka, Palembang dan Brunei.
Selain itu yang agung juga namanya dalam pengislaman di Filipina ialah Syarif Kebungsuan. Nama asalnya ialah Syarif Muhammad bin Zainal Abidin yang datang dari negeri Johor. Adapun Syarif Zainal Abidin itu diketahui adalah keturunan Rasulullah yang menyebarkan Islam di Johor.



BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Pernah pada masanya Islam Asia Tenggara tidak dilirik, karena dianggap terlalu sinkretik dan “menyimpang” dari mainstream Islam di Negeri asal kelahirannya.
Namun kemudian ada pergeseran yang signifikan dalam memandang Islam di Asia Tenggara. Sejak era 80an, banyak sarjana yang mulai memandang Islam Asia Tenggara dengan semestinya. Jika dikaitkan dengan kecenderungan akademik global, berkembangnya area studies (studi kewilayahan) memberikan peluang bagi Islam untuk dijadikan bahasan. Selama ini studi keislaman selalu masuk dalam wilayah kajian Timur Tengah (middle Eastern Studies).
Tetapi Islam Asia Tenggara menjadi pusat perhatian, di samping alasan akademis tersebut, juga dikarenakan mulai “dianggapnya” Islam di Asia Tenggara. Bukan saja karena secara jumlah umat Islam di Asia Tenggara adalah jumlah terbesar di dunia, melainkan karena adanya pengakuan akan kekhasan Islam di Asia Tenggara. Perbedaan manefestasi keagamaan di Asia Tenggara dengan yang ada di Timur Tengah tidak lagi disikapi sebagai sebuah “ketidak murnian, tetapi justru kekayaan budaya keislaman”.
Sinkretisme Islam bukanlah hal yang tabu, karena ternyata hal itu juga terjadi di wilayah lain, termasuk apa yang terjadi di Timur Tengah sendiri. Perbedaan manifestasi keagamaan itu seharusnya dilihat sebagai sebuah cara bagaimana umat Islam di wilayah tertentu menerjemahkan Islam sesuai dengan realitas budayanya. Dalam pandangan ini, tulisan Arab Jawi atau pegon sesungguhnya merupakan kekayaan Islam di wilayah Asia Tenggara, karena menggabungkan antara tradisi agama dengan tradisi lokal.
Islam di Asia Tenggara juga dipandang sebagai representasi “lain” yang positif dari wajah Islam yang banyak digambarkan sebagai “penuh kekerasaan dan sangat agresif” yang ada di Timur Tengah. Kemampuan Islam di Asia Tenggara untuk beradaptasi dengan budaya lokal dan dapat menampilkan wajahnya yang ramah dan toleran menjadi penawar bagi potret Islam yang keras dan agresif tersebut. Islam di Asia Tenggara memberikan contoh yang baik bagaimana sebuah agama dapat berkembang dalam masyarakat yang plural dan multi etnis.
B.     saran
Dalam setiap pembuatan karya Ilmiah pasti ada kekurangan karemna tak ada gading yang tak retak, dengan demikan saya sangat menggaharapkan saran dari pembaca.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa, Bandung: CV Rosada, 1987
Azyumardi Azra,. Renaisans Islam Asia Tenggara, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Mei 2000, cet. Ke-2
Hamka, Sejarah Umat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975, cet. Ke-3
 Hamid A. Rabie, Islam Sebagai Kekuatan International, CV. Rosda Bandung 1985
Ash-Shiddieqy, T.M.H. (1971). Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum
Islam. Jakarta : Bulan Bintang.
Amin, Husain Ahmad. 2000.  Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Bandung:
Remaja Rosda Karya
A.Syalabi, 2000, Sejarah dan Kebudayaan Islam III. Jakarta: Al-Husna Zikra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar