Rabu, 20 Juni 2012

Hiwalah




A.    PENGERTIAN
1.      Pengertian Hiwalah
Kata Hawalah, huruf haa’ dibaca fathah atau kadang-kadang dibaca kasrah, berasal dari kata tahwil yang berarti intiqal (pemindahan) atau dari kata ha’aul (perubahan). Orang Arab biasa mengatakan haala ’anil ’ahdi, yaitu berlepas diri dari tanggung jawab. Sedang menurut fuqaha, para pakar fiqih, hawalah adalah pemindahan kewajiban melunasi hutang kepada orang lain.
Hiwalah merupakan pengalihan hutang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Dalam hal ini terjadi perpindahan tanggungan atau hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah ulama, hiwalah adalah pemindahan beban hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan muhal ‘alaih (orang yang berkewajiban membayar hutang).
Secara etimologi Hiwalah bearti pengalihan, pemindahan, perubhan warna kulit, memikul sesuatu diatas pundak. Dan
النقل من محل الى محل
            Pemindahan dari satu tempat ke tempat yang lain.[1]
secara terminologi hiwalah adalah:
نقل المطا لبة من ذمة المدين إلى ذمة الملتزم
Pemindahan kewajiban membayar utang dari orang yang berutang kepada orang yang berutang lainnya[2].
2.               Landasan Syariah
a.           Al-Qur’an
Apabila kamu berutang piutang satu sama lain… untuk waktu tertentu hendaklah kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengerjakannya… maka hendaklah ia menulis dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakannya…” (QS. Al-Baqarah 282)
Semua jenis kredit dalam islam adalah bebas bunga (Allah memperekenankan jual beli dan melarang riba)
Allah menghapus berkah riba dan menambah berkah shodaqoh” (QS. Al-Baqarah 276)
Karena riba adalah anti sosial dan ini benar-benar merupakan pengisapan atas kebutuhan sesama saudara. Itulah sebabnya tercantum dalam kitab suci Al-Quran
 “Dan jika orang itu dalam kesukaran, maka berilah dia tangguhan sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan sebagian atau semua utang itu, lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya
b.            Al-Hadits
Rasulullah bersabda
Barang siapa berutang dengan maksud akan membayarnya kembali, Allah akan membayar atas namaNya, dan barang siapa berutang dengan maksud hendak memboroskannya, Allah akan menghancurkan hidupnya
Abu hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah telah berkata
 “Binatang yang digadaikan boleh dinaiki bila ia digadaikan dengan jumlah yang dikeluarkan untuknya. Dan susu seekor hewan perahan boleh diminum bila digadaikan, dan pengeluarannya akan ditanggung oleh orang yang memiliki hewan itu dan meminum susunya
c.           Kaidah Fiqih
.اَلأَصْلُ فِي الْمُعَامَلاَتِ اْلإِبَاحَةُ إِلاَّ أَنْ يَدُلَّ دَلِيْلٌ عَلَى تَحْرِيْمِهَا
Artinya: Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya.
اَلضَّرَرُ يُزَالُ
Artinya: Bahaya (beban berat) harus dihilangkan
Sedangkan menurut beberapa madzhab yaitu sebagai berikut:
1.            Imam Hanafi.
a.     Pengertian Hiwalah adalah:
نقل المطا لبة من ذمة المديون الى ذمة الملتزم
Memindahkan penagihan penagihan saja dari tanggungan yang satu ke yang lainnya [3].
نقل المطا لبة ونقل الدين معا
Memindahkan penagihan dan hutangnya secara bersamaan.[4]
b.      Dasar Hukum Hiwalah.
Hiwalah sebagai salah satu bentuk katan atau transaksi antar sesame manusia dibenarkan oleh rasulullah saw. melalui sabdanya yang menyatakan:
مطل الغني ظلم وإذااتبع أحدكم على ملئ فا ليتبع (رواه الجمعة)
Artinya:
Memperlambat pembayaran utang yang dilakukan orang kaya merupakan perbuatan zalim jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar utang, maka hendaklah ia beralih. (HR. Al-Jama’ah) [5]
c.       Syarat:
1)      Muhil (Orang yang berhutang)
Berakal dan Baligh
2)      Muhal (Orang yang memberi hutang)
Berakal ,Ridha’ dan Ada ditermpat
3)      Muhal Alih (Orang yang diberi hutang)
Berakal, Baligh dan Ridho’
4)      Muhal bih (Barang yang dihutang)
Muhal harus punya hutang terhadap Muhil, Hutangnya harus jelas danTetap/Pasti
d.      Rukun: Ijab dan Qabul
e.       Macam-macam Hiwalah:
Mazhab Hanafi membagi hiwalah dalam beberapa bagian, ditinjau dari segi objek aqad maka hiwalah dapat dibagi dua:
 Apabila dipindahkan itu merupakan hak menuntut hutang,maka pemindahan itu disebut hiwalah Al haqq (pemindahan hak.)
Apabila dipindahkan itu kewajiban untuk membayar hutang, maka pemindahan itu disebut hiwalah Al-Dain (pemindahan utang)
Ditinjau dari sisi lain hiwalah terbagi dua pula yaitu:
Pemindahan sebagai ganti dari pembayaran hutang pihak pertama kepada pihak kedua yang disebut hiwalah al-muqayyadah (pemindahan bersyarat)
 Pemindahan hutang yang tidak ditegaskan sebagai ganti dari pembayaran  hutang pihak pertama kepada pihak keduayang disebut hiwalahal- muthlaqah )pemindahan mutlak(.
2.            Imam Malik.
a.       Pengertian Hiwalah adalah:
 نقل الدين من ذمة الى ذمة أخرى
Memindahkan hutang dari tanggungan orang lain kepada orang lain dengan hutang yang sama.[6]
b.      .Dasar Hukum Hiwalah.
Hiwalah sebagai salah satu bentuk katan atau transaksi antar sesame manusia dibenarkan oleh rasulullah saw. melalui sabdanya yang menyatakan:
مطل الغني ظلم وإذااتبع أحدكم على ملئ فا ليتبع (رواه الجمعة)
Artinya:
Memperlambat pembayaran utang yang dilakukan orang kaya merupakan perbuatan zalim jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar utang, maka hendaklah ia beralih. (HR. Al-Jama’ah)
c.       Syaratnya:
1.      Muhil dan Muhal harus sama-sama ridho’
2.      Muhal  harus punya hutang terhadap Muhil
3.      Salah satu dari hutang tersebut harus kontan
4.      Hutangnya harus tetap/pasti
5.      Hutangnya harus sama
6.      Hutangnya harus bukan dari hasil menjual makanan[7]
d.      Rukun: Muhil, Muhalbih dan Sighat

3.            Imam Syafii
a.              Pengertian Hiwalah adalah:
نقل الدين من ذمة الى ذمة أخرى
Memindahkan hutang dari tanggungan orang lain kepada orang lain dengan hutang yang sama
b.              Dasar Hukum Hiwalah.
Hiwalah sebagai salah satu bentuk katan atau transaksi antar sesame manusia dibenarkan oleh rasulullah saw. melalui sabdanya yang menyatakan:
مطل الغني ظلم وإذااتبع أحدكم على ملئ فا ليتبع (رواه الجمعة)
Artinya:
Memperlambat pembayaran utang yang dilakukan orang kaya merupakan perbuatan zalim jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar utang, maka hendaklah ia beralih. (HR. Al-Jama’ah)

c.              Syaratnya :
1.      Ridho’nya Muhil
2.      Rido’nya Muhal
3.      Hutangnya harus diketahui jumlahnya
4.      Hutangnya tetap/pasti
5.      Hutangnya harus sama
6.      Hutang dari keduanya tersebut harus berupa sesuatu yang bisa dijual atau diganti dengan benda lain[8]

d.             Rukun :
1)      Muhil
2)      Muhal alaih
3)      Muhal bih
4)      shighat
4.            Imam Hambali.
a.              Pengertian Hiwalah adalah:
نقل الدين من ذمة الى ذمة أخرى
Memindahkan hutang dari tanggungan orang lain kepada orang lain dengan hutang yang sama
b.              Dasar Hukum Hiwalah.
Hiwalah sebagai salah satu bentuk katan atau transaksi antar sesame manusia dibenarkan oleh rasulullah saw. melalui sabdanya yang menyatakan:
مطل الغني ظلم وإذااتبع أحدكم على ملئ فا ليتبع (رواه الجمعة)
Artinya:
Memperlambat pembayaran utang yang dilakukan orang kaya merupakan perbuatan zalim jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar utang, maka hendaklah ia beralih. (HR. Al-Jama’ah)
c.              Syarat :
1)      Hutangnya sama
2)      Harus diketahuui ukurannya
3)      Harus tetap atau pasti
4)      Harus bisa di mengerti
5)      Ridho’nya Muhil [9]

d.             Rukun :
1)      Muhil
2)      Muhal bih
3)      Muhal alaih
4)      shighat

Pada dasarnya dari apa yang di definisikan oleh beberapa madzhab diatas mengandung pengertian yang sama baik secara basa maupun istilah, Hanya  pada Imam Hanafi yang terdapat perbedaan dalam mendefinisikannya. dan dasar hukumnya semuanya sama. Sedangkan macam-macamnya kami hanya menemukan pendapatnya Imam Hanafi. 
3.               Fatwa MUI hiwalah
Seiring dengan berkembangnya institusi keuangan Islam di Indonesia, maka suatu aturan hukum turut pula dikembangkan untuk melegalisasi serta melindungi akad-akad yang sesuai Syari’ah Islam diterapkan dalam Sistem Keuangan Islam di Indonesia. Maka dari itu, Dewan Syari’ah Nasional – Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa No: 12/DSN-MUI/IV/2000 tentang Hawalah disebutkan bahwa pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).
4.                  Berahirnya hiwalah
Akan hawalah akan berakhir apabila terdapat hal-hal sebagai berikut :
a.       Salah satu pihak yang melakukan akan itu memfasakh (membatalkan) akad hawalah
b.      Pihak ketiga (muhal ‘alaih) melunasi hutang yang dialihkan itu pada pihak kedua(muhal).
c.       Apabila pihak kedua (muhal) wafat, sedangkan pihak ketiga (muhal ‘alaih)merupakan ahli waris yang mewarisi harta pihak kedua (muhal).
d.      Pihak kedua (muhal) menghibahkan atau menyedekahkan harta yang merupakan hutang dalam akad hawalah itu kepada pihak ketiga (muhal ‘alaih).
e.       Pihak kedua (muhal) membebaskan pihak ketiga (muhal ‘alaih) dari kewajibannya untuk membayar hutang yang dialihkan itu.
f.       Hak pihak kedua (muhal) menurut mazhab Hanafi, tidak dapat dipenuhi karena attawa yaitu pihak ketiga (muhal ‘alaih) mengalami muflis (bangkrut) atau wafat dalam keadaan muflis atau dalam keadaan tidak ada bukti otentik tentang akad hawalah, pihak ketiga (muhal ‘alaih) mengingkari itu.
g.      mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, selama akad hawalah sudah berlaku tetap, karena syarat yang ditetapkan sudah dipenuhi maka akad hawalah tidak dapat berakhir karena at-tawa.
5.                  Penerapan hawalah
Pada praktiknya akad hawalah umum diterapkan pada lembaga-lembaga keuangan
yang diantaranya adalah pembiayaan pembiayaan factoring dan pembiayaan Letter of
Credit untuk keperluan impor barang.
a)      Penerapan hawalah pada pembiayaan Factoring
Pembiayaan factoring atau anjak piutang merupakan transaksi pembiayaan oleh suatu
lembaga keuangan yang bertindak sebagai (Muhal Alaih) dengan cara mengambil alih
piutang dari penjual/ pemberi jasa (Muhal) atas hutang pembeli / penerima jasa (Muhil).
Pada skema diatas menggambarkan transaksi factoring dengan akad hawalah dengan
penjelasan sebagai berikut :
1)      Kontraktor (Muhil) berhutang kepada supplier material (Muhal) atas pembelian bahan-bahan bangunan.
2)      Muhal mengalihkan piutangnya (atas hutang muhil) kepada lembaga pembiayaan syariah (Muhal Alaih) atas pengetahuan kontraktor (muhil)
3)      Atas pengalihan ini lembaga keuangan syariah membayar sejumlah uang sebesar hutang muhil setelah dikurangi Ujrah.
4)      Pada sa’at jatuh tempo hutang kontraktor (muhil) melakukan pembayaran kepada lembaga keuangan syariah (Muhal)
b)     Penerapan hawalah pada pembiayaan L/C dalam rangka Impor
Pembiayaan dengan akad hawalah pada transaksi L/C dalam rangka impor, diawali
dengan penerbitan L/C dengan akad wakalah atau kafalah dengan skema sebagai berikut:
Akad hawalah dilakukan antara importer (muhil) dan bank syariah (muha ‘alaihl) untuk
mengalihkan hutang importer kepada eksportir (muhal) menjadi hutang importer kepada
bank syariah.


[1] fiqh muamalah. Karangan hendi suhendi  .hlm. 99
[2] fiqh muamalah. Karangan Nasrun Haroen
[3] kitab Fiqh Madahibu al-arbaah. karangan Abdurrahman Al-jaziri. Juz III
[4] kitab Fiqh Madahibu al-arbaah. karangan Abdurrahman Al-jaziri. Juz III
[5] fiqh muamalah. Karangan Nasrun Haroen .hlm 222
[6] kitab al-fiqih, karangan Abdurrahman al-jaziri, juz III. Hlm.211
[7] kitab Fiqh Madahibu al-arbaah. karangan Abdurrahman Al-jaziri. Juz III  
[8] kitab Fiqh Madahibu al-arbaah. karangan Abdurrahman Al-jaziri. Juz III
[9] kitab Fiqh Madahibu al-arbaah. karangan Abdurrahman Al-jaziri. Juz III

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar